My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XXXV


__ADS_3

Kembali pada Mariana


Mariana mengesat air matanya. Mutiara jernih itu telah lama bertakung di pelupuk mata. Pengakuan Novi akan kehamilannya kemarin masih terngiang di telinga.


"Ana!" Suara itu mengejutkan Mariana. Dia menoleh. Tersenyum.


"Hmm! Duduklah!" ajaknya pada Daniel. Mariana mengajaknya bertemu. Walaupun sudah mendapatkan jawaban, tetapi ia masih inginkan kepastian.


Daniel melabuhkan tubuhnya di samping Mariana. Mereka berpandangan lama. Tak ada yang berbicara, hanya hati mereka yang berkata-kata.


Embusan bayu laut membelai lembut wajah keduanya. Kicauan burung menyanyikan lagu rindu, bersama deburan ombak menampar pantai, mengalun merdu memecah keheningan.


Tangan Daniel membelai lembut kepala Mariana. Gadis itu tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya menatap samudera biru yang tak bertepi, dan langit yang tak berujung.


"Mungkin hati seperti langit yang tak bisa diduga. Tak tahu kapan mendung dan hujan akan datang, tak tahu apakah pelangi tengah menanti di balik gelap. Cinta pun demikian. Tak tahu kapan hati akan dihuni seseorang. Tak tahu apakah bahagia ataukah sedih kelak," katanya. Daniel diam.


"Aku kutip ayat itu dari seorang penulis, Mahir Pradana," lanjutnya.


Mariana kembali berpaling menatap Daniel, "Aku mencintaimu seringan saat aku sedang bernapas, tetapi sulit untuk melupakanmu sama seperti saat aku menahan napas."


Senyuman terukir di bibir Daniel. Sendu matanya memandang Mariana. Ia tahu Mariana bukan gadis yang puitis. Dia gadis yang periang, hiperaktif, dan cenderung agresif. Namun, mengapa hari ini berubah melankolis pula?


Daniel mengulurkan tangannya menggenggam erat tangan Mariana, ingin mengatakan bahwa 'Aku mencintaimu lebih dari apa pun, sekalipun dunia membencimu, tetapi aku akan tetap di sini menemanimu hingga hari aku dijemput Sang Ilahi.'


Mariana turut menggenggam erat tangan Daniel, sukar baginya untuk melepaskan lelaki itu. Cintanya hanya untuk Daniel. Namun, dikuatkan hati melafazkan kata yang mungkin akan mengakhiri kisah mereka.


"Hubungan ini tidak dapat dilanjutkan karena tidak membawa kebahagiaan untukku maupun untukmu. Jadi, lebih baik kita sudahi sampai di sini saja." Dia melepaskan genggamannya.


"Apa maksudnya?" tanya Daniel lembut.


"Mari kita putus!"


Daniel menggelengkan kepala. "Tidak! Kenapa tiba-tiba minta putus? Kita tidak sedang bertengkar. Tak ada angin, tak ada ribut. Kau bercanda, 'kan?" Ia kembali meraih tangan Mariana, tetapi ditepis lembut oleh gadis itu. Daniel terasa. Pilu hatinya.


"Tidak! Aku serius." Dia kembali menatap ke depan, melihat sekawanan burung yang sedang berburu mangsanya.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Kita sudah berjuang hingga saat ini, tinggal selangkah lagi kita akan bersama."


"Kapan? Aku sudah lelah, Dan? Aku capek."


"Begitu cepatkah kau berputus asa?"


"Iya, tak ada gunanya lagi aku harus berjuang dan bertahan. Sampai kapan pun keluarga kamu tak akan pernah merestui hubungan kita. Jadi lebih baik, kita akhiri saja."


"Tidak Ana! Kalau kau tidak suka di sini, kita pergi ke tempat lain. Tempat yang tak ada orang kenal kita. Jauh dari keluarga aku." Tak sanggup rasanya harus berpisah dengan Mariana pujaan hatinya.


Ia kemudian berdiri, lalu duduk bercangkung di depan Mariana. Meraih tangannya lalu digenggamnya erat.


