
Riuh rendah suara kanak-kanak bermain, suara kambing mengembik, dan babi menguik cukup membingitkan telinga. Beberapa saudara dari keluarga kedua belah pihak sedang memasak nasi, memotong sayuran, ada yang sedang membuat berbagai jenis kue seperti roti, kek, donat, jawada atau kue rambut, cucur dan lain sebagainya.
Beberapa orang pemuda bersama Abang Budi dan Fendi sedangkan mendirikan tenda, di belakang dapur beberapa ibu-ibu dan anak gadis sedang membuat jawada. Mereka menggamit Mariana untuk mendekat, lalu memberikannya satu keping kue jawada.
"Piring dua belas lusin ini punya ibu Rin, gelas dua belas lusin, dan sendok makan juga dua belas lusin," kata mama sambil menghitung jumlah perkakas dapur yang dipinjam untuk pesta pernikahannya.
Kuali, dandang (periuk besar yang dipakai untuk menanak nasi). Mariana hanya memperhatikan kegiatan mereka. Dia juga turut membantu, seperti mencuci piring, memotong sayuran dan sebagainya.
"Mama!" Abang Budi datang menghampiri mama. "Sediakan minuman untuk pemuda yang buat tenda dan mereka yang di sana!" Dia menunjuk sekelompok pemuda yang sedang menyembelih babi. "Mereka belum minum," lanjutnya.
Mariana terus berdiri, membantu menyediakan minuman. Dia memanggil seorang gadis membantunya membawakan roti dan cucur yang sudah disediakan dalam piring. Menyodorkan minuman berupa kopi dan teh pada seorang demi seorang.
Melihat Mariana yang menghidangkan minuman untuk mereka, beberapa orang mulai mengusik gadis itu."
"Amboi, gadis kita ni esok so terlepas dari kutukan perawan tua, e!"
"Betul itu. Tak sangka dia ni laku juga." Yang lain tak mau kalah.
Wajah Mariana memerah. "Eh, Kak Tedi. Aku sudah laku ni, Kakak kapan lakunya?" Yang lain tergelak mendengar pertanyaan Mariana.
"Dia ni te akan laku-laku. Sudah tua, siapa mau?" Lelaki di sebelah Kak Tedi bersuara. Alhasil, kepalanya diketuk oleh Kak Tedi.
Mariana tak mau melayani gurauan mereka lagi. Dia kemudian berlalu dari situ. Bermacam-macam usikan yang ditujukan kepadanya. Ada juga yang mendoakan kebahagiaannya.
Mariana menatap sekeliling rumah mama, suasana yang riuh dan gelak tawa di mana-mana, dan saat sukacita memenuhi relung hati, rindu sendu tiba-tiba menjenguk jiwanya. Dia menatap langit biru, awan putih sedang berarak, begitu cantik memesona. Wajah bapa (bapak) terlukis di sana, tersenyum padanya.
Mata dipejamkan, butiran bening itu jatuh membasahi pipinya tanpa dipinta. Wajah sang adik juga terbayang di pelupuk mata. Masih terngiang pembicaraan mereka kemarin. Agus sedang sibuk mengurus skripsi. Banyak tugas katanya. Lagipun Agus juga sibuk melakukan kerja sambilan. Jadi, dia tak dapat hadir pada hari pernikahannya walaupun sudah berkali-kali dipujuk.
Tepukan di punggungnya membuyarkan lamunannya. Hendra berdiri di hadapannya penuh rasa khawatir. Dia sudah lelah mencari gadis itu. Sejak pagi sudah tak kelihatan batang hidungnya, sehingga membuat Hendra semakin khawatir.
"Pergi tidur! Kantong mata kau tu sudah bisa isi beras sepuluh kilo."
"Tidak apa, Darling. Aku baik-baik saja."
"Jangan bilang tidak apa-apa! Kau begadang beberapa hari ni, lihat muka kau sudah cengkung seperti nenek-nenek," kata Hendra sambil menarik tangannya.
__ADS_1
Memang dia sangat lelah. Dalam beberapa hari ini dia tak cukup tidur. Asyik begadang mengurus pernikahan dibantu saudara-saudara sepupunya. Keluarga Andreas dari Larantuka juga datang lebih awal. Mereka yang lebih muda dan pandai membuat kue, begadang sampai subuh.
Mariana mengikuti langkah Hendra, yang membawanya menuju ke kamar tidur mama.
"Istirahat di sini, atau mau aku bawakan makanan? Kau dari kemarin tak ada selera makan." Hendra menolak perlahan tubuh Mariana, memaksanya berbaring.
"Aku mau tidur dulu."
"Oke, istirahatlah! Nanti aku bangunkan kau, jika ada yang cari." Mariana mengangguk. Lalu perlahan menutupkan matanya. Tak butuh waktu lama, dia sudah terlelap dibuai mimpi. Hendra menyelimuti tubuh gadis itu sebelum berlalu dari kamar tersebut.
...***...
Lagu-lagu populer, lagu daerah dan berbagai jenis musik lainnya, sudah mulai diputarkan oleh DJ dari tenda yang penutupnya menggunakan terpal.
