
"Alis mata tebal, hidung mancung, bibir tebal. Aduhai, seksinya, ingin ku gigit bibirnya, ni!" bisik Mariana memperhatikan dengan rinci. Ibu jarinya lincah menggulir foto-foto yang ada dalam galeri ponsel Mikhael, memilih mana yang lebih menarik untuk dipahat jadi patung nanti.
"Waaaaah, roti sobek!" Matanya beliak seolah mau keluar, saat terpampang foto Mikhael berpose seperti model tanpa kemeja memperlihatkan bentuk tubuh yang kekar dan berotot.
"Berapa petak, ni? 1, 2, 3 ... 8. Gila! Si Tuan Pengecut punya kemarin aku lihat pun kalah." Jari telunjuknya asyik mengelus dada Mikhael dalam ponsel tersebut.
"Aku ingin tidur berbantalkan lengannya. Kalau dapat tidur di sini, aku rela tak bangun lagi."
Matanya terpejam, membayangkan dirinya sedang berbaring di atas padang rumput nan hijau, di bawah kolong langit yang biru, dengan embusan bayu membelai lembut, bersama kicauan burung mengalun merdu menemaninya dalam dekapan kekasih hati.
Pelukan hangat sang kekasih seakan membawanya terbang melintasi cakrawala. Tatapan sendu membangkitkan gairah yang terpendam dalam lautan api yang membara, terhanyut dalam buaian mimpi. Namun, di tengah keasyikannya, satu suara yang seakan-akan seperti bunyi halilintar, menyambar tepat di samping telinganya, membangunkannya dari alam mimpi.
'Kriboooo! Aku bunuh kau!'
Mariana membuka mata. "Kacau saja ini jantan! Orang sedang asyik mimpi, suara dia yang muncul di kepala aku." Ia meletakkan ponsel Mikhael di atas meja.
"Kalau berani, datanglah! Nanti aku sulap kau jadi patung Malin Kundang."
"Kau bilang apa, Ana?" tanya Mikhael yang sudah berdiri di samping meja kerjanya.
"Ehem!" Sekadar membetulkan suaranya. "Mau pilih yang mana?" tanyanya untuk mengalihkan perhatian Mikhael.
"Mana-mana saja yang menurut kau menarik. Tapi dari tadi aku lihat kau asyik pandang foto, ni," tunjuk Mikhael pada gambar yang terpampang di layar ponselnya.
Mariana tersipu malu. "Iya, aku pikir kau terlihat lebih jantan kalau tidak pakai baju."
"Jadi sekarang ni, tidak jantanlah? Karena aku pakai baju."
"Kurang. Ha-ha-ha!" jawabnya sambil tertawa.
"Ha-ha-ha!" Mikhael turut tertawa.
__ADS_1
...***...
"Uhuk-uhuk-uhuk!" Tekaknya terasa sakit, walaupun rasa pedas itu sudah lama hilang. Air putih dalam gelas, sekali lagi diteguk hingga kosong. Ia masih duduk di meja makan, sedangkan yang lainnya sudah beredar ke ruang tamu.
"Pa Ande, makan gado-gado yang ini saja. Ini tidak ada wasabi." Tari menyodorkan piring berisi gado-gado. Merasa kasihan melihat Andreas terbatuk-batuk tak berhenti.
'Tata Ana ni, tidak baik dia. Sampai hati dia buat Pa Ande begini!' Panas hatinya bila mengenang perbuatan kakaknya.
"Tidak apa, Sis. Saya sudah tidak ada selera makan," tolak Andreas. Sejak dari awal ia memang tidak menginginkan gado-gado. Ia asal bicara saat Mariana menanyakan tentang makanan kesukaannya, lalu berakhir menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Saat ia melihat gado-gado, niat hati ingin menolak. Namun, ia merasa tidak elok menolak rezeki saat orang lain sudah bersusah-payah menyediakan untuknya, walaupun itu makanan yang dibeli di warung makan. Dipaksakannya juga untuk menelan makanan tersebut, walaupun tekaknya merasa mual.
"Atau Pa Ande mau saya masak mie instant? Nanti saya tambahkan dua butir telur." Andreas menggeleng.
"Tidak usah, Sis. Merepotkan saudari saja."
"Tidak apa-apa, saya tidak rasa repot."
Sebelum berlalu, Tari kembali memanggilnya. "Pa Ande, saya minta maaf bagi pihak kakak saya!"
Andreas mengangguk. "Tidak apa-apa." Ia pun kembali berlalu meninggalkan Tari yang masih berdiri memandangnya.
Suhu tubuhnya terasa panas, kulitnya pun terlihat berbintik-bintik kemerah-merahan. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berbaring sambil memejamkan mata berharap bila bangun nanti, ia sudah kembali sehat.
Untung tadi ia tidak banyak menelan gado-gado yang dicampur dengan saus kacang. Kalau tidak pasti merepotkan. Bisa dikatakan wasabi menjadi penyelamat.
...***...
Tari meraih ponsel yang diletakkan di atas televisi, lalu melabuhkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa. Panas hatinya belum juga mereda, bahkan suhunya semakin saja naik. Mungkin sudah mencapai 100⁰cc. Jari tangannya lincah mencari nomor telepon seseorang.
Tak perlu waktu lama, ponsel itu telah diletakkannya di tepi telinga.
__ADS_1
"Mariaanaannaa, si Kribooo!" jerit Tari saat Mariana menjawab teleponnya.
["Apppaaa!" Mariana juga turut menjerit. "Kau sudah jadi anak murid si Tuan Pengecutkah?"] tanyanya dari seberang.
["Sejak kapan hati Kakak sebusuk tahi kucing?"]
["Busuk apanya, hati aku seharum bunga kasturi, tahu?"]
["Kalau hati kau seharum bunga kasturi, lalu dari mana kau dapat wasabi?"]
["Ha-ha-ha!"] Bukan jawaban yang ia peroleh, melainkan suara tawa Mariana yang terdengar.
["Kau buat dia kepedasan, sampai asap keluar dari mulut, hidung dan telinganya, tahu?"]
["Ha-ha-ha! Itu balasan untuk dahi aku yang benjol hari tu."]
["Kalau dia mati kepedasan, bagaimana? Kau mau tanggung jawab?"]
["Kenapa? Dia sudah matikah?"]
["Kau mau sumpah dia mati cepat?"]
["Ooo, artinya dia masih hidup, 'kan? Daripada kau ceramah di situ, cepat datang bantu aku di toko."]
["Kau buka tokokah, Tata? Hari ini 'kan hari Minggu. Biasanya hari Minggu Tata tidak buka."]
["Terpaksa. Banyak kerja. Cepat datang, aku tunggu!"]
Tut! Tut! Tut!
Panggilan pun terputus sebelah pihak.
__ADS_1
"Cis, buat orang sakit hati saja!" Ia kemudian berdiri, mengambil tasnya lalu berpamitan dengan Fendi sebelum keluar dari rumah.