
"Gado-gado? Kenapa kebanyakan laki-laki yang aku kenal suka makan gado-gado ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Bapa (Ayah) suka makan gado-gado, Agus juga, Daniel, lalu sekarang si Tuan Pengecut."
"Huh! Isinya cuma sayur, apa yang enak? Kalau makan daging panggang ... ah! Ngiler aku."
Mariana tak mau berpikir banyak, pandangannya beralih pada uang kertas dalam genggamannya. Senyuman semakin melebar. Terima upah setelah lelah bekerja, bermandikan keringat bermain kucing-kucingan bersama si Tuan Pengecut.
"Tak sia-sia dahi aku benjol." Ia merogoh saku tas, lalu dikeluarkannya sekeping amplop.
"Tiga ratus ribu. Wah! Lima ratus. Jackpooot!" teriaknya kegirangan.
Dia tahu uang tiga ratus ribu itu, bayaran kost dari Andreas. Tari sudah menceritakan semua.
"Murah hatinya dia," ucapnya.
Mariana tak tahu. Uang dua ratus ribu pemberian Andreas itu, sebagai ucapan terima kasih untuk Tari. Karena Tari selalu menyediakan kebutuhannya. Makan-minum, pakaian dan lain sebagainya.
Walaupun sudah membayar biaya sewa kamar, namun Andreas tetap merasa segan. Tari bukan pembantu rumah ataupun pelayannya. Dia juga tidak biasa dilayani. Sejak masuk seminari dia diajar untuk melayani bukan dilayani.
Sebelum itu, Andreas memberikannya langsung pada Tari, namun adik Mariana itu menolak. Maka Andreas memberikannya pada Mariana dengan cara yang berbeda.
Ting ting ting!
Bunyi klakson si roda dua mengejutkan mariana.
"Mau pergi mana, Ana?" tanya si penunggang roda dua.
"Ah, Kak Toni, bikin kaget saja!"
"Kau asyik mengelamun, makanya tidak sadar aku datang."
"Tolong antar aku ke kelap, Kak. Hampir jam delapan, ni. Aku sudah terlambat." Tanpa menunggu persetujuan Toni, Mariana sudah pun menunggang di belakangnya.Toni kemudian melajukan motor Honda EX5nya.
Sedangkan di rumah, Andreas sibuk membantu Tari mengemasi ruang tamu.
__ADS_1
...***...
Selama lima belas jam berlayar menyeberangi laut dari Pelabuhan Bolok Kupang, akhirnya Kapal Roro Fery berhasil berlabuh di dermaga Larantuka pada hari Minggu tepat pukul 12.00 WITA.
Sambil berdesak-desakan di antara para penumpang Kapal Roro Fery yang berpusu-pusu ingin turun dari kapal, seorang pria tampan menarik kopernya keluar dari kawasan pelabuhan.
Seharusnya ia bisa menaiki Kapal Bukit Siguntang dari Kupang terus ke Maumere, tetapi, kapal tersebut telah berlayar pada hari Jumat. Sedangkan pekerjaannya baru selesai petang kemarin.
Jadi, akhirnya ia memutuskan untuk menaiki Kapal Roro Fery yang bersandar di Pelabuhan Larantuka. Dari Larantuka dia akan menaiki bas menuju ke Maumere.
Langkah kakinya terus berayun menuju jalan raya (jalan utama). Menunggu selama beberapa menit kemudian, ia menghentikan sebuah angkutan kota menuju ke pusat kota yaitu Pasar Inpres Larantuka, yang menjadi pusat perbelanjaan masyarakat kabupaten Flores Timur, NTT.
Setelah puas membeli buah tangan untuk orang di rumah karena selama dua minggu berada di Kupang, ia tidak berkesempatan untuk berbelanja.
Ia mencari tempat duduk untuk beristirahat sebentar, sambil meneguk air Aqua.
Pandangannya mengitari sekeliling melihat pengunjung yang beragam. Dari segi rupa, warna kulit, tinggi badan, bahasa, cara bergaya seperti pakaian, rambut, makeup, dan lain sebagainya.
