
Akhirnya mereka kembali ke ruang tamu, setelah mengambil waktu untuk berdiskusi. Andreas masih setia menanti. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Keheningan kembali terjadi.
"Ehemm!" Mariana berdehem, mengatur suara biar lebih santai, walau hatinya masih panas membara.
"Oke, begini saja," dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Kau bisa tinggal di sini, tak perlu bayar sewa, tetapi aku akan pungut uang makan." Andreas mengerutkan dahi, namun tetap diam.
"Sebulan tiga ratus ribu, termasuk air, listrik dan penggunaan WiFi, makan minum juga disediakan pemilik rumah. Kalau di kost lain sewa sebulan lima ratus sampai tujuh ratus ribu. Aku berbaik hati cuma tiga ratus sebulan, murah kan?"
"Tolak kerugian kau hari ni, aku akan pungut seratus ribu untuk makan minum kau. Itu sebenarnya tidak cukup kalau cuma seratus. Sarapan pagi, makan siang, makan malam. Kopi, gula, beras,ikan, sayur, seratus memang tidak cukup. Tapi cincai lah," dia mengibaskan tangannya.
"Seratus saja, jadi jangan kau kikir. Utang selebihnya akan aku bayar perlahan. Cicil. Bagaimana?" tanyanya.
Andreas menatap wajah mereka satu persatu. Rasa bersalah mengusik hatinya. Tadi dia mendengar pembicaraan mereka, hanya saja dia tidak paham, Mariana dan Tari berbincang menggunakan bahasa daerah. Walaupun sesama orang NTT, setiap daerah mempunyai bahasa daerahnya sendiri. Dia juga tidak berniat mengambil kesempatan keatas Mariana dan keluarganya, namun melihat Mariana dan sikap sombongnya itu, kapan lagi dia bisa mempermainkan Mariana?
"Oke, aku setuju," jawab Andreas. "Tapi aku punya satu syarat," lanjutnya.
"Apa syaratnya?" tanya Mariana.
"Aku mau tukar kamar." Tadi dia sempat bertanya pada Natan anak sulung Tari. Katanya disini ada empat kamar, yang paling luas milik Mariana.
"Kenapa?" tanya Mariana lagi. 'Aneh-aneh ni orang ,' batinnya.
"Kamar itu terlalu sempit, ranjangnya juga kecil."
"Aisshh! Kau bertingkah seperti tuan muda besar," omel Mariana.
"Tata! Ikut saja!" Tari coba menengahi. "Tapi kamar yang mana Pa Ande mau?" tanyanya.
"Ukuran kamar disini semuanya sama. Lagi pun tidak ada kamar kosong." Mariana masih membantah.
"Kamar kakak ipar punya lebih luas, ranjang pun lebih besar, ada kipas angin juga." Tari mengedipkan mata berterima kasih pada sang suami.
__ADS_1
"Kalau begitu kita tukar kamar," ucap Andreas sambil berlalu ke kamar yang ditempatinya untuk mengambil barang tanpa menghiraukan bantahan Mariana.
...***...
"Kalian bersekongkol buli saya?" Tari menatap tajam memandang Tari dan suaminya. Walaupun begitu tangannya tetap lincah mengemas meja. Tari hanya menjeling, dia masih sibuk menyimpan sisa makan malam mereka ke dalam kulkas. Sedangkan Fendi sudah mengatur langkah meninggalkan mereka, tak ingin mendengar suara gagak milik kakak iparnya.
"Bukan begitu kak Ana yang cantik dan manis bagaikan bidadari surga." Tari bermulut manis mencoba meredakan api kemarahan sang kakak. Ia tersengih. Tayang gigi yang masih ada sisa sayur kangkung terselip di celah giginya.
"Ha-ha-ha!" Suara tawa Mariana menggema di ruang makan.
"Pergi kumur mulut kau dulu. Banyak sekali sayur kangkung disana. Kau mau buat ulat gigi cepat gemuk?" ucapnya sambil memukul lengan adiknya yang berusaha menggelitik pinggangnya.
"Tata Ana! Saya sayang kakak!" ucapnya sambil memeluk Mariana. Mariana merasa terharu mendapat pelukan hangat dari Tari. Dia menepuk pelan punggung adiknya.
