
"No (panggilan untuk laki-laki)!" Tari memanggil Fendi yang sedang membaringkan tubuh Noel putra keduanya yang terlelap di atas ranjang.
"Hmm!"
"Tadi aku bertengkar dengan Novi istri kak Dan."
"Tahu," jawab Fendi singkat, "tapi kenapa Ina ( panggilan untuk perempuan ) bertengkar dengan ibu Novi?"
"Biasa, dia kutuk tata Ana. Dia itu guru, tapi sikapnya tak mencerminkan langsung kalau dia tu guru." Tari membaringkan tubuhnya di samping Noel. "Herankan?" sambungnya lagi.
"Aku curiga dia pasang spy. Masa dia tahu tata Ana ketemu kak Dan di bengkel kayu?"
Setelah membaringkan Noel dan memakaikan selimut, Fendi menuju ke kursi, duduk di sana menghadap buku latihan murid-muridnya. Namun telinganya tetap setia mendengar.
"Mereka bukannya sengaja ketemu, hanya kebetulan. Aku lihat kak Dan tu te bahagia, e.. Cintanya hanya buat tata Ana."
"Mereka tu saling mencintai, tapi apa boleh buat, ortu kak Dan yang menentang." Tari bangun, dia duduk bersimpuh, diliriknya Natan dan Noel yang sudah terlelap dibuai mimpi. Sungguh damai.
"Ortu mana yang mau menantu wanita penghibu." Dia tertawa sumbang. Terasa pedih hatinya bila terkenang kisah cinta sang kakak tersayang.
"Punya anak calon dokter." Dia masih berceloteh.
"Memiliki masa depan cerah, tapi jatuh cinta dengan perempuan murahan, bergaul dengan pelacur." Dia menepuk-nepuk lengan Noel yang menggeliat mencari posisi yang nyaman.
"Itu hanya pandangan orang lua." Fendi menyampuk. "Tapi kita tahu seperti apa kakak ipar yang sebenar," lanjutnya lagi. Tari mengesat mutiara jernih yang membasahi pipinya.
"Tadi aku sempat tanya pak Ande, ternyata dia belum beristri, dia juga belum punya kekasih." Tari bersuara.
"Jadi ada udang dibalik mie, e?" tanya Fendi.
Tari terkekeh. "Hmm, aku harap mereka berjodoh."
"Tapi kakak ipar sudah bertunang," sanggah Fendi.
"Tunang apa, mereka bahkan tidak pernah ketemu, keluarga lelaki pun te pernah datang pinang tata Ana. Jadi pertunangan ini te serius, olok-olok jo."
"Hmm!" Fendi mengangguk. "Bagaimana ya kalau dulu kakak ipar berhasil kawin lari mo kak Dan?" Tanya nya.
"Buruk," jawab Tari. "Ortu kak Dan takkan lepaskan tata Ana. Sekarang saja masih belum. Asyik bicara buruk tentang dia, apalagi berhasil jadi menantu. Tata Ana akan jadi bulan-bulanan."
"Mereka tu keluarga berpendidikan, tidak mungkin mereka memperlakukan kakak ipar dengan buruk." Fendi berpendapat.
"Hanya om Lukas yang baik dengan tata Ana, yang lain tu ... ai, te mau bahas lagi. Yang penting sekarang mereka sudah pisah. Ti-tik... Kak Dan juga sudah beristri. Mereka sudah jadi orang asing kalau bertemu.
Aku tu cuma berharap tata Ana cepat dapat jodoh, punya anak, dan te perlu pikir tentang masa lalunya lagi." Setelah menyelesaikan kalimatnya dia kembali berbaring di samping Noel.
"Lalu, bagaimana dengan kita, Ina?" Suara Fendi tepat berada di tepi telinganya karena dia berbaring dengan posisi miring menghadap Noel.
"Bagaimana, apa?"
__ADS_1
"Kasih adik perempuan buat Natan."
"Ai, nakal!" Tari tertawa.
...***...
Dert .... dert .... dert
Getaran ponsel di atas meja mengundang Andreas yang baru pulang dari joging untuk segera menghampirinya. Ponsel Huawei ukuran lima inci itu terus bergetar, terpampang jelas nama ayah di sana.
"Salom, Ayah!"
"Salom," jawab ayah, "*b*agaimana kabar?"
"Baik, Ayah!"
"Kerja?"
"Oke! Semua baik."
"Sudah ketemu dia?" tanya Ayah.
"Belum."
"Belum ketemu atau kau memang tidak cari?" Suara ayah sedikit meninggi.
"Bagaimana mau cari, kalau foto dan nomor telepon pun tak punya, alamatnya juga tidak tahu?"
"Banyak orang punya nama Mariana."
"Dia punya cincin pemberian ayah."
"Itu tidak cukup untuk dijadikan petunjuk."
"Ayah tidak mau tahu. Kau segera cari dia." Andreas menghela napas panjang. Suasana hening seketika.
"Iya, Ayah," jawab Andreas. Hening.
