
Sorotan lampu dari belakang, membuyarkan kenangan lalu yang datang menyapa. Mariana menepikan sepedanya, menyembunyikannya di balik semak belukar. Ia berjalan menyusuri jalan setapak. Deburan ombak menampar pantai, mengalun merdu menyambut kedatangannya.
Suasana yang gelap-gulita tidak jadi penghalang untuk ia menikmati keindahan pantai. Embusan bayu laut begitu sejuk menusuk kulit. Ia merapatkan sweater yang dipakainya.
Bantuan senter dari ponsel Nokia elut (sebutan orang kampung untuk Nokia tanpa kamera yang lebarnya hanya tiga jari), dia berhati-hati melompat dari satu batu ke batu yang lain. Dalam hitungan sepuluh buah batu, sampailah ia pada lempengan batu paling besar dan lebar, tepat di bawah pohon asam.
Ia berjongkok mengelus permukaan lempengan batu tersebut. Ia memejamkan mata, ingin memutar kembali kenangan lama, di sini, di tempat ini menjadi saksi bisu kasih yang terjalin antara dua insan ciptaan Tuhan.
Ia akui tempat itu sangat indah, apalagi siang hari. Air laut yang jernih, burung-burung camar yang berterbangan bebas mencari mangsa, batu-batu besar menjadi benteng siap menjaga gempuran ombak yang datang menerjang tepian pantai. Ia juga dapat melihat pemandangan di pulau seberang, gunung-gunung, kalau ada teropong dia dapat melihat dengan jelas kapal-kapal yang berlabuh, kendaraan yang lalu-lalang, bahkan aktivitas penduduk di pulau seberang sana.
Daniel tak pernah mencari tempat lain untuk tempat kencan mereka. Tidak seperti pasangan lain, kalau berkencan pasti akan pergi ke tempat wisata seperti Taman Bukit Fatima, atau Pantai Asam Satu, ataupun Taman Wai Plati (Taman Air Panas), dan masih banyak tempat wisata lainnya.
Akan tetapi, Daniel memilih tempat tersebut karena selain pemandangannya yang indah, letaknya juga tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Daniel tidak ingin membawanya ke tempat yang padat dengan pengunjung. Kata Daniel, 'biar tidak ada panahan mata jahat yang mengusik ketenangan mereka.'
Mereka akan menghabiskan waktu berdua di sini, melepas rindu apabila Daniel berlibur. Mereka akan bercerita sambil memancing dan bernyanyi. Daniel bermain gitar, Mariana yang bernyanyi.
Mariana menyulu senter dari HP Nokia elut ke arah permukaan batu tersebut. Masih terlukis di sana nama mereka Daniel 💖 MARIANA 19 Januari 20xx. Hari mereka berikrar menjadi pasangan kekasih saat kencan pertama mereka. Mariana mengukirnya menggunakan pisau ukir hadiah dari almarhum sahabatnya Dewi.
"Ana!"
"Ya!" **j**awab Mariana.
"Aku sudah gila." Mariana tertawa.
"Aku tergila-gilakan kamu."
"Ana!"
"Hmm!"
"Aku cinta kamu!"
Senyum. "Aku juga," jawab Mariana malu-malu.
"Ana!"
__ADS_1
"Hmm. Apa lagi?"
"Kamu mampu melahirkan anak berapa orang?"
"Ih, kau ini. Kenapa kamu tanya begitu?" Mariana memukul lengan Daniel.
"Karena aku ingin punya banyak anak. Banyak anak, banyak rezeki. Jadi, kamu harus siap sedia setelah jadi istri aku nanti," jawab Daniel sambil tertawa.
"Anak laki-laki pertama, kita kasih nama Dana, perempuan nama Dina."
"Ih, kenapa mesti Dana? Kamu pikir ini projek pembangunankah mesti pakai Dana?" Mariana membantah.
"Dana \= Daniel Ana; Dina \= Daniel Ana," jawabnya sambil tertawa. Suka. Gembira hatinya mengusik Mariana.
Begitulah, setiap kali bertemu selalu pembicaraan mereka berakhir tentang proyek Dana dan Dina. Mariana membuka mata, senyuman terukir di bibirnya. Kenangan itu takkan pernah ia lupakan.
"Dan, kenapa begitu sulit melupakan kamu?"
Pertemuannya dengan Daniel secara tidak sengaja di bengkel kayu membangkit kembali kenangan lama. Semakin dia berusaha melupakan Daniel, bayangan Daniel semakin menjelma. Banyak laki-laki yang mendekatinya, tetapi, semua Mariana tolak, dengan alasan dia tunangan orang.