Suasana di rumah mama semakin riuh. Para tetamu mulai berdatangan, terutama wanita. Tak kira tua atau muda membawa dulang yang berisi beras, kopi, gula. Ini sudah menjadi tradisi Lamaholot, jika ada keluarga yang membuat hajatan kematian, pernikahan, komuni pertama maupun hajatan lainnya. Rumah mama pun semakin sempit. Tampak nenek sedang duduk di atas para-para di dalam dapur menerima dulang yang disodorkan padanya.
"Ini kepunyaan nona Sinta, menantunya Marta," kata Peni ponakan Nenek Barek, sambil menyerahkan dulang tersebut.
Nenek Barek memisahkan isi dulang. Beras dimasukan ke dalam bakul yang dianyam dari daun lontar, sedangkan bungkusan gula dan kopi dimasukan ke dalam karung.
"Opu dan Blake mau datang dari keluarga mama dan bapa (bapak). Dengan yang kumpo kao," kata Tari.
"Mama kau dan Ana mana?"
"Mama dan tata Ana sudah pergi mandi. Nenek pun pergi mandi dulu."
Nenek Barek turun, mengikuti Tari yang membawanya menuju ke rumah Om Mias, karena di rumah mama terlalu banyak orang, apalagi beberapa orang sedang menunggu giliran untuk mandi. Setiap rumah di kampung hanya menyediakan satu kamar mandi, jadi, bila ada acara seperti ini, rumah tetangga dan saudara dijadikan penginapan sementara.
Namun, belum sempat mereka meninggalkan halaman rumah, Tanta Siska, tetangga sebelah rumah memanggil mereka.
"Ua, mandi di rumah saja. Di rumah tidak ada orang," kata Tanta Siska, sambil mendekati mereka.
"Oke, jadi tidak perlu pergi ke rumah om kamu. Jauh."
Tari mengangguk. "Nenek pergi dulu, aku ambilkan baju."
__ADS_1
Di Larantuka
Rumah Om Sipri begitu riuh. Beberapa saudara dari keluarga besar Nenek Esi yang tinggal di Larantuka sedang berkumpul di sana. Siap sedia untuk acara Antar Siri Pinang. Barang antaran sudah dipersiapkan. Beberapa orang tua sedang memeriksa barang antaran tersebut. Andreas juga terlihat di sana. Berdebar-debar perasaannya.
Di Tempat Lain
Wajah tuanya terlihat sendu tak bercahaya, duduk menatap langit kota Reinha yang berwarna jingga. Banyak yang dia renungkan. Sesekali dia melirik ke arah menantu yang sedang menyuap cucu kesayangannya. Kartu undangan pernikahan yang diletakkan di atas meja dilirik sekilas, terbayang wajah Mariana di pelupuk mata.
"Tak sangka anak itu benar-benar akan menikah besok," gumamnya.
Bayangan masa lalu terlintas di benaknya. Betapa egois dirinya dulu, yang suka mencampuri urusan percintaan anak lelakinya. Dia tidak bersalah. Setiap ibu hanya inginkan yang terbaik untuk anaknya. Baginya, Mariana bukan wanita yang tepat untuk Daniel. Namun, sejak perpisahan mereka, anak kesayangannya itu tak pernah lagi tersenyum.
Rasa bersalah menghantui perasaannya. Apalagi akhir-akhir ini, terdengar kabar angin tentang Novi semakin merebak bak penyakit menular. Entah benar, entah tidak. Ingin memercayai kabar angin, tetapi tak terlihat pun kepincangan Novi. Namun, tak mungkinlah pohon bisa bergoyang kalau tak ada angin. Lagipun, dari mana lagi datangnya asap kalau tak ada api?
'Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Novi. Hati manusia memang sukar diselam,' batinnya.
"Novi, Daniel di mana?" tanya Ibu Dita.
"Tak tahu," jawab Novi.
"Ai, kau istri dia, tapi tidak tahu laki kau pergi mana?" Suara Ibu Dita sedikit meninggi.
Novi terdiam. Namun, dalam hatinya mencebik, 'nama saja jadi suami, aku ni hanya istri di atas kertas.'
Melihat Novi terdiam, Ibu Dita hanya mampu menggelengkan kepala.
Di Tepi Pantai
Burung camar terbang rendah di atas permukaan air laut. Berlagu riang saat beberapa ekor ikan muncul di atas permukaan. Sekali patuk, seekor ikan menggelepar di dalam paruhnya. Kenyang sudah. Ia kembali terbang menjauh meninggalkan seseorang yang sedang duduk di tepian pantai.
Daniel duduk di atas batu ceper, sambil bersandar pada batang pohon asam, menikmati senja yang hampir berlabuh. Matanya terpejam, membiarkan embusan bayu laut menampar wajahnya.
'Mari kita putus'. Kalimat itu kembali terngiang di telinga. Sudah tiga tahun berlalu, tetapi, terasa baru kemarin mereka berpisah. Kenangannya bersama Mariana masih segar dalam ingatannya. Gelak tawa, rajuk manja gadis itu tak 'kan pernah dia lupakan. Begitu sukar untuk dia menerima hakikat, bahwa bunga yang ditanam, mekar di jambangan orang. Mungkin itu sudah suratan takdir. Apalah daya, diri hanyalah insan biasa.
Ukiran nama mereka masih terlukis cantik di atas batu ceper itu. Dia mengusap-usap permukaan batu tersebut.
__ADS_1
"Ana, semoga bahagia!"