
Dia termenung menatap telepon umum rumah sakit yang berada dalam genggamannya. Bergenang air mata. Sebak, tetapi tak tumpah. Rasa rindu semakin sesak dalam dada, menghanyutkannya ke dalam duka nestapa. Rindu pada almarhum ibu, rindu pada sahabat, rindu pada si dia yang ditinggalkannya dulu.
Dia melangkah gontai menuju bangku panjang di ruang tunggu Rumah Sakit Mounth Elizabeth. Masih terngiang berita yang dia dengar, bahwa Hendra sudah menikah, sedangkan Mariana akan mengikuti jejaknya beberapa hari lagi. Bagaimanakah dengan dirinya? Apakah si dia masih setia menunggu kepulangannya?
Pertanyaan seperti itu seringkali mengasak pikirannya. Dia menatap dua lembar foto yang selalu dibawanya ke mana-mana. Senyuman hias di bibir kala terkenang akan kenangan indah bersama mereka dahulu. Apakah akan terulang kembali masa-masa indah waktu dahulu? Waktu sudah berlalu, meninggalkan sejuta kenangan pahit manisnya kehidupan, menjadi sejarah yang tak mungkin lagi terulang.
Kini mereka sudah berbeda, masing-masing memiliki kehidupan sendiri. Namun, hubungan persahabatan mereka masih berkekalan. Hanya mereka yang dia punya. Saudara dan sahabat. Mereka selalu ada di kala di susah dan senang. Orang kata, 'saudara belum tentu menjadi teman, tetapi, seorang sahabat boleh menjadi saudara dan teman yang baik.'
Tiga Tahun Lalu
Sepanjang berada di dalam kamar Mariana, dia hanya membisu. Ingin bersuara, bercerita tentang masalah yang dia hadapi, tetapi diurungkannya saat melihat para sahabatnya memiliki kesibukan sendiri. Hendra sedang kasmaran dengan Ita. Asyik berhadapan dengan ponsel Huawei-nya. Sesekali membuat lelucon untuk menghibur hati sahabat yang sedang dirundung duka. Mariana pula asyik berderai air mata. Maklum saja, orang baru putus cinta. Asyik menatap kartu undangan pernikahan Daniel dan Novi yang akan berlangsung dua hari lagi.
Tadi pagi Mariana mendapat undangan tersebut. Diantar langsung oleh Ibu Dita, sekaligus meminta gadis itu menyanyi untuk tetamu pada hari pernikahan anaknya nanti. Memang sahabatnya itu dibayar, tetapi uang bukan pilihan utama, sedangkan dia hanya mampu melihat kuku jarinya. Sesekali menatap ponsel Nokia selebar tiga jari tanpa kamera alias Nokia elut, bahasa orang kampung.
Ponsel Nokia tersebut sengaja dimatikan, takut para rentenir mencium keberadaannya, tetapi, dia juga bimbang sang kekasih akan menghubunginya. Sudah beberapa hari ini dia berlari dari kejaran para rentenir. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah juga. Pukul 20.00 WITA seseorang meneleponnya melalui ponsel Mariana.
Terdengar ancaman dari si pemanggil, jika dia akan mendatangi rumah Mariana untuk mendapatkan uang dari gadis itu atau menjadikan dirinya sebagai pelacur. Pilihan ketiga, mereka akan mendatangi rumah kekasihnya. Ketiga pilihan tersebut bukanlah pilihan yang bijak. Mariana sudah dibebani dengan masalah keluarganya. Dia menjadi tulang punggung untuk menghidupkan keluarganya walaupun gadis itu memiliki toko aksesoris.
Hendak meminta bantuan Hendra, anak itu pun bukanlah berasal dari orang kaya. Dia juga masih menggantung hidup pada kedua orang tuanya. Pilihan ketiga sangat tidak dia inginkan. Dia tidak mau membebankan masalah utangnya pada keluarga sang kekasih. Dia juga tidak ingin keluarga lelaki itu memandang rendah dirinya ataupun menganggapnya sebagai seorang gadis yang mementingkan material keluarga tersebut.
Akhirnya pada malam itu, dia memutuskan untuk meninggalkan semua orang termasuk kekasihnya mengikuti seorang kenalan yang mengajaknya merantau ke Singapura tanpa memberi tahu pada siapa pun. Sebelum ke Singapura, mereka ke Bali, karena agen yang membawa mereka ke sana tinggal di Bali. Sewaktu berada di Bali selama dua tiga hari, dia melihat Mariana juga ada di sana, dan di situlah terakhir kali dia bertemu dengan gadis itu. Tanpa memberi tahu sebab dia di sana.
__ADS_1
"Regina!"
"Yes, Sir," jawabnya. Panggilan itu membawanya kembali ke alam nyata.
"Please take care of grandma!"
"Yes, Sir."
"Thank you."
...***...
"Di sini, Kak. Hati-hati, e!" arah Mariana pada beberapa orang lelaki yang membawa masuk lemari pakaian.
"Kak Ana, pintunya sempit."
"He-he-he! Iyalah, pintunya kekecilan. Jadi, kasih miring dulu." Mariana berjalan di hadapan menggeser sofa ke samping, memberi ruang untuk mereka agar lebih muda melewati pintu masuk.
"Kribo, lemari ini mau letak di mana?" tanya Andreas.
"Letak di sini saja," jawabnya.
__ADS_1
Pagi itu beberapa lelaki datang membawa lemari pakaian pesanan Mariana menggunakan pickup milik kedai. Lemari tersebut sudah dipesannya sejak lama, tetapi baru diantara hari itu.
Setelah siap, Mariana mengajak mereka untuk minum dulu, tetapi mereka menolak karena bukan waktu istirahat. Mereka masih bekerja.
"Lemari baru ni sudah datang, lalu lemari lama tu kau mau buat apa? Kamar kau tidak muat kalau simpan dua lemari." Andreas menilik lemari baru milik Mariana.
"Mungkin dipindahkan ke rumah mama saja. Lemari itu masih bagus, hanya satu kaki saja yang patah."
"Boleh tahan lemari ni." Andreas memberi pujian.
Mariana mengangguk. "Aku pesan sejak bulan Maret, tapi besok mau nikah baru mereka antar." Mariana turut menilik lemari barunya. "Tapi, aku puas hati dengan hasil kerja mereka. Cantik," pujinya.
Andreas mengangguk, menyetujui ucapan Mariana.
"Pukul berapa keluarga dari Maumere datang?" tanya Mariana.
"Mereka sudah datang tadi pukul 8.00. Sekarang mereka ada di rumah om Sipri," jawab Andreas.
Mariana dan Andreas tidak izinkan bertemu sehingga tiba hari pernikahan, yaitu besok, tetapi, karena ada orang yang datang mengantarkan lemari pakaiannya, maka Mariana terpaksa pergi ke rumahnya di Larantuka, lalu bertemu dengan Andreas.
Lelaki itu memilih tinggal di rumah Mariana, sebab dia sudah terbiasa tinggal di sana. Tari yang mengantarkan makanan untuknya dan menyiapkan keperluannya, jika lelaki itu memerlukan sesuatu.
__ADS_1
Setelah selesai menyusun atur lemari dan perabot lain di rumahnya, Mariana berpamitan dengan Andreas untuk kembali ke rumah mama. Andreas juga berpamitan untuk ke rumah Om Sipri. Mariana mengunci pintu rumah, lalu meninggalkan kunci di bawah pot bunga Bougenville, sedangkan Andreas sudah lebih dulu meninggalkan rumah.