My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XVII


__ADS_3

Sepuluh menit, lima belas menit telah berlalu, tetapi, sosok yang ditunggu belum menampakkan batang hidungnya. Setelah mengikuti ibadah mingguan tadi, Noel merengek meminta mencari ibunya.


Setelah mengembalikan Noel pada Tari, Andreas keluar dari gereja, lalu berdiri di bawah pohon mangga. Sambil bersandar pada batang pohon mangga, pandangan matanya asyik mengawasi gerak-gerik umat yang masih bercengkrama di halaman gereja. Muda-mudi bersenda gurau, usik mengusik. Kanak-kanak bermain berkejar-kejaran begitu bebas tanpa beban.


Melihat muda-mudi yang bergelak tawa, mengingatkan Andreas pada seseorang, si Kribo Mariana. Bersama Mariana, Andreas merasa nyaman saat berada di dekatnya, walaupun baru semalam mereka rapat. Dia bahkan sempat berpikir bahwa Mariana bisa menjadi sahabat dan mungkin juga penawar bagi luka yang selama ini ia derita. Ia juga berharap bisa membebaskan diri dari belenggu yang selama ini menyiksanya.


Namun, perubahan sikap Mariana yang hanya dalam sedetik, menghanyutkan keyakinan diri dan harapannya yang sempat mengambang di atas permukaan hatinya.


Perubahan itu mengusik perasaannya. Dia tersinggung. Rasa yang pernah ia alami saat Rena meninggalkannya. Kecewa.


Tepukan pelan di punggung mengalihkan pandangan Andreas. Sosok tubuh yang dari tadi ditunggu kehadirannya, tersengih seperti kerang busuk di hadapannya. Pembawaannya yang tenang dan tetap berwibawa dalam jubah putih kebanggaan para imam, membangkitkan rasa cemburu menjenguk jiwa Andreas.


Dulu dia juga memiliki jubah kebanggaan itu. Namun, dia sadar, bahwa setiap orang memiliki panggilan dengan cara yang berbeda dalam pelayanannya.


"Sudah lama kau tunggu?"


"Iya, lama juga. Punggung saya sudah berakar, ni."


"Ha-ha-ha!" Romo Wens tertawa mendengar jawaban Andreas. Mereka bersalaman sambil bertanya kabar.


"Kau sendiri? Di mana ponakan saya?" tanya Romo Wens.


"Ponakan?" Andreas balik bertanya.


"Iyalah, sudahlah nikah tidak undang saya, sampai hati kau, e!"


"He-he-he!" Andreas terkekeh. "Dari mana kau tahu saya nikah?" tanyanya.


"Frater Benny. Katanya, kau undang dia saat bertemu di gereja, waktu dia masih pelatihan," ucapnya. Andreas mengangguk.


"Kau tahu, saya terkejut waktu Frater Benny bilang kau mau menikah," katanya sambil duduk di sebuah batu dekat tempat Andreas berdiri.


"Kau sudah tidak takut lagi dengan perempuan?" tanyanya. Andreas diam.


"Siapa nama istri kau? Orang mana dia?" tanyanya lagi.


"Tidak jadi," ucap Andreas.


"Tidak jadi apa?"


"Tidak jadi nikah," ucap Andreas lirih, sambil menunduk. Ada kedukaan dalam ucapannya.

__ADS_1


"Haaaa!" Romo Wens terlopong tak percaya.


"Tidak mungkin!" Dia berdiri, lalu meraih tangan Andreas, meneliti jari tangan ingin memastikannya sendiri. Tak ada cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Dia lari, maksud saya dia pergi sebulan sebelum pernikahan berlangsung."


"Pergi dengan lelaki lain?"


"Tidak! Tapi saya tidak tahu sebabnya." Romo Wens terdiam. "Fobia aku juga belum sembuh," lanjutnya lagi. Hening. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Romo Wens kembali duduk di atas batu tadi. Lama mereka terdiam.


"Kau kenal seseorang yang bernama Mariana?" Andreas bertanya, memecahkan keheningan.


"Wanita itu namanya Mariana?"


Andreas menggeleng. "Wanita yang dijodohkan ayah dengan saya."


"Apa?" Romo Wens semakin terkejut. "Sejak kapan orang NTT suka jodohkan anak dia? Kalau ada, itu saat zaman Siti Nurbaya," lanjutnya. "He-he-he!" Ia terkekeh geli.


'Mariana? Si kribo itu juga bernama Mariana,' batin Andreas.


'Ahh, tidak! Bukan dia. Aku yakin bukan dia. Semoga, bukan dia,' hatinya berkata-kata.


"Tapi itu yang terjadi pada saya," ucap Andreas.


