My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XI


__ADS_3

"Dan!" panggilnya tanpa menoleh. Pandangannya lurus memandang ke kegelapan.


"Begitu hinakah pelacur dalam pandangan masyarakat?" Daniel menoleh mendengar pertanyaan yang diutarakan Mariana. Ada kesedihan dalam nada bicaranya. Hening. Daniel kembali memandang ke depan. Dia menjawab perlahan.


"Definisi pelacur setiap orang berbeda. Begitu juga dengan pandangannya. Daripada sebut pelacur, lebih sopan kalau disebut PSK (Pekerja **** Komersial) atau WTS (Wanita Tuna Susila)." Mariana diam menyimak.


"Dalam kehidupan masyarakat, PKS dipandang negatif dan sering dianggap sampah masyarakat, nista, dan hina. Ada pula pihak yang menganggap pelacur sebagai sesuatu kejahatan yang dibutuhkan (evil necessity).


Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual demi mencegah tindak pemerkosaan. Salah seorang yang mengemukakan pendapat seperti ini adalah seorang filsuf dan teolog bernama Augustinus dari Hippo.


Beliau mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat selokan yang menyalurkan air yang buruk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.


Pandangan negatif terhadap PKS seringkali didasarkan pada standar ganda, karena pada umumnya pelanggan tidak dikenai stigma demikian. Ini jelas saja pelacur adalah golongan kelas bawah yang ingin mengubah kasta melalui jalan pintas.


Penyair W.S.Rendra pernah menulis dua buah puisi tentang pelacur yang lebih netral dalam 'Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta!' *dan satu puisi lagi 'Nyanyian Angsa'. Beliau melukiskan Maria Zaitun** seorang pelacur yang justru menjadi kekasih Tuhan yang dikontraskannya dengan kaum agamawan yang menjauhkan diri daripadanya," jelas Daniel panjang lebar*.


Angin malam berpuput lembut membuai wajah dua sejoli dalam hening, dalam lamunan yang berkelana entah ke mana.


"Dan, apakah kamu malu aku kerja di kelab?" tanya Mariana. Daniel menoleh. Pandangan mereka bertemu. Dengan bantuan lampu jalan, dia menatap dalam manik hitam milik Mariana.Tangannya membelai lembut rambut Mariana.


"Aku ingin jawaban yang jujur," pinta Mariana.


Daniel mengangguk. "Aku malu, Ana. Saat orang tanya. 'Pacar kau kerja apa?' aku takkan bilang kamu kerja di kelab malam. Tapi aku sangat berharap kalau kamu berhenti kerja di kelab saja dan fokus pada toko kamu."


"Tapi di sanalah kita dipertemukan." Mariana menyampuk. Daniel mengangguk lagi.

__ADS_1


"Itu sebabnya aku masih bersyukur, kamu tidak menjadi salah satu dari PKS tersebut." Mariana tersenyum.


"Kalau kamu suka sekali menyanyi, aku rekomen kamu ke JEBI STUDIO. Ada teman aku kerja di sana."


Mariana menggeleng. Abang Budi juga pernah menyarankannya untuk bergabung bersama para penyanyi Flores, tetapi, dia menolak dengan nada bergurau mengatakan, 'kalau muka aku muncul di DVD, pergi mana-mana mesti tutup muka macam artis-artis. Orang asyik minta tanda tangan sana, tanda tangan sini. Lagipun kalau aku berhenti nanti, siapa lagi yang sudi menghibur para bujang tua yang haus belaian?'


Bujang tua yang dimaksud adalah para bapak-bapak yang berjiwa muda, datang ke kelab mencari hiburan. Mereka selalu mendeklarasi diri 'TUA DI RUMAH, MUDA DI JALAN.'


Mariana kembali pandang ke depan, dia mulai bercerita.


"Mama saya, bukan anak dara waktu menikah dengan alm. bapa (bapak/ayah). Mama menikah muda umur delapan belas tahun, dengan pemuda di kampungnya. Setahun menikah, suaminya pergi merantau ke Sabah. Baru beberapa bulan kerja, suaminya mati ditabrak truk. Itu berita yang dikirim oleh orang-orang yang pergi bersama suaminya. Tiga tahun menjanda, hidup menelan hinaan dan sindiran orang kampung sebagai janda penggoda suami orang, perempuan gatal, sundal, entah apalagi sebutannya.


Hingga satu hari mama sendiri berada di kebun. Kebun memang jauh dari kampung. Orang kampung bercocok tanam di atas bukit. Kamu tahukan letak kota kita ini di bawah kaki Gunung Mandiri?" tanyanya pada Daniel. Daniel mengangguk. Dia kembali bercerita.


Tiba-tiba tangan mama ditarik. Mama berontak, tapi kalah kuat dengan tenaga lelaki. Mama diseret ke tengah kebun, agar terhindar dari kecurigaan orang yang melintasi tempat itu. Mama dilecehkan, dia dipaksa. Lelaki itu merobek pakaian mama. Mama menangis minta dilepaskan.


