My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXI


__ADS_3

"Kepala kau ni berat sekali," kata Andreas, sambil menolak kepala Mariana yang disandarkan pada bahunya.


Terik mentari membakar bumi, turut menghanguskan hati Andreas karena ulah Mariana.


"Ai ... kepala aku ni berat tak sampai satu kilo, tapi kau sudah tak mampu pikul. Bagaimana dengan cinta aku yang beratnya berton-ton ni?"


Mama mengulum senyum mendengar ucapan Mariana. Ia menjengukan kepala mengintip sebentar dua sejoli yang duduk di depan teras rumahnya. Ia menggelengkan kepala, saat melihat anak gadisnya itu kembali menyandarkan kepala pada bahu Andreas.


Sudah lebih dua puluh menit ia duduk di balik pintu memebelakangi mereka, sambil menyulam taplak meja. Namun, pasangan itu langsung tak menyadari kehadirannya. Andreas berdiri, sambil mengangkat kursi plastik yang didudukinya, saat kepala Mariana disandarkan pada bahunya.


"Mau ke mana, Tuan Perjaka?" Mariana turut berdiri, menarik salah satu ujung kaki kursi. Maka, terjadilah tarik-menarik di antara keduanya. Masing-masing mengadu kekuatan.


"Kribo, lepaskan!"


"Tidak," kata Mariana, sambil menjulurkan lidah. Tangan kirinya memeluk tiang rumah, tangan kanan pula menarik kaki kursi.


Andreas juga tak mau kalah. Maruah menjadi taruhan. Ia tidak mau kalah lagi pada seorang perempuan. Semangat juangnya membara dalam diri mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai seorang lelaki.


Saat kemenangan hampir berpihak pada Andreas, tiba-tiba Mariana melepaskan tangan kanannya membuat keseimbangan Andreas goyah. Lelaki itu terjungkal ke belakang bersama kursi yang ditariknya. Pantat dan punggungnya langsung menampar lantai. Wajah Andreas merah padam menahan geram, malu sungguh dirinya. Untung di sekitar situ tak ada yang melihat. Mereka juga belum menyadari kehadiran mama di sana.


"Maaf."


Mariana langsung bergerak cepat menolong Andreas. Namun, terlalu gopoh-gapah, Mariana tersandung kaki kursi membuat gadis itu turut tersungkur di sebelah Andreas. Niat hati hendak memarahi Mariana diurungkan, saat gadis itu mendongakkan kepala, memperlihatkan benjol sebesar telur ayam kampung menghiasi dahinya.


"Ha-ha-ha!" Andreas terbahak-bahak. Mariana tayang gigi, meringis menahan sakit.


Mama yang sedang mengintai hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka. Ia berdiri, berjalan mendekati keduanya lalu duduk di sebelah Mariana. Mama melepaskan sanggul rambutnya membiarkan rambut panjang yang sudah mulai beruban itu terurai melepasi bahu.

__ADS_1


Ia mengambil ujung rambutnya, ditiupnya sebentar guna menghangatkan rambut tersebut, lalu ditekankannya pada dahi Mariana yang benjol. Mariana langsung menjerit. Diremasnya tangan Andreas sekuat tenaga guna menyalurkan rasa sakit yang ia tahan.


"Aduh, sakit, Ma! Aku hampir terkencing."


Mama tak menjawab. Ia melakukannya beberapa kali sampai benjol itu mengecil dan kembali rata. Hanya saja dahi Mariana masih terlihat merah kehitaman.


"Nanti gosok pakai minyak urut," pesan mama lalu kembali ke dalam rumah.


Mereka berpandangan. "Mama kau dari tadi ada di sana?" tanya Andreas tanpa suara.


Mariana mengedik bahu. "Mungkin," jawabnya juga tanpa suara.


Mereka lalu tertawa bersama.


Tak lama kemudian, suara Tari mengejutkan mereka. Sambil mendaki anak tangga, adik Mariana itu menggerutu, "Panas sekali hari ini padahal baru kemarin hujan."


Ia mengipas wajah yang berkeringat menggunakan sebuah buku kecil.


Dahinya berkerut saat menapak kakinya pada tangga terakhir, melihat calon pasangan pengantin tersebut duduk di atas lantai, sedangkan kursi plastik yang mereka duduki sudah terbalik dan berada jauh dari posisi mereka berdua.


"Pasti bertengkar lagi, ni," katanya setelah tak ada yang menjawab.


"Kami tak bertengkar. Betul, to, Sayang?" Mariana menoleh pada Andreas. Lelaki itu menganggukkan kepalanya cepat.


Tari tak berkata apa-apa lagi. Ia meletakan sebuah buku besar setebal Alkitab dan sebuah buku kecil yang tadi digunakannya untuk mengipasi wajahnya.


"Untuk apa, ni?" tanya Mariana saat melihat buku Mazmur Tanggapan yang Tari letakan di atas pahanya bersama buku Panduan Nikah Katolik yang tertinggal di gereja tadi.

__ADS_1


"Hari Minggu nanti Abang Ande bawa bacaan pertama dan kedua. Itu pesan om Teus, Ketua Dewan Stasi kita. Tata, kamu nyanyi Mazmur. Lihat minggu ke XXVIII." Tari menjelaskan.


"Buku panduan tu, tadi kau lupa di gereja. Untung om Teus yang jumpa." Mariana mengangguk.


"Tuan Perjaka!" panggil Mariana, "kau sudah hafal janji pernikahan kita?"


Andreas meluruskan kaki membetulkan posisi duduknya. "Nanti romo Wens tanya, jawab saja ... ya, saya berjanji, ya, saya bersedia," katanya, sambil mengulum senyum.


"Muka Abang Ande berseri-seri, pasti sudah tidak sabar tunggu hari-H ni, e." Tari duduk di sebelah Mariana mulai mengusik Andreas.


"Ai ... hanya itu saja?" tanya Mariana, sambil membuka buku panduan halaman demi halaman.


Tari merampas buku yang dipegang Mariana. "Tuan Perjaka Andreas, bersediakah saudara menikahi si Kribo Mariana, berjanji sehidup semati, selalu bersama dalam suka dan duka, dalam untung dan malang?"


"Saya tidak bersedia." Mariana yang menjawab. Suaranya terdengar lantang.


Waktu di sekitar mereka seolah berhenti, saat Mariana memberikan jawabannya. Mama yang sedang menyulam, menghentikan kegiatannya. Tari langsung mematung. Andreas terus menoleh. Jantungnya tiba-tiba berdegup laju.


"Kalau sehidup ... aku mau, tapi kalau semati ... tidak mau. Kalau semati tu, selalu berakhir pada kecelakaan." Mariana tersengih melihat wajah kelat Andreas.


"Tuan Perjaka, demi cintaku padamu yang beratnya berton-ton ni, biar aku yang mati dulu, e." Andreas tersedak ludahnya.


Tuk!


Tari mengetuk kepala Mariana.


Tiba-tiba Andreas berdiri, hendak berlalu dari situ.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Mariana.


"Mau cari es batu. Dengar ungkapan cinta kau tu buat aku makin kepanasan."


__ADS_2