
Sejak mereka masuk ke dalam mobil, mulutnya tak berhenti bercakap. Becok bagai murai dicabut ekornya. Dia asyik bertanya.
"Benarkah kau tidak pernah tonton BF?" tanya Mariana.
"Kau mau aku jawab berapa kali? Aku tidak pernah tonton."
"Aku masih tidak percaya. Jadi, saat kita pergi tangkap hantu waktu itu menjadi yang pertama kalinya?"
"Hmm!"
"Ha-ha-ha! Patut pun kau sampai tutup mata, seperti aku waktu SD dulu, asik tutup mata kalau lihat orang ciuman dalam TV, tapi aku masih intip juga lewat celah jari tangan." Mariana tertawa, sambil tangannya memukul lengan kiri Andreas.
"Hei, tangan kalau itu kalau bergerak lagi, akan kugigit nanti."
"Tapi benar o ... aku masih tidak percaya. Berarti kau ini masih perjaka?"
"Iyalah," jawab Andreas bangga. Pandangannya lurus menatap jalan raya.
"Wow, luar biasa. Padahal zaman sekarang anak SD saja ada yang sudah hilang terunanya."
"Berarti dunia kau sempit. Kau sampai tidak tahu, kalau masih banyak lelaki yang pandai menjaga diri dan tahan godaan."
"Ah, masa. Aku masih tidak percaya."
"Kau ni dari tadi asyik tidak percaya. Kalau tidak percaya ya sudah. Aku tidak paksa kau untuk percaya. Aku juga mulai meragukan kau ni, masih suci atau tidak. Apalagi kau, 'kan kerja di kelap malam?"
"Kau mau bukti?"
"Bukti apa?"
"Bukti kalau aku ni masih suci atau tidak. Tapi tunggu malper kita nanti, sprei putih akan jadi saksi." Dia mengedipkan mata.
"Jangan pikir yang bukan-bukan, ya?"
Mariana tersenyum jahil. Ide-ide nakal mulai berlegar dalam mindanya. Dia memutarkan tubuh duduk menghadap Andreas. Matanya membulat besar, kuku-kuku tajam siap mencabik mangsa yang ada di hadapannya. Dijilatnya bibir penuh menggoda dan nafsu.
"Kau tahu, aku akan jadi liar kalau tak tahan lagi. Aku tak dapat tahan diri lihat mangsa yang begitu menggoda. Siap-siap wahai Tuan Perjaka, aku akan perkosa kau."
Break!
Bunyi roda mobil menggesek lantai aspal terdengar nyaring di telinga. Andreas mendadak menekan rem, membuat gadis itu terhuyung ke depan. Untung saja dia memakai sabuk pengaman. Mobil berhenti tiba-tiba.
Andreas memandang wajah Mariana. "Keluar sekarang!" perintah Andreas. Wajahnya merah padam menahan amarah. Gejolak perasaan amarah tak dapat dikendalikan lagi.
"Hah?" Mulut Mariana terbuka lebar.
"Keluar!" teriak Andreas.
Mariana merasa bingung. 'Kenapa dengan dia,' batinnya bertanya.
Namun, tangan tetap bergerak membuka sabuk pengaman, lalu keluar dari dalam mobil. Setelah Mariana keluar, Andreas terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Mariana di tengah malam yang sepi. Gadis itu hanya berdiri memandang mobil Andreas sehingga hilang dari pandangannya ditelan oleh kegelapan malam.
__ADS_1
"Aish, kenapa dengan dia? Aku salah bicarakah?" Dia menendang batu kerikil di bawah kakinya.
"Ish, dasar si perjaka ting-ting!"
Dia berdiri bingung menentukan langkah selanjutnya. Dibantu lampu jalan, dia mengitari pandangan menatap sekeliling di mana dia berada sekarang. Diliriknya sekilas jam pada layar ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WITA.
"Tempat ini sepertinya tidak jauh dari rumah." Langkah kaki kemudian berayun mengikuti arah mobil Andreas menghilang tadi. Sambil bersenandung kecil, dia berpikir penyebab Andreas tiba-tiba marah.
Tanpa terasa sudah jauh dia berjalan kaki, hingga dia melihat tulisan 'SELAMAT DATANG DI DESA NELLE URUNG.' Rasa syukur dipanjatkan kepada Sang Ilahi. Dia kemudian mencari rumah Om Alo, tetapi dia bingung lorong mana yang harus dia lewati. Namun, kaki terus berayun, hingga akhirnya dia bertemu dengan sekumpulan pemuda sedang duduk tongkrong di perempatan jalan.
Para pemuda mulai bersiul-siul saat melihat dia mendekati mereka.
"Hai, cantik, kenalan dulu." Seorang pemuda berjalan mendekatinya. Warna kulitnya gelap. Orang kata, hitam manis, dengan senyuman yang cukup menawan.
"Mau ke mana, Sayang?" Seorang lagi datang mendekat. Warna kulitnya lebih cerah. Mereka terlihat muda, kira-kira umur mereka awal 20-an. Tak jauh beda dengannya.
"Hai, salam kenal juga," balasnya, "apakah kalian tahu letak rumah Om Alo?" tanyanya.
"Om Alo yang mana?" tanya lelaki yang berwarna kulit cerah. Sedangkan si hitam manis hanya melihat dia dari atas ke bawah, dari bawah ke atas.