"Lalu bagaimana dengan kekasih kau itu? Kau tidak mau tunggu dia?" Andreas terdiam. Pertanyaan ini juga pernah dilontarkan oleh Ben.


"Aku rasa, tidak!" katanya, tetapi, hatinya merasa ragu.


"Nama Mariana itu, banyak. Aku juga baru beberapa bulan dipindahkan ke sini. Jadi belum terlalu mengenali jemaat di sini," jawab Romo Wens.


"Keluarga kau, mungkin ada yang bernama Mariana atau kenalan k ...."


"Tidak ada," jawab Romo Wens cepat, "kamu tidak kenal wanita yang dijodohkan dengan kamu itu?" tanyanya.


Andreas menggeleng. "Hanya tahu namanya Mariana. Aku disuruh cari sendiri."


"Aneh. He-he-he!" Romo Wens terkekeh lagi. Ia berdiri. Terlalu lama duduk, jadi terasa panas pantatnya.


"Kisah kau ini seperti dalam novel romantis kegemaran ponakan saya," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Kalau kau berhasil bertemu dengan Mariana, lalu menikah dengannya, biarkan aku yang melakukan pemberkatan di gereja, mempersatukan kalian berdua." Andreas hanya tersenyum menanggapinya.


Romo Wens melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah hampir waktunya. Aku ada misa di gereja St. Elizabeth di Lewokung. Kau mau ikut?" tanya Romo Wens.


Andreas juga melirik jam tangannya, tinggal lima belas menit lagi, jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WITA.


"Oke," jawabnya.


Gereja St. Elizabeth berada di kampung halaman Mariana, yaitu desa Mokantarak yang selalu orang sebut Heras atau Lewokung.


Dikarenakan para imam yang berada di keuskupan Larantuka itu tidak ramai, jadi para gembala ini ditugaskan secara bergilir untuk melakukan perayaan liturgi di setiap stasi.


Kampung Mariana tidak terlalu jauh dari kota Larantuka, hanya berjarak 9 km lebih.


Menggunakan sepeda motor milik Romo Wens yang dikendarai oleh Romo Wens sendiri, kendaraan roda dua itu kini telah membelah kepadatan jalan raya menuju perkampungan Mariana


...***...


Mariana menggeliat, membetulkan letak kepalanya. Lehernya terasa sakit, ya karena terlalu lama menggantung di tepi ranjang. Gadis itu selalu tidur sembrono.


Kriuuk, kriuuk!


Penghuni kampung tengah juga sudah mengamuk. Mereka belum dapat jatah makan siang hari ini.


Mariana bangun, dia melirik sekilas pada jam alarm yang diletakkan di atas meja sebelah ranjangnya. Sudah pukul 13.20 WITA. Hari Minggu memang waktu yang tepat untuk tidur lama. Seminggu sekali kan?


Kriuuk, kriuuk, kriuuk!


Mariana mengusap perutnya. "Sabarlah! Nanti juga kalian dapat jatah. Orang sabar di sayang Tuhan."


Dia menguap, "Huuuaaa! Agaknya Tari masak apa hari ni? Laparnya!" Ia bangun, berjalan lalu membuka pintu kamarnya. Berhenti di depan pintu sejenak, menggeliat, merenggangkan otot-otot sendinya.


"Huuaaa!" Saat dia menguap, ekor matanya menangkap batang tubuh yang berdiri di depan pintu masuk rumah sedang memandangnya.


Mariana merasa malu, ingin menutup kembali mulutnya, tetapi, sudah terlanjur basah biar sekalian saja mandi.


"Huuaaaaa!" Kali ini ia membuka mulutnya lebih lebar, sambil memandang Andreas. Ia menaikkan alis matanya seolah bertanya 'kenapa kau pandang aku? Kau terpesona dengan kecantikan aku?'


Andreas sedikit terkejut melihat reaksi Mariana. Gadis itu memang tidak tahu sopan santun. Menguap lebar begitu saja di hadapannya. Ia bahkan bisa melihat anak tekak Mariana. Namun dia diam saja.


Keinginan hatinya mau menyapa Mariana, namun diurungkan niatnya itu, karena dia tidak dapat menduga sikap Mariana yang senantiasa berubah. Takut kena sembur lagi, kalau semburan itu pakai lombok (cili/cabai) kan pedih tu mata. Hati pun turut terasa pedih.

__ADS_1


Andreas berlalu ke kamarnya, ingin beristirahat. Dia sudah makan siang di kampung Mariana, bersama Romo Wens karena dijemput oleh Ketua Dewan Stasi untuk makan bersama. Mariana juga sepertinya tidak terlalu peduli.


__ADS_2