My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XCIX


__ADS_3

Awal pagi lagi Mariana sudah cantik berdandan. Sambil mengemas bilik, dia bersenandung riang. Keceriaannya mengundang tanda tanya dalam hati Andreas. Lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi. 


"Mau ke mana awal pagi begini?" tanyanya, sambil mengambil kemeja kerjanya slim fit  kelabu berlengan panjang yang sudah disiapkan oleh Mariana di atas katil. 


Mariana tak menjawab. Istrinya itu beralih membantu mengancing kemejanya. Sesekali tangan nakal gadis itu sengaja mengelus permukaan kulit dadanya yang membuat dia menahan kegelian.  


"Kau buat lagi, aku patahkan rahang bawah kau." Mariana terkekeh mendengar ancaman Andreas. 


"Mau ke mana kamu awal pagi begini? Dari tadi aku tanya, tapi kau tak jawab."


"Nenek ajak pergi ke suatu tempat."


"Pergi ke mana?" 


"Tak tahu. Nantilah Nenek kasih tahu mau pergi ke mana."


Setelah membantu Andreas mengancing kemejanya, Mariana mengambil tas kerja suaminya yang tersimpan di dalam lemari, lalu diletakkannya di atas meja. Pekerjaan seperti ini, sudah biasa dia lakukan setiap hari. Awalnya Andreas merasa kikuk dilayan seperti itu, tetapi kata Mariana, itu hanya bentuk latihan. Sekarang dia sudah mulai terbiasa. Alah bisa tegal biasa, begitulah kira-kira. 


Mariana beralih mengambil tas selempang miliknya yang disimpan bersama tas kerja Andres. Dia kemudian beranjak meninggalkan kamar. 


Sebelum berlalu, dia berpesan, "Tuan Perjaka, nanti sarapan sendiri, e."


"Kenapa tak sarapan bersama?" tanya Andreas. 


"Sudah terlambat. Bye."


Lelaki itu hanya menatap punggung istrinya yang hilang di balik pintu. Namun, Mariana kembali menampakkan wajahnya di ambang pintu, membuat Andreas terlonjak karena kaget. 


"Jangan lupa kunci pintu!" pesannya, sambil tersengih seperti kerang busuk. Tak lupa dia mengedipkan sebelah mata untuk mengusik Andreas. 


Andreas mengelus dada. Setelah bersiap, dia turun ke bawah untuk sarapan. Seperti kata Mariana, dia perlu sarapan seorang diri. Selera makannya tiba-tiba hilang, apabila melihat kursi Mariana tak ada yang tempati. 


Pinggan berisi roti dan sardin ditolak ke tepi. Dia duduk termenung, tetapi tangannya kembali menarik pinggan tadi, lalu menghabiskan makanannya hanya beberapa kali suapan. Mubazir kalau dibuang. Mariana sudah penat menyiapkan sarapan untuknya. Setidaknya dia menghargai niat baik istrinya itu. 


Setelah sarapan, menyimpan sisa makanan ke dalam kulkas, dan mencuci piring bekas makannya, Andreas siap berangkat kerja.

__ADS_1


Pandangannya mengitari seisi ruangan yang terasa sepi tanpa Mariana, padahal belum sampai tiga puluh menit gadis itu meninggalkan rumah, tetapi hatinya sudah terasa hampa. Sebelum dia meninggalkan rumah, tak lupa pintu dikunci terlebih dahulu. 


...***...


Matahari sudah bersinar terik. Jarum jam pun sudah menunjukan pukul 10.00 WITA, membuat dua batang tubuh manusia yang sedang duduk di bawah pohon mangga dilanda kebosanan. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, mengintai rumah yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Rumah setengah batu setengah papan itu tampak sepi saja. 


"Pukul berapa dia datang, Ana?" tanya Nenek Esi. 


"Biasanya jam begini, Nenek. Kita tunggu sebentar lagi." Mariana coba memujuk. 


"Hati nenek berdebar-debar ni," kata Nenek Esi, sambil terkekeh kecil. 


"Ai, macam tunggu pacar ajak ketemu, ya, 'kan?" Mariana turut terkekeh. 


"Iyalah, ha-ha-ha!" Mereka tertawa bersama.


Mariana mengeluarkan ponselnya, lalu mengajak Nenek Esi berfoto, tetapi sebelum itu, dia membetulkan selendang yang menutupi kepalanya. Dia juga membetulkan selendang tenun Nenek Esi dan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung mancung wanita tua itu. 