Dia kemudian berkata, "Kakak tetamu di rumah Om Alo?" Mariana mengangguk.
"Rumahnya tidak jauh dari sini. Mari, saya antar!" ajak pemuda itu.
"Kami antar Kakak ini dulu," pamit mereka pada teman-temannya.
"Iya, tapi jangan kau ambil kesempatan!" teriak teman-teman mereka sambil tertawa. Mereka pun berlalu dari situ. Kedua pemuda tersebut memperkenalkan diri sebagai Samuel, si hitam manis dan Tokan, si warna kulit cerah. Mereka mengantar Mariana sampai di halaman rumah Om Alo.
"Kemarin saya lihat Kakak bermain dengan Titin. Jadi, saya tahu Kakak tetamu di sini."
"Oh, iyakah?" Samuel mengangguk.
Mereka akhirnya berpamitan pulang, setelah Mariana mengucapkan terima kasih.
...***...
Saat hendak memasuki ruangan tamu, langkah kakinya terhenti di depan pintu.
"Kalau kamu tak bisa jaga dia sekarang, bagaimana ke depannya nanti?" Dia mematung mendengar suara keras Om Alo.
'Apakah si perjaka itu sedang dihadapkan ke sidang pengadilan?' batinnya bertanya. Kakinya masih kaku di depan pintu.
'Aduh, dia seperti penjahat yang melakukan pembunuhan bersiri saja!' Suara gelaknya menggema dalam hati.
"Dia itu tanggung jawab kamu, walaupun kalian belum resmi jadi suami-istri. Namun sebagai seorang lelaki, jangan jadi pengecut. Tunjukkan sikap sebagai lelaki sejati."
'Wah, dapat ceramah percuma. Bagus juga tu, biar sekalian cuci otaknya.' Dia berdiri memeluk tubuh.
'Hmm, tinggal menunggu palu diketuk. Hukuman dijatuhkan.'
"Kalau terjadi sesuatu pada calon menantu saya, siap engkau!"
__ADS_1
'1, 2, 3 ....'
"Pergi cari dia!"
'Aduh, mau sembunyi di mana ni?' Liar anak matanya melilau mencari tempat persembunyian.
'Biar dia kepenatan mencari nanti.' Dia berjalan ke belakang lemari dekat televisi. Mengintip sebentar, apakah ruangannya cukup menyembunyikan tubuhnya ataupun tidak.
Namun tiba-tiba ....
"Apa kau buat di situ?" Suara Andreas mengejutkannya.
'Gagal sudah mau kerjakan dia.'
"Tahu juga jalan pulang, ya," kata Andreas, "baguslah, aku tak perlu susah-susah cari kau." Mariana hanya tersengih.
"Ayah panggil." Andreas kemudian berlalu meninggalkannya. Dia pun kemudian mengatur langkah mengekori lelaki itu.
"Anak, kamu tidak apa-apa?" tanya Ayah khawatir.
"Iya, Om," jawabnya.
Om Alo tersenyum. "Duduklah!" pintanya.
Dia mengambil tempat duduk di sebelah Andreas, duduk diam menghadap Om Alo.
"Pasangan kekasih kalau bertengkar itu perkara biasa. Lidah saja boleh tergigit, apalagi manusia yang punya akal pikiran. Punya pendapat yang berbeda. Punya karakter yang berbeda, tetapi coba disatukan untuk saling melengkapi. Setiap masalah bisa diselesaikan dengan pikiran yang dingin.
Jangan ikut amarah! Jangan ikut perasaan! Pepatah orang dulu-dulu bilang, ikut hati mati, ikut rasa binasa. Jadi, lebih baik ikut pikiran yang jernih. Pikir dulu sebelum bertindak. Pikir dulu sebelum buat keputusan."
Andreas semakin menunduk. Dia melirik sekilas Mariana yang duduk di sebelahnya. Rasa bersalah menjenguk jiwa, menyesali tindakannya meninggalkan gadis itu tadi.
"Kalau ikut hati, ikut amarah, semua akan hancur. Tak perlu ambil contoh jauh-jauh." Suara Om Alo terdengar lirih.
"Ikutkan amarah dan perasaanlah, rumah tangga ayah runtuh. Gereja yang coba ayah bina, roboh karena terlalu ikutkan amarah dan perasaan. Akibatnya, Andreas dan Mikel yang kena getahnya. Itu semua karena keegoisan orang dewasa."
Om Alo mendongak menatap langit-langit rumah. Cahaya matanya terlihat redup. Pandangannya menerawang, mengingat kembali masa lalu yang kelam. Dia kemudian berdiri, mendekati pasangan sejoli di hadapannya.
Ditepuknya perlahan pundak keduanya, lalu berkata, "Kalian berdua bukan anak kecil lagi. Sudah besar panjang. Sudah tahu membedakan mana yang baik dan buruk. Jadi ayah tak perlu nasehat panjang lebar." Om Alo diam sebentar, lalu mengusap puncak kepala Mariana.
"Besok Ana mau pulang ke Larantuka, 'kan?" Mariana mengangguk.
"Istirahatlah lebih awal. Besok Ande antar ke stasiun bus."
🌷🌷🌷🌷🌷
NB: Becok
Becok bagaikan murai dicabut ekornya artinya orang yang tidak berhenti berbicara.
__ADS_1