My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXX


__ADS_3

Kedua mempelai, para saksi dan imam menandatangani berkas-berkas perkawinan di meja yang khusus disediakan di hadapan umat. Namun bukan pada meja altar, sambil diiringi lagu 'Aku Ingin'.


Setelah selesai, beberapa orang kenalan mulai berkerumun menyalami pasangan yang berbahagia tersebut. Andreas sudah mulai berkeringat dingin, gemetar saat coba bersalaman dengan perempuan. Mariana pula asyik berkepit di lengan Andreas. Senyuman pun tak lekang dari bibirnya. Melihat Andreas yang kurang nyaman bila berdepan dengan perempuan, Mariana mulai mengusir teman-teman sekampungnya, membawa Andreas menjauhi kerumunan.


Datang pula seorang wanita setengah baya menutup kepalanya menggunakan selendang dan topeng muka. Hanya terlihat matanya, mendekati mereka. Ingin bersalaman dengan Andreas, tetapi Mariana maju ke depan menghalangi langkah wanita itu, lalu memeluknya. Andreas kemudian berlalu dari situ meninggalkan mereka.


"Maaf, Tanta, suami saya merasa kurang nyaman bila berdepan dengan wanita," bisik Mariana.


Wanita itu mengangguk, lalu membalas pelukan Mariana. Mereka berpelukan agak lama. Wanita itu yang lebih dulu meleraikan pelukan mereka, menyeluk tas yang menggantung pada bahu kirinya, mengambil sesuatu yang dibalut dengan kain merah.


Mariana terpegun saat melihat isi bungkusan tersebut. Sepasang gelang giok hijau, sepasang sarung bantal, selimut dan seprei. Sarung bantal, selimut dan seprei berwarna merah muda. Bagian tengah terdapat sulaman sepasang itik mandarin yang sedang berenang di dalam kolam yang dihiasi dengan ratusan bunga teratai dan pohon catalpa. Sangat cantik. Bentuk sulaman yang dijahit dengan tangan sendiri bukan menggunakan mesin.


Gadis itu terkesima saat wanita tersebut meraih tangannya, memakaikannya gelang giok tersebut.


"Selamat pengantin baru, semoga bahagia!" Suaranya lembut, sambil membelai rambut Mariana.


Ia lalu tersenyum. "Cantik," puji wanita itu. Sesekali anak matanya melirik Andreas yang berdiri bersama para sahabat dan keluarga lainnya.


"Tolong jaga dia!" pesannya sebelum berlalu pergi. Saat itu Om Alo menghampiri Mariana, mengajaknya untuk pulang ke rumah pesta.

__ADS_1


Mariana tak sempat mencegahnya. 'Mungkin dia salah seorang kerabat si Tuan Perjaka,' batinnya.


Telinga Andreas terasa panas mendengar ucapan selamat dari para sahabatnya.


"Akhirnya temen aku yang seorang ini tidak sendiri lagi. Sekarang kalau makan, boleh juga suap-suapan, tak perlu ikat perut karena ada tukang masak, tidur ada yang temankan. Selalu bahagia ya, Bro! Semoga cepet punya momongan biar aku punya keponakan, he-he-he!" Itu ucapan selamat dari Paul.


Giliran si Plontos Tomas. "Happy wedding, Bro! Buat aku, dua keponakan cukup. Satu cewek, satu cowok. Tapi kalau mau, bisa lebih. Orang bilang, banyak anak banyak rezeki." Andreas memukul pundak Tomas.


Lelaki itu terkekeh, kemudian berbisik, "Tidak usah takut, kau pasti bisa taklukan si Kribo kau, tu."


Ben menarik Tomas menjauh. "Giliran aku." Lalu memeluk Andreas. "Selamat menikah, Sob! Orang bilang nikah itu seperti film drama. Semoga lebih banyak adegan komedi dan romantisnya daripada adegan melow, he-he-he." Andreas hanya tanyang gigi. Namun, dia tahu maksud ucapan selamat sahabatnya. Tersirat pesan berupa nasihat untuknya.