"Smile," katanya, lalu beberapa keping gambar terekam dalam galeri ponselnya.


Tak lama kemudian, ekor mata Mariana menangkap sosok tubuh yang sangat dia kenal lewat di belakang mereka. Untung penyamaran mereka tidak disadari oleh orang tersebut.


Nenek Esi menoleh ke belakang mendapati punggung wanita yang sudah dua puluh lebih tahun mereka cari hilang di balik pintu rumah kayu tersebut.  


"Ayo!" Nenek Esi menarik tangan Mariana, mengajaknya menyusul wanita tadi. 


Gadis itu berdiri. Namun, ucapannya menghentikan langkah orang tua itu. "Nenek pergi sendiri.  Belum waktunya Ana memperkenalkan diri sebagai menantunya.  Ana perlu tunggu Andres."


Nenek Esi mengangguk setuju. "Kalau begitu Ana tunggu di sini."


Mariana menggelengkan kepala. "Nanti ketahuan kalau Ana tunggu di sini.  Om Dorus akan datang jemput Nenek."


"Kalau begitu nenek pergi dulu." Mariana mengangguk sambil melambaikan tangan. 


Sampai di depan pintu rumah yang tertutup rapat, Nenek Esi berdiam diri,  menarik dan mengembuskan napas sejenak. Tangan keriputnya diulur, lalu mengetuk pintu kayu itu, sambil melaungkan salam. 

__ADS_1


Setelah beberapa menit menunggu, terdengar pintu perlahan terbuka, lalu seorang wanita separuh baya menjengukkan wajahnya dari balik daun pintu. Dia tampak terkejut melihat kehadiran Nenek Esi di hadapannya. Seketika mulutnya seperti terkunci. 


"Tak mau ajak mama masuk dulu?" Nenek Esi bersuara. 


"I-Ibu."


Nenek Esi tersenyum. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Dia kemudian melebarkan daun pintu, membiarkan Nenek Esi memasuki rumahnya.  


Dari kejauhan Mariana memperhatikan interaksi keduanya, hingga tubuh nenek dari suaminya itu hilang di balik pintu. 


...***...


Sambil duduk menunggu di atas sofa, matanya menilik seisi ruangan tamu menantu yang sudah bertahun tak dijumpainya. Rumah setengah papan itu tampak sederhana, tetapi kemas dan bersih. Nyaman untuk dihuni, walaupun tak ada barang mewah menghiasi ruang tamu tersebut. Hanya ada lukisan Leonardo da Vinci, 'The Last Supper', tentang perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya dan lukisan Yesus bersama orang tuanya, Yosep dan Maria yang dipajang dekat pintu menuju dapur.


Matanya terpaku pada sebingkai foto yang diletak di atas lemari dekat televisi. Itu foto Andreas kecil berusia tiga tahun bersama ibunya. Seketika kenangan lalu datang menyapa, menjenguk sanubarinya.


Dia ingat lagi, anak lelakinya begitu bahagia memperkenalkan wanita cantik itu sebagai calon istrinya kala itu. Dia tak menentang hubungan mereka karena calon menantu itu bukan saja cantik, tetapi juga baik budi pekertinya. 


Keluarga mereka bahagia apalagi setelah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Andreas. Namun, terpaan badai datang menerjang, meruntuhkan gereja yang anaknya bina, hingga berujung pada perpisahan. Luka yang ditoreh anaknya membekas dalam hati sang menantu, hingga akhirnya menantunya itu merajuk membawa diri, hilang tanpa kabar berita. 


"Ibu!" Panggilan lembut itu mengembalikannya dari lamunan. 


Nenek Esi tersenyum. "Duduklah, Mery!"


Tanta Mery menurut, melabuhkan tubuhnya di samping Nenek Esi. Tak ada yang berbicara, hanya kebisuan menemani mereka. 


"Selama ini kamu tinggal di sini?" tanya Nenek Esi setelah lama membisu. Tanta Mery mengangguk. 


"Sejak kamu tinggalkan kami?" Kali ini Tanta Mery menggeleng.


"Kamu pergi ke mana?"


"Pulang ke rumah ibu di Jakarta."


"Alo cari kamu di sana, tapi kamu tidak ada. Kamu tahu?"

__ADS_1


Tanta Mery mengangguk lagi. "Ibu cerita." 


Sepatah yang ditanya, sepatah juga yang dijawab. Nenek Esi menghela napas panjang. Dia menilik wajah cantik menantunya itu, masih tetap cantik walaupun sudah ada tanda-tanda penuaan. 


__ADS_2