
Rintik hujan bernyanyi, menemani keheningan malam yang sepi, beralun merdu membawa rindu yang tak bertepi. Tatkala hujan datang lagi, kian menari kenangan-kenangan dalam sanubari, walaupun sudah bertahun kenangan itu terkubur lama dalam ingatan.
...***...
Ia merapatkan selimut yang membalut tubuh, tidur meringkuk, melingkar seperti ulat kaki seribu saat merasakan suhu udara semakin dingin. Namun, usahanya belum cukup untuk menghangatkan tubuh. Mariana bingkas bangun mencari sesuatu dalam lemari, tetapi, tak ditemukan apa yang ia inginkan.
"Ai, tak suka betul musim hujan," gumamnya. Ia kembali berbaring di sofa, menutup selimut hingga ke kepala. Kenangan tentang Daniel, tiba-tiba datang menyapa, membawa ia kembali pada masa silam. Namun, sebelum ia larut dalam kenangan lama, pandangannya jatuh pada batang tubuh yang terlelap di atas ranjang. Ia kemudian bangun lagi, duduk bersandar menatap Andreas yang terlena dibuai mimpi.
"Kalau tidur berdua, salju turun pun tetap terasa hangat, macam duduk dekat perapian." Mariana terkikik-kikik membayangkan kehangatan Andreas dan ranjangnya.
Ia turun dari sofa, lalu perlahan-lahan, langkah kaki berayun menuju ranjang. Namun, keraguan menjenguk perasaannya. Ia ingat lagi, Mikel pernah mengatakan kalau Andreas takut dengan perempuan. Ia berjalan mondar-mandir di sisi Andreas, sambil menatap wajah tampan yang masih terlelap. Hendak tak hendak, keputusan perlu diambil.
Ia kemudian berjalan ke sisi lain, lalu perlahan-lahan merangkak ke atas ranjang, menempati ruangan yang masih kosong. Tubuh kurusnya masuk ke dalam selimut Andreas. Ia tersengih saat mendapati lelaki itu bertelanjang dada.
'Suami aku, ni, ternyata tidur tak suka pakai baju,' batinnya.
Mariana kemudian berbaring di sebelah Andreas. Mengangkat lengan lelaki itu, lalu diletakan di bawah kepalanya untuk dijadikan bantal.
'Ini seperti dalam film-film. Suamiku, izinkan aku merasakan kehangatan tubuhmu.' Mariana tertawa tanpa suara. Jahat.
Mariana memiringkan tubuh menghadap Andreas, lalu melingkarkan tangan kirinya pada pinggang sang suami. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih laju. Mariana gugup.
'Parah!'
Tangannya yang melingkar di pinggang Andreas dilepaskan kembali. Mariana menatap wajah suaminya. "Selamat tidur suamiku. Semoga mimpi ketemu aku, jangan ketemu Rena," gumamnya perlahan, hampir tak terdengar. Dia tersengih, sambil membuat tanda salib di dahi Andreas. "Tuhan memberkati!"
Mariana kembali berbaring, berbantalkan lengang Andreas, tidur menghadap sang suami.
...***...
__ADS_1
Andreas menggeliat. Lengannya terasa kebas. Dadanya terasa seperti ditindih batu besar. Hidungnya pun terasa gatal seperti ada bulu yang menusuk-nusuk lubang hidungnya.
Achew!
Andreas tiba-tiba bersin. Ia tersentak kaget, saat menyadari helaian rambut panjang menutupi wajahnya. Sebagian lagi menggelitik hidungnya.
"Kyaaa!" Andreas histeris. Ia langsung bangun, menolak beban berat yang menindih tubuhnya.
Mariana kaget. Ia turut menjerit. "Kyaaa!" Tubuhnya langsung digulingkan ke kiri, tetapi, nahas, kepalanya membentur bucu ranjang.
"Aduh!"
"Apa yang kau buat?" Suara Andreas meninggi, bertanya tanpa menghiraukan kesakitan sang istri.
Mariana membetulkan posisi tidurnya. "Tidur, to? Kalau tidak, mau buat apa?"
"Turun sekarang!" perintahnya.
"Tidak bisa! Atau kau mau aku batalkan perjanjian kita?" Tangan diulur, menarik kaki Mariana agar turun dari ranjangnya.
"Aa!" Mariana menjerit, merasakan tubuhnya melayang seperti ditiup angin. Kedua tangannya sontak menarik seprei agar ia tidak jatuh ke lantai. Namun, tetap saja seprei ikut tertarik sehingga terdengar bunyi bedebuk ketika ia jatuh.
"Kau mau bunuh aku?" Mariana naik berang. Matanya melotot menatap Andreas.
"Siapa suruh kau tidur di ranjang tidak bilang aku dulu." Andreas berdiri bercekak pinggang, kemudian beralih merapikan ranjangnya.
Mariana bingkas bangun, mengurut-urut pantatnya yang menampar lantai.
"Kalau aku mati, aku ganti nama kau."
__ADS_1
Andreas berpaling menatap Mariana. "Apa?"
"Duraja. Kau jadi duraja alias Duda Rasa Perjaka. Ha-ha-ha!" Andreas langsung melempar bantal, tetapi gadis itu mengelak sebelum bantal mengenai wajahnya.
...***...
Mariana sibuk membersihkan ruang tamu ketika ekor matanya menangkap sosok Andreas sedang menuruni anak tangga.
"Mikel sudah keluar?"
"Iya," jawabnya tanpa menatap sang suami.
Rintik hujan masih lagi membasahi bumi. Mariana beralih menuju jendela, menutupinya agar udara di dalam rumah tidak terlalu sejuk.
"Tunggu sebentar," katanya, sambil berlalu meninggalkan Andreas di situ.
Tak berselang lama, ia kembali lagi membawa serta sehelai baju hujan berwarna biru laut, lalu menyodorkannya kepada Andreas. Lelaki itu menerimanya dengan senang hati, sambil mengucapkan terima kasih.
Ketika mereka berada di teras rumah, Mariana meraih tangan Andreas lalu mencium punggung tangan suaminya sebelum lelaki itu menunggangi sepeda motor Kawasaki Ninja HR2 miliknya. Andreas tersentak. Kaget dengan tingkah Mariana. Ia serta-merta menarik kembali tangannya dari genggaman Mariana. Wajah Andreas memerah. Malu.
Mariana pula tersenyum sumbing. Suka sekali menggoda Andreas. Ia menyodorkan wajah di hadapan lelaki itu, sambil menunjuk pipi kirinya.
"Untuk apa?" tanya Andreas.
"Doa istri mengiringi langkah suami mencari rezeki. Sebagai gantinya, suami merestui istri untuk jaga rumah, dengan cara ...." Ia menunjuk pipinya. "Cium di sini atau di sini." Kali ini, dahi yang ia tunjuk.
"Mengada-ada saja." Andreas tunjuk muka masam. "Restu suami untuk istri ...." Ia mengelus kepala Mariana. "Jaga dan bersihkan rumah. Jangan biarkan rumah berantakan!" Lalu tersengih seperti kerang busuk.
"Cie, tahulah!" Muncung Mariana bertambah sepuluh sentimeter.
__ADS_1
Andreas terbahak-bahak melihat wajah Mariana yang memburuk. "Aku pergi kerja dulu. Jaga diri, jaga rumah," pesan Andreas, sambil menghidupkan mesin sepeda motornya.
"Iya, kamu juga, hati-hati!" Mariana tersenyum. Tulus.