"Kami tak berniat menyakiti atau pun membuli kakak, kami hanya ingin kakak bahagia," ucap Tari sambil melepas pelukan.
"Tata noi (kakak tahu), tapi tata masih kesal dengan dia. Coba kau pikir. Kalau kau bertandang ke rumah orang, tinggal di rumah orang, bagaimana sikap kamu?" tanya Mariana. Tari hanya tersenyum tidak menjawab.
"Permisi! Maaf mengganggu," Andreas tiba-tiba muncul di ruang makan, menghentikan pembicaraan dua bersaudara.
"Sudah tahu ganggu, jangan datang," bisik Mariana yang hanya didengar oleh Tari. Tari mengulum senyum, ingin sekali tertawa.
"Iya, ada apa?" tanya Mariana dengan nada ketus.
"Tolong kosongkan lemari pakaian kamu, saya ingin menyimpan pakaian saya."
"Aku tak akan kosongkan, kamu hanya tinggal beberapa bulan saja disini. Baju aku pun tak banyak. Aku akan ambil beberapa helai, jadi ada ruang untuk kamu pakai."
"Terserah," jawab Andreas acuh tak acuh, lalu meninggalkan Tari, menuju ke kamar kemudian disusul oleh Mariana.
Kamar tidur Mariana memang lebih luas, berbanding kamar tidur lain, karena merupakan kamar utama. Rumah ini memiliki empat kamar tidur, ruang tamu, ruang makan dan dapur. Sedangkan kamar mandi dan WC didirikan terpisah.
Baru tiga tahun Mariana membeli rumah papan ini, utangnya di bank pun baru lunas seminggu yang lalu. Itulah yang membuat dia sungguh kesal. Niat mencari penyewa untuk menambah tabungan, tapi berakhir dengan utang yang melilit pinggang.
__ADS_1
Mariana memilih beberapa helai pakaian lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Dia menyisakan dua rak untuk Andreas menyimpan pakaiannya. Lemari pakaian Mariana memang lebih besar, karena itu merupakan kepunyaan tuan rumah dahulu.
Andreas hanya bersandar di depan pintu kamar, memperhatikan kegiatan Mariana sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Aku sisakan dua rak kosong, cukup?" Mariana menoleh lalu bertanya pada Andreas, suaranya lebih lembut tidak kasar seperti tadi. Andreas hanya mengangguk.
"Yang ini untuk kau gantung pakaian kerja," dia menunjuk ruang lemari sebelah kirinya. Ada pakaian Mariana juga digantung di sana.
"Laci kosong ini kau bisa simpan CD dan kaus kaki." Andreas mengangguk lagi.
"Kaki lemari ini sudah patah. Aku cuma letak batu di sini sebagai penahan. Jangan sampai kau tendang, nanti lemari ni akan tumbang tindis kau. Kalau kau mati, saya yang susah. Jadi berhati-hatilah," pesan Mariana panjang lebar.
"Kenapa kau tidak beli ganti? Lemari ini pun sudah kelihatan usang." tanya Andreas.
"Sudah. Aku sudah pesan satu, tapi belum diantar," jawab Mariana, sambil memungut pakaiannya lalu beredar dari kamar tersebut.
"Tunggu!" panggil Andreas menghentikan langkah Mariana.
Mariana menoleh, "apa?" tanya nya.
"Hp kamu, aku pinjam dulu," sambil mengulurkan tangannya. "Aku punya rusak, pinjam kau punya untuk sementara."
"Berapa lama?"
"Sampai saya punya habis diperbaiki."
"Aiishh!" Sambil menyeluk saku celananya, lalu mengulurkannya pada Andreas.
"Keluarkan dulu kartu SIM aku." Andreas menurut, melakukan seperti yang diperintahkan oleh Mariana.
"Ingat! Tidak boleh pakai lama. Batas waktu satu minggu. Kalau lebih seminggu bayar denda."
"Oke. Terima kasih," jawab Andreas. Mariana mengambil kartu SIM nya, menyimpannya ke dalam saku celana lalu segera beredar dari kamar tersebut.
__ADS_1