"Ana, aku tak sanggup kehilangan kamu. Aku cintakan kamu, Ana." Diciumnya tangan Mariana bertalu-talu. Air mata lelakinya tumpah jua. Mariana turut menangis.


Langit berawan, seolah turut larut dalam kesedihan, mengenang kasih yang telah terjalin bertahun lamanya. Namun, harus berakhir dengan perpisahan, memisahkan dua insan yang saling mencintai.


"Kita pergi, ya? Pergi dari sini. Tinggalkan semuanya!" pinta Daniel.


"Mau lari lagi? Ke mana? Kita sudah coba, tapi gagal, kan?"


"Dan, ke mana pun kita pergi, semua tak akan sama lagi. Rasa hati ini telah pun layu terbakar oleh panasnya api kemarahan dan cemburu karena ketidakjujuranmu."


"Apa maksud kamu, Ana? Aku tak pernah membohongi kamu."


Mariana menatap anak mata Daniel mencari kejujuran di sana. Tak ditemukannya kebohongan yang tersirat.


"Apa kau pernah meniduri Novi?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mariana terasa seperti ditampar. Wajah Daniel memerah.


Ingin menyangkal, tetapi sepertinya Mariana telah mengetahui kebenarannya. Ia mengangguk samar. Menunduk lesu, menyesali akan kesilapannya.


"Se ... kali, tapi aku tak sengaja, Ana."


Air mata Mariana tak dapat dibendung lagi. Mutiara jernih itu kembali menganak sungai membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit mendengar pengakuan Daniel.


Daniel merengkuh tubuh Mariana, membawanya ke dalam pelukan. Isakan halus itu meluluhlantakkan hati Daniel.

__ADS_1


"Aku tak tahu bagaimana kejadiannya sampai meniduri Novi. Hari itu, aku mabuk berat. Saat aku sadar, Novi sudah ada di kamarku tanpa sehelai benang pun."


"Kau harus bertanggung jawab, Dan. Nikahi dia!" pinta Mariana di sela isakannya.


"Tidak! Itu takkan terjadi." Mariana melepaskan diri dari pelukan Daniel.


"Jangan kau abaikan anak yang tak berdosa. Jangan pula kau tambahkan dosa dengan membunuh anak itu."


"Apa maksudnya?" tanya Daniel.


"Kita tak dapat berpatah balik lagi. Kita tak mungkin mengabaikan perkara ini. Jadilah lelaki yang aku banggakan. Bertanggungjawablah atas perbuatanmu!"


"Ana ...."


"Tidak ada yang kusesali dari hubungan ini." Mariana menangkup wajah Daniel.


"Mengenalimu dan mencintaimu adalah anugerah yang terindah. Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku, mengenalkanku pada cinta dan luka. Menerimaku apa adanya. Terima kasih untuk segalanya.


Perpisahan bukanlah duka, walaupun harus memisahkan kita. Berat sungguh, tetapi percayalah aku juga merasakannya."


Daniel kembali merengkuh tubuhnya dalam pelukan. Mereka menangis bersama.


"Ana, aku tak ingin berpisah." Mariana menggeleng.


"Perlakukan Novi dengan baik. Mungkin ini takdir yang harus kita jalani. Aku juga mencintai kamu, Dan." Mariana kembali melepaskan pelukan mereka.


"Ini punya Novi." Mariana menyerahkan testpack yang diberikan Novi kemarin dalam tangan Daniel.


"Usia kandungannya hampir dua bulan." Daniel terperanjat. Merasa tak percaya akan kenyataan yang sebenar.


Mariana kemudian berdiri, berlalu meninggalkan Daniel dan kenangan lalu, membawa bersama sekeping hati yang luka.


Langkah kaki terus berayun. Deraian demi deraian air mata, menemaninya sepanjang perjalanan setapak demi setapak mengejar kebahagiaan lain yang mungkin menantinya di hadapan sana.


'Selamat tinggal, Daniel. Selamat tinggal, Kekasihku."

__ADS_1


__ADS_2