
Maumere, kota terbesar kedua di NTT setelah kota Kupang yang merupakan ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur. Bus Ago go berhenti di terminal Madawat. Andreas mengajak Mariana turun bersama dengan penumpang lain.
Saat kakinya mencapai pintu bus, matanya menangkap sosok Kak Arnol. Mereka berbalas pandang, tetapi lelaki itu mengalihkan pandangannya, kala Mariana mengedipkan mata nakal. Gadis itu juga sengaja memperlihatkan ponselnya, sekadar memberitahu bahwa rahasia lelaki itu ada dalam tangannya.
Jadi jangan coba-coba mengambil kesempatan pada seseorang. Bukan semua perempuan lemah, yang diam membiarkan maruahnya dinodai.
"Ah, Maumere ... lama sudah kita tak bersua. Apa kabar, Maumere? Aku merindukanmu." Merentangkan kedua tangannya setelah kakinya menginjak tanah, sambil menyedot berbagai jenis gas beracun yang keluar dari cerobong asap kendaraan bermotor.
"Kapan terakhir kita bertemu? Hm ... tiga atau empat tahun lalu. Ah, Maumere ...."
Tingkahnya yang seperti rusa masuk kampung, membuatnya menjadi pusat perhatian bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Andreas merengus tidak suka.
"Sudah, buat malu saja! Ayo, Om Dorus sedang tunggu tu!" Mariana tersengih. Tayang gigi seperti kerang busuk yang tak laku di pasar.
"Siapa?" tanyanya.
Andreas tak menjawab. Dia menarik koper milikinya dan Mariana setelah konjak menurunkannya dari atas bagasi, kemudian berlalu mendekati sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan. Mariana mengekor bersama beberapa kantong plastik dalam jinjingannya.
Mariana menyamakan langkah kaki Andreas. Mereka beriringan.
"Cepat juga kau jalan," kata Andreas.
"Kau tu yang lamban." Andreas mempercepat langkah setelah Mariana mendahuluinya.
"Hei, Kribo! Mau ke mana kau?" teriak Andreas saat menyadari Mariana berbelok arah kiri menuju ke tempat parkiran angkutan.
"Angkutan kota atau desa?" tanya Mariana.
__ADS_1
"Siapa yang naik angkutan?" Andreas meletakkan dua buah koper tersebut di samping sebuah mobil Toyota berwarna hitam.
Andreas menarik napas. Terasa lelah menarik dua buah koper sekaligus, terutama milik Mariana yang seberat seratus kilo gram.
"Kalau tak naik angkut mau naik apa?" Mariana berpatah balik lalu berdiri di hadapan Andreas. Dia melirik sekilas pada pengemudi mobil di sampingnya yang sengaja menurunkan kaca jendela mobil. Pandangan mereka bertemu melalui kaca spion mobil.
'Terasa seperti kenal,' batin Mariana.
"Naik burung," jawab Andreas.
"Kau ada burung?" Andreas diam. Terasa salah bicara. Pikiran mesum Mariana pasti sudah terbang melintasi cakrawala, menembus planet Merkurius yang paling dekat dengan matahari. Sehingga kulit wajah Mariana terlihat memerah akibat bahangnya mentari senja.
"Ah, aku lupa kalau kau memang punya burung. Ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha!" Suara gelak si pengemudi turut terdengar, membuat Andreas merengus tidak suka.
"Lama tidak ketemu, Mariana!" Menanggalkan kaca mata hitam miliknya. Sungguh bergaya bak model profesional Sean O'Pry, model terpanas asal Amerika tersebut.
"Mikhael?" Sudut bibirnya tertarik hingga ke telinga, mempamerkan giginya yang putih bersih.
Andreas mengabaikan mereka berdua. Dia mengangkat koper mereka, menyimpannya di bagian belakang mobil bersama kantong plastik yang berada dalam jinjingan Mariana.
"Mikel, cepat!" perintah Andreas.
"Kribo, apa lagi yang tunggu tu? Ayo naik!"
Mikel melirik Andreas. "Burungnya sudah siap mau terbang," kata Mikel. Sontak membuat Mariana tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ayo masuk!" ajak Mikel, "nanti kita cerita di dalam." Mariana mengangguk.
Andreas lebih dulu masuk ke dalam perut mobil. Melabuhkan tubuhnya di sebelah Mikel yang mengemudi mobil, sedangkan Mariana duduk seorang diri di belakang sebagai penumpang. Toyota hitam mulai bergerak meninggalkan terminal Madawat.
"Bagaimana kalian berdua bisa saling kenal?" tanya Andreas.
"Aku salah satu pelanggan Mariana," jawab Mikel.
"Oh ...." Andreas membisu. Ingin bertanya lagi, tetapi suaranya seakan tersangkut di kerongkongan. Dia duduk bersandar sambil memejamkan mata. Suasana hening seketika.
"Nama kamu Mikel atau Mikhael?" tanya Mariana di antara dendangan lagu 'Peterpan, Menghapus Jejakmu.' Dia berjoget di belakang, sambil ikut bersenandung ria.
"Mikhael. Biar lebih glamour." Mikel turut bersenandung.
'Engkau bukanlah segalanya. Bukan tempat tuk hentikan langkahku. Usai sudah semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu.'
"Virgo lebih glamour," kata Mariana. "Aku paling suka lagu kamu yang judulnya 'Watan Tena.' Walaupun aku tak paham bahasanya, tapi dari lirik dan melodinya itu sungguh menyentuh perasaan." Mikel tersenyum.
"Iya, itu album terakhir aku gabung dalam grup. Lagu itu yang paling tenar."
"Kabar angin tersebar, kalau lagu itu dari kisah nyata vokalisnya ya?"
"Iya, tunangannya tenggelam bersama kapal di Laut Sawu."
"Patut pun, lagunya sangat sedih."
...🎉🎉🎉...
__ADS_1
Maruah artinya kehormatan, harga diri (KBBI)