'Alah Vina, aku tahu kamu juga ingin. Tidak usah munafik. Sudah lama aku ingin kamu. Kamu terlalu cantik' seperti itu kata lelaki bangsat. Mama berontak, dia berusaha melepaskan diri. Saat tubuh atasnya tidak lagi dibalut benang, laki-laki yang hendak memerkosa mama tiba-tiba tersungkur. Pingsan. Rupanya dia dipukul tepat di tengkuk dari belakang. Alm bapa muncul sebagai hero untuk selamatkan mama." Mariana tersenyum mengingat kisah itu. Kisah yang saban hari alm. bapa ceritakan. Daniel juga ikut tersenyum, walaupun masih diam mendengar.


"Sejak itu mereka jadi kekasih. Nenek aku menentang, tidak mau punya menantu janda. Bapa bilang, 'perawan atau janda, dua-duanya sama-sama wanita. Kalau sudah tinggal sebumbung, nenek akan tahu sifat sebenar mama.'


Walaupun terpaksa, nenek terima juga permintaan anak semata wayangnya. Selama tinggal serumah, nenek berubah. Nenek menentang habis-habisan orang kampung yang bicara buruk tentang mama. Mama jadi wanita paling bahagia, disayang suami dan mertua. Dia tidak peduli lagi cemoohan orang kampung. Seperti pepatah Melayu bilang, 'mulut tempayan boleh ditutup, tapi bagaimana mau tutup mulut manusia?'


Walaupun wajah mama rusak karena selamatkan aku, orang kampung bilang, **i**tu kutukan karena wajah mama meresahkan para istri."Mariana diam. Sinar matanya meredup. Dia menoleh pada Daniel, mereka kembali berpandangan dalam kebisuan.


"Kamu ingat Gina!" Daniel mengangguk. Mariana menghela napas.

__ADS_1


"Ibunya Gina, bekas pelacur." Dia kembali bercerita.


"Setelah bertemu lelaki baik, dia berhenti melacur. Seperti biasa kisah cinta pelacur, ditentang oleh keluarga pihak lelaki. Nasib ibunya Gina, tidak sebaik nasib mama saya. Setelah melahirkan Gina, keluarga ayah Gina ingin merampas hak asuh Gina dari ibunya. Dengan alasan, tanta Serli bekas pelacur, tidak layak mengasuh Gina.


Tanta Serli membawa lari Gina. Hidup pontang-panting, asyik berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Terakhir tanta Serli memilih menetap di Kupang, membesarkan Gina. Orang bilang dosa ema/bapa (ibu/bapak), anak yang tanggung.


Gina mendapat pelecehan dari gurunya. Untung saja belum sampai tahap tembus perawan. Masuk SMA, Gina pindah ke kota kita (kota Larantuka), dia satu sekolah dengan aku. Entah dari mana anak-anak tahu masa lalu tanta Serli, Gina kena getahnya.


Di sekolah dia dikucilkan, dirisak oleh anak-anak. Dengan sedikit usaha Gina sudi menerima uluran persahabatan dari aku dan Hendra. Sejak itu tidak ada lagi yang berani buli Gina.


Gina menjadi sahabat yang paling aku sayang, melebihi Hendra dan alm Dewi. Gina bercita-cita menjadi advokad, membela kaum lemah seperti mama, ibunya dan dirinya sendiri. Dia ingin membuktikan kalau anak pelacur pun bisa sukses seperti anak orang lain. Dengan usahanya dia tidak perlu bayar SPP, bahkan dia dapat beasiswa saat masuk kuliah." Mariana mengakhiri ceritanya.


Daniel melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 3.00 WITA. Diam-diam dia sudah menguap beberapa kali.


Mariana diam. Masih banyak lagi kisah yang ingin ia ceritakan. Seperti Kak Lia dan Fitri, menjadi mangsa penipuan, dijual oleh kekasih mereka sendiri. Atau seperti Sinta dan Leni dijual oleh ayah mereka untuk melunasi utang. Kalau Citra, dia menjadi PSK untuk menyekolahkan anaknya. Kelab Mawar Merah, para PSK memiliki kisah masing-masing.


Pada mata masyarakat, pelacur hanya menjadi sampah masyarakat. Namun, tiada siapa yang tahu kisah perjuangan mereka meniti arus kehidupan. Tiada siapa yang tahu derita di balik senyum yang merekah.


Mariana, dia tidak ingin menjadi pahlawan seperti alm bapa, atau mempunyai cita-cita mulia seperti Gina, tetapi, dia hanya ingin menjadi sahabat, kakak atau adik. Walaupun tak dapat membantu, cukup sekadar menjadi pendengar. Berdiri di tengah mereka menjadi penghibur bagi hati yang lara.


Pertemuannya dengan Abang Budi membuka pintu untuk dia, menapaki tangga menuju puncak impian, walaupun dunia membenci dan mencemooh, hatinya takkan goyah.


Dia ingat lagi pesan mama, 'lakukan apa pun mengikuti kata hatimu, tetapi jangan sampai orang lain merasa dirugikan.'


Sejauh ini siapa yang pernah ia rugikan? Dan?

__ADS_1


__ADS_2