Pertemuan yang tidak disengaja itu, membakar api cemburu dalam hati Ibu Novi. Tari menjadi sasaran dan pertengkaran tidak dapat dielakkan. Dia tahu kejadian itu dari seorang pelanggannya. Tari tidak mau bercerita, mungkin tidak ingin membebankan pikiran kakaknya.
...***...
Rumah terlihat begitu sepi, semua orang sedang terlelap dibuai mimpi. Mariana menolak sepedanya ke belakang, melalui halaman samping rumahnya. Ia melirik sejenak kamar miliknya yang sekarang ditempati Andreas. Cahaya lampu neon menerobos keluar melalui celah dinding rumahnya.
"Hmm!" Mariana merengus. "Ini orang perlu ceramah dulu. Dia pikir bayar listrik pakai daunkah?" Ia kembali menolak sepedanya.
Halaman belakang sangat gelap. Pohon mangga yang berdiri kokoh, menghalangi cahaya dari lampu neon rumah tetangga.
'Tari tidak buka lampu kamar mandi dan dapur, di sini jadi sangat gelap,' batin Mariana.
Bantuan dari senter Nokia, Mariana meletakkan sepedanya dekat tiang jemuran baju. Menguncinya menggunakan rantai dan gembok kunci. Takut sungguh kalau orang curi. Walaupun sepeda butut, tetapi, itu kendaraan satu-satunya yang menemani ia saban hari.
Setelah semuanya siap, Mariana masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang, karena dia memiliki kunci cadangan. Melewati ruang makan, lalu ke ruang tamu. Seperti biasa dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
__ADS_1
"Aduh, apa ini?" rintihnya. Terasa pantat dan belakangnya sakit tertusuk benda keras. Tangannya meraba-raba dalam kegelapan.
"Kelereng? Ih, ini pasti kerja si Natan! Zaman sekarang, ternyata masih ada anak-anak yang main kelereng. Aku pikir mereka sibuk main HP dan PS," gumamnya. Tangannya sibuk mengumpulkan kelereng yang bertebaran di atas sofa. Ada dua puluh biji kelereng, lalu memasukkannya ke dalam kaleng biskuit yang disimpan di atas lemari dekat televisi.
'Ahh, jadi teringat masa kecil dulu, sibuk main kelereng dengan anak lelaki, main tembak-tembakan, main gasing, kalau dengan perempuan main tali merdeka, main rumah-rumahan dari tanah. Yang paling lucu, gendong batu merah sebagai bayi karena tidak ada boneka. Bawa batu merah pergi posyandu, teman perempuan lain lakon sebagai bidan. Ah, mereka semua sudah menikah, sudah punya anak. Tidak perlu lagi bawa batu merah pergi posyandu,' Mariana tersenyum. Karena terlalu sibuk main gasing dengan teman-teman lelaki, nenek pernah ikat dia di bawah pohon mete.
Mariana kembali merebahkan tubuhnya, tetapi, kali ini suara Tari terngiang di telinganya.
'Kakak! Jangan tidur di sofa lagi! Sekarang bukan kita saja tinggal di rumah ini, ada orang lain juga. Apalagi lelaki. Bukan tetamu saja yang mesti jaga sikap, tapi tuan rumah juga mesti jaga sikap.'
"Ih, Tari ni suka sindir aku," gerutunya.
Dia bangun menuju ke kamar, membaringkan tubuhnya di sana. Namun ia tidak bisa terlelap. Sudah beberapa kali dia mengubah posisi tidurnya, sampai ia bosan sendiri.
Mariana bangun menuju ke kamar mandi. Sampai di depan pintu menuju dapur, dia menekan saklar lampu kamar mandi, tetapi lampu neonnya tidak menyala. Dia beralih mencari lilin dalam laci lemari di ruang makan. Didapatinya sebatang lilin yang hanya sepanjang hari kelingkingnya.
Mariana menggunakan korek api, untuk menyalakan lilin tersebut, lalu membawanya ke kamar mandi. Mengguyur tubuh di pagi buta, membuat tubuh Mariana terasa segar seketika.
Selesai mandi, lilin pun habis terbakar. Mariana membiasakan matanya memandang dalam gelap. Setelah memakai pakaian, Mariana membuka pintu, lalu berjalan keluar.
"Aduh!" Mariana tersandung batu. Keseimbangan tubuhnya goyah, hampir saja ia terjerembap menyembah bumi. Namun, nahas baginya. Secara tidak sengaja tangan kanannya menarik tali perangkap yang dia pasang.
Byuuurr!
"Ahh, sial."
***
NB
Nokia elut : sebutan orang kampung untuk Nokia
tanpa kamera yang lebarnya hanya
tiga jari.
__ADS_1
Elut : batu pengasah pisau dan parang.