"Pakai seprei putih, besok tukar merah. Ha-ha-ha." Tomas terbahak-bahak mengusik Andreas.


Wajah Andreas memerah. Malu sungguh. Kalau boleh, dia ingin bersembunyi saja. Dalam kebahagiaan yang menyelimuti mereka, wajah Rena terbayang di pelupuk matanya.


'Di manakah dia?' batin Andreas.


...***...

__ADS_1


Musik yang diputar oleh DJ begitu memekakkan telinga bahkan sampai bergetar tanah yang dipijak. Ibu-ibu yang bekerja di belakang dapur pula sibuk bersenda gurau, sambil tangan lincah mengiris daging. Bapak-bapak juga sibuk menyembelih bintang. Suara binatang yang disembelih begitu menyayat hati. Natan yang bermain di dekat tempat persembelihan, menangis histeris saat melihat seorang bapak menikam perut babi menggunakan tombak. Itu juga berlaku pada Andreas subuh tadi. Lelaki itu muntah saat melihat darah, sewaktu mereka membelah, mengeluarkan isi perut bintang tersebut.


Agar tidak terjadi batu sandungan untuk saudara, kerabat yang beragama Islam, tempat masak babi dan kambing dipisahkan. Hidangan daging kambing, Fitri yang mengurusnya, di dapur maupun di tenda. Agar terjamin kehalalannya. Dia dibantu oleh teman-teman dari kelab malam.


Dalam rumah utama pula, kerabat dan sanak saudara jauh, dari kampung sebelah sudah mulai berdatangan. Sama-sama bergotong royong mempersiapkan pesta, membantu memasak nasi, menyiapkan hidangan di tenda dan sebagainya. Pukul 12.00 WITA, rombongan pengantin sampai di tenda.


Andreas dan Mariana ditemani keluarga inti mulai menyalami saudara, kerabat memohon berkat. Beberapa orang yang masih bersaudara dengan pasangan tersebut meneteskan air mata. Fendi, Fitri, Abang Budi, Hendra, menangis saat Mariana menyalami mereka. Begitu pun dengan keluarga dari pihak Andreas. Mereka juga turut meneteskan air mata, terutama, Tanta Ima, Susi dan Tantri.


Saat Mariana menyalami Nenek Barek, orang tua itu menangis, sambil menyebut nama almarhum anak lelakinya, bapak Mariana dan Agus, adik Mariana yang tak dapat pulang. Membuat semua orang yang mendengar, turut merasakan kesedihan. Gadis itu melirik suaminya. Pandangan mereka bertemu. Dilihatnya lelaki itu pun sembab matanya.


Pada hari yang berbahagia itu, masih terasa kekosongan dan sepi yang memenuhi relung hati mereka. Mariana tak memiliki ayah, sedangkan Andreas tak memiliki ibu.


Ketika mereka menyalami Om Mias, lelaki paruh baya itu berpesan, "Anak, harta sangat penting dalam membangun rumah tangga, tetapi ia bukanlah yang utama, melainkan kebahagiaan yang hakiki. Hidup sederhana, penuh cinta kasih, saling menghormati, dan ketenangan hati itu sudah melebihi materi di dunia ini."


Begitu pun saat mereka menyalami Om Alo untuk mendapatkan restu, walaupun di gereja tadi mereka sudah mendapatkannya, ayah Andreas itu kembali berpesan, "Jangan pernah sakiti hati perempuan, istri kamu. Baik dengan ucapan maupun tindakan. Ingatlah luka hati akibat ucapan sama dalamnya dengan luka fisik akibat tindakan kekerasan. Jika itu terjadi maka, sepanjang hidupmu tak akan termaafkan olehnya. Jadikan pernikahan ayah dan ibu sebagai contoh.


Jika, kalian menghadapi kesulitan-kesulitan, Mintalah Tuhan untuk selalu mendampingi kalian berdua sehingga selamat mengarungi bahtera sampai kematian yang menjemput."


Om Alo mengusap punggung Andreas. Nasihat itu memang ditujukan untuk anak lelakinya.

__ADS_1


__ADS_2