My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab II


__ADS_3

Hai.. ketemu lagi... Ana sarankan untuk baca pelan-pelan jangan loncat, biar mengerti jalan ceritanya... Oke??? Selamat membaca


______


Pasar Inpres Larantuka merupakan salah satu tempat menjadi pusat perbelanjaan masyarakat kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur yang berasal dari berbagai daerah, dari desa maupun kota. Ada juga yang berasal dari luar provinsi NTT, misalnya dari pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi dan lain sebagainya.


Kedatangan mereka merupakan suatu keuntungan bagi masyarakat setempat, karena kebanyakan dari mereka membuka usaha seperti restoran, butik pakaian, aksesoris, dan lain sebagainya. Hal ini memberi peluang bagi masyarakat tempatan untuk belajar, bekerja sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat di sana.


Ada di antara mereka yang memilih menetap, bahkan ada juga yang bertemu jodoh dengan gadis-gadis ataupun pemuda-pemuda di sana. Jangan pikir gadis dan pemuda NTT tidak ada yang cantik dan tampan.. Huhh banyak ooo.


Biarpun rambut keriting, biarpun kulit hitam hmm, kebanyakan orang NTT warna kulitnya coklat gelap, tetapi manis senyummu manis wajahmu tak jenuh dipandang.


🎡🎢 Hitam manis hitam manis oh hitam manis.


pandang tak jenuh paras wajahmu pandang


tak jenuh paras wajahmu 🎢🎡


waawww ha-ha-ha


Kedatangan mereka bukan saja membawa kebaikan, tetapi juga keburukannya. Namun semua itu tergantung kepada masing-masing individu itu sendiri untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


Di kalangan manusia yang berpusu-pusu, berdesak-desakan dan berlomba-lomba untuk meningkatkan taraf hidup masing-masing, ada seorang gadis manis yang duduk di atas bangku panjang yang terbuat dari pasir dan semen, yang disediakan oleh pemerintah bagi kemudahan para pengunjung Pasar Inpres Larantuka, setelah lelah berkeliling membeli barang kebutuhan harian, ataupun bagi penjaja dari kampung setelah menjual hasil kebun mereka dibawah terik matahari.


Mariana menatap lesu betisnya yang terluka hasil gigitan anjing hitam tadi. Sesekali dia meringis kesakitan, saat ia membalut kakinya menggunakan sehelai kain dari celana miliknya yang sengaja dirobek. 'Aku harus segera ke klinik untuk mendapatkan vaksin, takut kalau anjing itu berpenyakit,' bisik hatinya.


Ini merupakan kedua kalinya dia digigit anjing. Pertama kali dia digigit anjing rabies yang hampir meragut nyawanya, saat dia berusia sepuluh tahun.

__ADS_1


Itulah sebabnya dia sering kali ketakutan apabila bertemu dengan bintang tersebut.


'Bagaimana keadaannya ya? Apakah dia baik-baik saja?' bisik Mariana ketika dia teringat dengan lelaki yang menolongnya tadi.


"Bau apa ini? Busuk sekali," bisik seorang wanita kepada teman disebelahnya, sambil mengendus-endus mencari penyebab udara disekitar mereka tercemar.


Ini orang hidung anjing juga rupanya. Mariana tersadar dari lamunannya. Aish, malunya. Segera dia mengangkat tubuhnya meninggalkan tempat tersebut.


"Itu Mariana," kata mereka kepada sesama sendiri, mungkin pelanggannya atau orang-orang dari kampung halamannya.


"Anak itu, pasti dia mandi di dalam kolam ikan, ha-ha-ha," yang lain turut mengusik.


Diantara mereka ada yang menutup hidung, saat Mariana melewati mereka. Mariana hanya memekakkan saja telinga. Mencium aroma badannya membuat dia sendiri juga merasa jijik hueekk. 'Lelaki itu pasti marah besar,' batin Mariana.


...***...


"Ana! Kau pakai parfum apa, Ana? Harumnya," ucap Toni sang tukang ojek saat Mariana menghampirinya. Mariana tersengih menayangkan barisan giginya yang putih dan tersusun rapi.


"Hmm! Apa tu," sambil menutup hidung pakai tangannya.


