My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXXIII


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, mereka sudah bersiap. Andreas mengajak Mariana untuk makan di restoran dekat hotel karena mereka sudah makan malam. Sedangkan, sekarang mereka hanya mencari sesuatu yang bisa membuat perut mereka kembung untuk menyelesaikan permainan, tetapi, Mariana menolak. Katanya ia ingin menikmati suasana malam kota Bali. Langkah kaki berayun menyusuri jalan trotoar, mendekati pedagang kaki lima berjejeran di tepi jalan.


Sesampainya di sana, mereka singgah sebentar di gerai ayam gebuk. Gadis itu menelan air liur saat melihat kelezatan ayam gebuk berempah tersebut. Mereka pesan satu piring, dibungkus. Makan berdua, sambil berjalan. Isinya yang hanya beberapa ketul daging ayam membuat mereka saling berebut.


Beberapa meter kemudian, mereka singgah di gerai jualan makanan kampung seperti ubi, pisang dan lain sebagainya. Mariana memilih ubi jalar bakar dan pisang goreng cecah bersama sambil terasi. Lezat sampai menjilat jari. Andreas pula memilih jagung rebus. Setelah itu mereka berjalan lagi mencari hidangan yang lain.


Menghidu aroma daging panggang dari kejauhan, Mariana mengatur langkah seribu, sambil menarik tangan Andreas agar lebih cepat berjalan. Mereka berhenti di depan gerai sate babi di bawah pohon mangga. Mata Mariana berbinar-binar. Ia melirik sekilas pada Andreas sambil tersengih.


"Sepertinya penghuni kampung tengah ada yang belum dapat jatah makan," kata Mariana, sambil mengelus perutnya.


Andreas tersedak ludah sendiri. Ia tidak mengerti mengapa istrinya itu seolah tak tahu rasanya kenyang. Entah terbuat dari apa perut Mariana. Ingin menolak kemauan Mariana, tetapi, aroma daging panggang tak dapat ia abaikan. Andreas pun menurutinya. .


***


"Ini bagian aku punya." Andreas merampas daging yang diambil Mariana.


"Bagilah, Sayang. Punya aku sudah habis."


"Kau habiskan dua piring sate sendiri. Aku baru satu. Mana mungkin bagian aku, kau ambil juga."


Tadi Andreas pesan sate babi tiga piring. Dua piring Mariana habiskan seorang diri, tetapi, itu pun masih kurang, ia mau tambah lagi. Ingin mengambil bagian Andreas.


"Kau makan daging seolah sudah seratus tahun kau tidak makan," kata Andreas, " padahal baru beberapa hari lalu banyak daging di rumah kau." Andreas mengunyah tusukan yang terakhir.

__ADS_1


"Aku tak selera kalau makan daging saat pesta di rumah sendiri. Tapi kalau sudah habis pesta, baru aku teringin makan daging."


Mendengar itu, Andreas pesan sepiring lagi. "Ini yang terakhir. Kau tidak boleh makan sendiri."


Mariana tersengih. "Thank you," katanya, sambil membetulkan posisi duduknya.


***


Mariana mengusap perutnya. Duduk bersandar di sofa, sambil mengintip pesan masuk di WhatsApp, messenger, dan Instagram. Banyak teman-teman yang mengucapkan selamat atas pernikahannya. Mendoakannya agar bahagia hingga ke anak cucu.


"Tuan Perjaka, perut aku besar sekali, ni. Macam ibu mengandung empat bulan." Ia memiringkan tubuh menghadap Andreas yang duduk bersandar di atas ranjang.


"Itu karena kau terlalu tamak," jawab Andreas tanpa melihat Mariana.


"Kribo, mana kau?"


"Sini," jawab Mariana.


"Mana?" Andreas menjengukan kepala mencari kelibat Mariana.


"Sini." Mariana mengangkat sebelah tangan. Ternyata dia sedang duduk berjongkok di belakang sofa.


"Apa kau buat di situ."

__ADS_1


"Cara tercepat untuk kent ...."


"Buang angin," potong Andreas cepat. Mariana tayang gigi.


"Ayo, Tuan Perjaka! Kau tidak mau kalah lagi, to?"


"Tidak mau, ah!" Andreas mencebik. "Itu bukan cara paling ampuh." Ia kemudian berlalu mengambil balsem gosok dari dalam kopernya, lalu duduk bersandar pada kepala ranjang, sambil menggosok perutnya menggunakan balsem gosok cap Lang tersebut.


Mariana pula, setelah lama duduk berjongkok, tetapi, belum merasakan tanda ingin membuang angin, ia kemudian berjalan merangkak.


"Kenapa tidak sekalian saja lompat katak?" Andreas bertanya dari atas ranjang. Seperti kerbau dicocok hidung, Mariana melakukan seperti yang dikatakan Andreas.


Andreas terbahak-bahak melihat kelakuan istrinya. "Kribo, apa yang pemenang dapatkan?"


"Si pemenang boleh ... membuat dua per-min-ta-an," jawab Mariana terbata-bata karena kelelahan melakukan lompat katak.


Melihat kesungguhan Mariana, Andreas pun turut melakukan lompat katak. Namun, lelaki itu menyerah kalah sebab sampai bermandikan keringat pun, tak terdengar satu pun bunyi letupan bom atom.


Akhirnya, mereka sama-sama baring karena kelelahan di atas lantai kamar hotel. Saat keasyikan ngobrol dengan Andreas, tiba-tiba, gadis itu menutup hidung dan mulut karena menghidu aroma busuk dari arah Andreas.


Mariana sampai terbatuk-batuk menahan napas. "Tuan Perjaka, kali ini lebih harum daripada bangkai mayat."


Secepat kilat, Mariana berlari ke arah jendela. Membuka daun jendela, membiarkan udara malam menyapu aroma busuk dalam kamar hotel mereka. Ia juga menghidupkan kipas angin dan membuka pintu kamar mandi. Tak lupa juga Mariana menyemburkan parfum miliknya untuk mengurangi aroma busuk yang Andreas hasilkan dari pertandingan mereka.

__ADS_1


__ADS_2