"Bagaimana kalau ketemu nanti, ternyata dia sudah menikah?" tanyanya. Ayah tak menjawab.
"Bagaimana kalau ...?"
"Ayah yakin dia belum berkeluarga, kalau sudah berarti dia bukan jodoh kamu." Andreas diam, tetapi hatinya sungguh berharap kalau wanita pilihan ayahnya itu sudah bersuami.
"Ayah mau tutup, jaga diri di situ."
"Baik, ayah."
Tut tut tut!
__ADS_1
Menandakan panggilan sudah terputus. Telepon diletakkan kembali di atas meja, lalu berjalan mendekati ranjang, kemudian duduk di sana. Dia termenung sejenak. Mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Isi kepalanya berserabut penuh masalah.
"Argh! Kalau kau ada di sini semua ini takkan terjadi, Rena! Di mana kau?" Dia menghempaskan tubuhnya ke belakang. Pandangannya menerawang menatap langit-langit kamar.
Senyuman ibu, tatapan mata ibu, sentuhan lembut tangan ibu mengusap kepalanya, terasa begitu nyata. Dia memejamkan mata ingin merasakan sentuhan tangan ibu lebih lama lagi. Tangannya diulurkan mau menyentuh tangan ibu, ingin membuktikan kalau ini nyata. Namun embusan angin mendorong ibu menjauh ... semakin menjauh, menjadi titik kemudian hilang ditelan cahaya putih.
Perlahan bayangan Rena menjelma, mengusik hati yang lama merana, memberikan kehangatan penuh makna dalam sanubari kasih nan suci.
Rena! Rena!
...***...
TIGA TAHUN LALU
"Mana big boss kau," tanya Andreas pada Mikel. Pagi itu Mikel mengajaknya ke satu tempat.
"Masuk RuS (Rumah Sakit)," jawab Mikel asal. Big boss yang dimaksud adalah motor Yamaha Y2F R154T 155cc kebanggaan Mikel.
"Kita pakai motor kau." Mikel memberi usul. "Ada kejutan," katanya saat mereka berada di halaman rumah. Angin lembut menyapu dedaunan yang gugur, menghasilkan melodi yang merdu menampar gendang telinganya.
"Kejutan apa?" tanya Andreas.
"Kalau aku kasih tahu sekarang, bukan kejutan lagi, oi."
Andreas mengeluarkan Kawasaki Ninja H2R miliknya. "Let's go."
"Aku yang bawa." Mikel mengambil alih motor dari tangan Andreas.
Tak perlu waktu lama Kawasaki Ninja sudah membelah jalan raya di tengah keramaian kota Maumere, melewati bangunan-bangunan, rumah-rumah penduduk, toko-toko dan hutan belantara menuju ke arah barat daya. Kini mereka sudah berada di kawasan sejauh 43 km dari ibukota kabupaten Sikka. Desa Paga yang merupakan ibukota kec. Paga, kab. Sikka, NTT.
Mikel mengeluarkan selembar foto, kemudian menunjukkannya pada Andreas.
"Aku pernah lihat orang yang mirip ibu di desa ini beberapa minggu yang lalu," katanya sambil memberhentikan Kawasaki Ninja di tepi jalan masuk desa Paga.
"Dari mana kau dapat foto ni?" tanya Andreas.
"Aku ambil saat ayah membakar semua foto ibu," jawab Mikel.
Mereka kembali melajukan Kawasaki dengan perlahan sambil bertanya pada orang kampung yang mereka temui. Selama sehari penuh itu mereka tidak mendapatkan hasil. Tiada seorang pun yang mengenal ibu Andreas.
Menjelang sore, dengan perasaan kecewa mereka kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang melewati kec. Mego sebelum masuk ke pusat ibukota, mereka singgah mencari warung yang masih buka karena seharian mereka belum mengisi perut.
"Maaf," ucap Mikel.
"Tidak apa," jawab Andreas.
Setelah makan, mereka melalui lorong sempit menuju ke Pertamina karena jaraknya lebih dekat. Mikel menolak motor karena kehabisan bensin.
Jarak sepuluh meter dari pandangan mereka, Mikel melihat seorang pria kurus mungkin berusia tiga puluh tahun, sedang celingak-celinguk di tepi sebuah rumah usang berdinding papan. Sungguh mencurigakan.
__ADS_1
Setelah orang itu pergi, Mikel dan Andreas mendekati rumah tersebut, meletakkan motor di tepi jalan. Pintu rumah itu ternyata terkunci saat Andreas coba menolak daun pintu tersebut, sedangkan Mikel coba mengintip melalui celah papan rumah tersebut.
Mikel berjalan ke arah jendela bagian barat, mengambil sebatang kayu lalu mencungkil daun jendela tersebut. Setelah berhasil dicungkil Mikel mengintip ke dalam. Matanya terbelalak, terasa pedih hatinya melihat seseorang terbaring dengan posisi miring di atas lantai kamar, dengan tangan dan kaki terikat.