"Campuran dari darah ikan, air lumpur, dan keringat. Kalau kak Toni pakai, aku jamin penumpang kak Toni pasti ramai, terutama cewek," Toni tertawa mendengar gurauan Mariana.


"Wah, beli di mana Ana?" Sina pula bertanya.


"Percuma, kak. Kak Sina pergi ke pantai, minta om Anton siram dengan air ikan, kemudian kak Sina lari dari sana sampai ke sini. Haa, waktu itu parfum alami kak Sina akan menyebarkan aromanya." Mereka tertawa


"Ha-ha-ha! Kalau aku pakai parfum itu, pelanggan aku bukannya mendekat, yang ada mereka pasti lari menjauh." Yang lain mengangguk setuju. Mengusik satu sama yang lain.

__ADS_1


Mariana tidak mau membuang waktunya melayani mereka. Dia segera meminta Toni mengantarnya ke klinik. Awalnya Toni enggan, namun didesak Mariana akhirnya Toni mengantarnya juga.


...***...


Andreas berjalan menyusuri Pasar Inpres Larantuka, mencari beberapa keperluan lainnya, seperti sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi, shampoo dan lainnya. Mulai hari ini, sampai beberapa bulan kedepan, dia akan tinggal di rumah sewa. Setelah membeli barang yang dibutuhkan dan mengisi perut, Andreas berjalan mencari tempat mengistirahatkan kakinya.


Sambil berjalan Andreas membaca pesan yang dikirim oleh Ben pada layar ponselnya, tanpa melihat sekitarnya. Malang tidak berbau, Andreas menabrak seseorang, menyebabkan ponsel ditangan terjatuh ke dalam parit yang berhampiran dengannya.


Bulat mata Andreas, terkejut bukan kepalang. Bertemu orang yang sama, yang membuat dia hari ini kehilangan dua benda penting.


"Kamu lagi!" hardik Andreas. "Mata kau letak mana, haa? Lutut? Tengkuk? Punggung? Sampai jalan tak lihat orang!" Telunjuk Andreas menunjal kepala Mariana.


Mariana juga terkejut. Niat hati hendak meminta maaf, tetapi dihardik tiba-tiba membuat suaranya tersekat di kerongkongan


"Kalau kau ini buta, duduk manis saja di rumah, jangan merayau sana sini. Kehadiran kau mengganggu orang lain." Mata Andreas memerah, seluruh wajahnya juga memerah. Panas sang surya semakin membakar api kemarahan yang terpendam.


"Ceroboh, pengotor, busuk, pembawa sial. Aku sial hari ini disebabkan oleh kamu, kau tahu tidak!" bentak Andreas.


Mariana merasa malu, hatinya tergores. Mutiara jernih mulai bertakung dalam pelupuk mata, tinggal menunggu waktu saja mutiara itu membasahi pipinya. Manusia mulai berkerumunan apabila mendengar pertengkaran mereka.


Saling berbisik sesama sendiri, kenapa? Siapa? Apa yang terjadi? Itulah suara sumbang yang didengarnya.


"Ha, hujan." Suara geramnya menyindir, sambil mencebikkan bibir. "Dasar perempuan, sama saja, sedikit-sedikit menangis. Cengeng," tambahnya lagi.


Mariana tidak dapat menahan dirinya lagi. Dia menyelinap keluar saat Andreas membungkuk mengambil ponselnya.


'Kau tanya saya mata letak mana? Kau juga sama, mata kau letak mana?' Omel Mariana. 'Lelaki tapi mulutnya cerewet, agaknya dia suka makan ekor ayam. Pet pot pet pot.'

__ADS_1


Sepatutnya dia tidak singgah di pasar tadi, kalau tidak dia pasti tidak akan bertemu dengan lelaki cerewet itu. Perasaan bersalah yang sempat bertandang dalam diri lenyap entah kemana, apabila matanya melihat sendiri sikap sebenar lelaki tadi.


Adik perempuannya yang patut dipersalahkan, karena menyuruh dia membeli sayur sebelum pulang. Kalau tidak, dia pasti sudah duduk manis di rumah sambil goyang kaki setelah pulang dari klinik. Akhirnya sayur juga tidak jadi beli. Nasib kau Mariana. Mariana masih menggerutu tidak jelas, untuk melepaskan kegeramannya.


__ADS_2