My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XXX


__ADS_3

Andreas menggeliat, ia terbangun setelah tidur lama. Badannya masih terasa panas, kulitnya pun terlihat berbintik-bintik kemerah-merahan, belum juga hilang.


'Sepertinya aku harus ke klinik. Kalau begini terus, semakin parah nantinya,' batin Andreas.


Ia pun keluar dari kamar, hendak ke kamar mandi. Saat di dapur ia bertembung dengan Tari.


Tari terkejut melihat wajah Andreas. "Pa Ande, sakit?" tanyanya.


Andreas menggeleng. "Agaknya demam," katanya.


"Nanti saya ambilkan obat."


"Tidak usah, Sis. Saya juga mau ke apotek sebentar lagi."


Tari mengangguk. Ada rasa simpati yang menjenguk hatinya saat melihat Andreas. Sedangkan Andreas sudah hilang dalam kamar mandi.


'Apakah banyak makan wasabi bisa buat orang deman?' tanya Tari dalam hati.


Tadi ia tak sempat bertanya pada Mariana tentang wasabi karena kehadiran Mikhael membuat ia lupa segalanya.


Setelah mencuci muka, Andreas kembali ke kamar. Bersiap alakadarnya, lalu berpamitan pada Tari untuk ke apotek sebentar.


Andreas menaiki angkutan menuju ke Apotek Ceria, itu yang dipesan oleh Tari tadi. Katanya, Apotek Ceria lebih murah harga obatnya berbanding apotek lain yang ada di Larantuka.


Sesampainya di sana, ia dilayani oleh seorang perawat lelaki. Setelah mengatakan apa yang terjadi padanya, ia diberikan obat sesuai arahan dokter pemilik apotek tersebut.


Ia disuruh meminum obat sesuai peraturannya 3×1. Andreas mengangguk. Ia menatap obatnya, di sana tertulis Antihistamin Diphenhydramine dan Kortikosteroid.


Dokter menyarankan agar senantiasa membawa obat tersebut ke mana pun ia pergi, demi mencegah kejadian yang tidak diingini. Untung saja tadi ia tidak banyak mengkonsumsi makanan yang Mariana belikan.


Andreas selalu membawa obat tersebut, tetapi, simpannya sudah habis dipakai. Sambil menunggu angkutan di tepi jalan raya, ia membuka ponselnya yang asyik bergetar.

__ADS_1


Ada sepuluh panggilan tidak terjawab dan tiga pesan WhatsApp, dari nomor yang sama Mikel.


Jari telunjuknya terus mengklik pesan masuk, di sana tertulis 'Halo, brother! Kapan pulang? Jangan lama-lama cuti, nanti aku potong gaji kau.'


'Kau di mana? Aku di Larantuka sekarang.'


'Misi kau bagaimana? Aku penasaran ni dengan kakak ipar.'


Andreas berdecak kesal. 'Ini semua gara-gara kau. Kalau tidak, aku takkan tersangkut dengan perjodohan ni.' Hatinya menggerutu.


Di Tempat Lain (dalam Bas)


Mikhael memejamkan mata. Masih terbayang pertemuannya dengan Mariana tadi. Ada sesuatu yang menggangu pikirannya. Banyak pertanyaan yang bermain dalam benaknya, yang belum mendapatkan jawaban.


Mariana gadis manis yang hiperaktif, berbeda karakter dengan wanita pujaannya. Namun, memiliki sejuta pesona.


Mariana nama yang tidak asing, tetapi terlalu umum. Bukankah banyak orang yang memiliki nama serupa?


'Kau di mana? Aku merindukanmu.' Hatinya merintih pilu. Menjerit dalam kerinduan yang tak bertepi.


Di Rumah Mariana.


"Tata!" panggil Tari saat gadis itu hendak memasuki kamar mandi.


Mariana menoleh. Handuk di tangan di gantung di belakang pintu kamar mandi. Niat hendak menutup pintu terhenti, saat tangannya ditarik oleh Tari.


"Kenapa?" tanyanya.


"Dari mana Tata dapat wasabi?"


"Kau ingat tidak, pelanggan kita yang orang Jepang."

__ADS_1


Tari termenung sejenak. Otaknya ligat berpikir. "Ahhh, laki-bini mata sepet itu? Bininya yang pakai anting besar, 'kan?" Mariana mengangguk.


"Pa Ande juga mata sepet, 'kan?"


"Si Tuan Pengecut tu, matanya lebih besar sedikit. Tidak terlalu sepet. Tapi bulu mata dia lentik."


"Wah! Tata ni, ingat semua tentang Pa Ande e?" Tari menyenggol bahu Mariana mulai mengusik.


"Hari-hari lihat muka dia." Mariana duduk di bangku kayu, malas mau mandi awal. Lagipula masih ada waktu, biar dia bersembang sekejap dengan adiknya.


"Kalian mana ketemu tiap hari, bisa dihitung pakai jari berapa kali kalian ketemu." Tari turut duduk di sebelah Mariana.


"Lagipula, setiap kali ketemu kalian berdua seperti singa jantan dan singa betina memperebutkan anak orang, ha-ha-ha!"


"Ihh! Peribahasa apa tu? Daripada rebut anak orang, baik rebut anak sendiri."


"Ooo, jadi Tata Ana mau punya anak sendiri dengan Pa Ande, ya? Cepat sana ajak Pa Ande nikah, biar aku juga punya ponakan," kata Tari.


"Kau, lihat, ni?" Mariana menunjuk penumbuknya, dengan mata melotot tajam memandang Tari.


"Ha-ha-ha!" Segera Tari mengatur langkah seribu memasuki dapur.


"Tata! Mana wasabi?" tanya Tari dari dalam dapur.


Mariana tersenyum penuh makna. "Siap kau!"


**


Bagi yang belum tahu, Ana minta satu perkara saja yang paling mudah, tolong tekan jempol di bawah ya, biar dukungannya bertambah, author pun semangat 🙏


👇👇

__ADS_1


__ADS_2