Namun, dia lebih tertarik pada sekumpulan anak-anak remaja, yang sedang duduk berkumpul di sebelahnya. Mungkin mereka pelajar SMA karena hari Minggu jadi mereka tidak memakai pakaian seragam. Namun, dilihat dari segi rupa dan perawakan, mereka adalah anak-anak berusia 16, 17 atau 18 tahun.
Mereka berjumlah sepuluh orang, empat perempuan dan enam lelaki. Yang membuat dia tertarik adalah, anak patung yang digantung pada ritsleting tas ransel mereka.
"Dek, bisa kakak lihat patungnya?" Ia memanggil seorang gadis manis bertudung kelabu yang lewat di depannya. Kebetulan gadis tersebut juga memiliki patung yang sama.
"Bisa, Kak." Gadis itu lalu melepaskan patung tersebut dari pengaitnya.
Bentuk patung tersebut berupa seorang gadis yang sedang berpose di depan kamera, dengan bibir muncung seperti mulut itik. Ia tersenyum memandang sang gadis. Gadis itu tersipu malu.
"Di mana kamu beli ini, Dek?"
"Di toko cendramata MARIANA BLING BLING, Kak."
"Tokonya di mana?" tanyanya sambil mengembalikan patung tersebut.
"Tokonya ada di jalan XXX. Kakak naik angkot turun di depan pertamina. Kemudian di belakang pertamina itu tokonya Kak Mariana."
__ADS_1
"Oo, oke!"
"Atau kakak cari di google maps. Tokonya tidak jauh dari sini, Kak."
"Terima kasih, Dek!"
Gadis itu berpikir sejenak lalu berkata, "Mari ikut saya, Kak!" ajak gadis tersebut.
Seperti kerbau dicucuk hidung, dia mengambil barang-barangnya lalu mengikuti langkah gadis tersebut yang kemudian diketahui namanya, Fatimah.
Fatimah menyuruhnya menaiki angkot yang bernama 'GELORA.'
"Kak! Nanti turunkan kakak ini di depan pertamina. Dia mau ke tokonya Kak Mariana," pesan Fatimah pada sang sopir angkot GELORA.
"Oke," jawab sang sopir.
Fatimah juga berpesan pada kodekturnya. Orang NTT selalu sebut kondektur dengan sebutan KONJAK.
***
Getaran audio lagu dolo-dolo 'Tega Cinta Nona Yang Manis' yang diputar oleh sang sopir membuat jantung penumpang angkutan GELORA turut bergelora. Kepala dan badan pun ikut bergoyang. Seandainya mereka di luar angkutan, pastinya para penumpang tersebut sudah berdiri membentuk lingkaran sambil berjoget dan berpantun bersama, tetapi, karena mereka berada dalam angkutan, terpaksalah kepala dan badan saja yang bergoyang, mulut komat-kamit ikut bernyanyi. Begitu juga dengan Mikel.
Namun, salah satu penumpang dalam angkutan tersebut sepertinya kurang senang dengan lagu yang diputar bang sopir.
"Bro, ganti musik! Ingin dengar lagu yang asli. Ini musiknya sudah campur. Terlalu sering dengar. Sesekali putar yang asli, to, Bang, biar kita nostalgia ke masa lalu, masa muda dulu."
"Aduh, Kaka. Sekarang so tahun berapa, masa putar yang asli. Orang mau dengar yang remix begini, Kaka, e!" protes seorang gadis muda yang duduk berhadapan dengan Mikel.
"Lagu, ni, memang mengingatkan kita waktu kecil. So berapa tahun, e? Ah, waktu berlalu begitu cepat!" Penumpang yang lain berkomentar.
"Kak Pit, putar yang versi lama, Kak! Ikut kata si abang ganteng ini," pinta penumpang lain.
Wajah gadis manis yang duduk di hadapan Mikel, cemberut tidak suka. "Versi lama terlalu slow," katanya, "orang mau yang remix begini baru panas kalau buat joget."
Tak lama kemudian, terdengar lagu dolo 'Tega Cinta Nona Yang Manis' versi lama beralun merdu.
__ADS_1
"Ini baru best," kata penumpang tadi. Mikel hanya mesem lihat mereka berdebat tanpa menyampuk sepatah kata pun.
Tak terasa angkutan GELORA sudah berhenti di tepi jalan. "Bang, sudah sampai," kata sang konjak, sambil mengulurkan tangan meminta tambang angkutan.