My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XXXIV


__ADS_3

Cuaca sungguh sejuk menusuk hingga ke tulang. Dari tadi dia hanya berdiri memandang takungan air mandi, menimbang-nimbang hendak membasahi seluruh badan ataupun tidak.


Dia coba mengendus aroma badannya sendiri, leher baju, ketiak kiri dan kanan.


"Bau masam," gumamnya. "Ellaah, nanti aku sembur parfum saja, harum juga, 'kan?" Dia menyunggingkan senyum, berdiri memeluk tubuh menghangatkan badan sendiri.


Tak berapa lama kemudian, dia keluar dari kamar mandi, menuju dapur. Mengambil korek api, lalu tangannya dengan cekatan mulai menghidupkan kompor minyak.


Menyala. Panci diletakkan di atas kompor, lalu diisikannya air setengahnya saja. Namun sebelum air mulai menghangat, api kompor mati sendiri. Rupanya kehabisan minyak tanah.


"Aish! Sudahlah! Mandi kerbau saja."


Gadis manis dengan tinggi badan 165 sentimeter itu berlari anak kembali memasuki kamar mandi. Cuaca sejuk membuat dia tergesa-gesa seperti dikejar hantu. Luaran ditanggalkan menyisakan dAlam4nnya saja.


Saat dia menanggalkan bajunya, salah satu butang baju tersangkut pada kalung emas putih hadiah dari Daniel saat ulang tahunnya yang ke 22 tahun.


Kalung itu dihiasi liontin berbentuk hati warna merah dan juga sebentuk cincin yang digantung bersama liontin.


Lama dia pandang cincin tersebut. Kata-kata nenek yang hendak memperkenalkannya pada Lee Min Ho versi nenek terngiang di telinganya.


Bagaimana dia bisa bertemu dengan lelaki lain, sedangkan dirinya sudah pun terikat dengan tali pertunangan? Walaupun hingga kini, ia tak tahu kejelasan tentang statusnya yang sebenar.


Dua Tahun Lalu


Di atas batu lempeng, di bawah pohon asam yang menjadi saksi bisu kisah kasih antara dia dan Daniel, Mariana duduk mengelus ukiran nama mereka. Daniel 💖 Mariana 19 Januari 20xx.


Mutiara jernih sudah bertakung di pelupuk mata. Ia mendongak menatap langit biru. Sebisa mungkin ia coba pertahankan untuk tidak menangis hari ini.


Walaupun hati terasa dicabik-cabik, diiris sembilu tajam, tetapi terkadang kita harus mengikuti kata hati, melepaskan sesuatu apabila sudah tak mampu lagi dipertahankan.


Dia mencintai Daniel, mereka saling mencintai. Berbagai dugaan telah mereka lalui bersama. Namun, apalah daya, rencana manusia, Tuhan yang menentukan segalanya.


Hari Sebelumnya


"Mariana!" panggil Novi.


Mariana menoleh. Gadis itu mengajaknya bertemu petang kemarin. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, itulah pesan yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp.


Mariana enggan menerima ajakan tersebut, tetapi Novi menegaskan bahwa ada sesuatu yang ingin ia katakan berkaitan dengan Daniel. Maka dengan berat hati, ia terima juga ajakan tersebut.


Wajah Mariana tak ramah. Masam mencuka, bibirnya muncung dua belas depa saat melihat Novi berjalan mendekatinya

__ADS_1


Sedangkan Novi asyik tersengih seperti kerang busuk. Hatinya riang gembira, membuat Mariana mencibirkan bibir. Geram.


Novi, menantu pilihan Ibu Dita. Gadis manis berkulit putih, berambut lurus, muka bulat, hidung mancung, bibir tipis. Secara keseluruhan, cantik. Dia tidak tinggi, mungkin hanya sebatas bahu Mariana. Kecil orangnya, sehingga ia kelihatan imut. Orang kata 'cute-cute.'


Mini Floral Wrap Dress dengan rambut panjang sebahu semakin menambahkan keanggunannya, berlenggak-lenggok bak model profesional. Sedangkan Mariana, seperti biasa, berkaus lebar dan celana jeans. Sederhana saja penampilannya.


Dia juga berasal dari keluarga terpandang di kota Larantuka. Ayah Novi bekerja sebagai dokter senior di rumah sakit tempat Daniel bekerja. Sedangkan ibunya merupakan salah satu pegawai bank swasta di kota mereka.


Novi, dengan karakternya yang lemah-lembut dan lebih gemar bermain dengan kanak-kanak, maka dia memilih untuk menjadi seorang pendidik.


Keluarga Novi dan Daniel berkawan rapat. Daniel dan Novi juga membesar bersama, sehingga ahli keluarga berharap kedekatan keluarga itu bertambah erat dengan menyatukan mereka berdua.


Kebetulan juga, Novi menaruh perasaan pada Daniel. Akan tetapi Daniel memilih Mariana, maka terjadilah pertentangan dan penolakan dari keluarga Daniel.


Mereka duduk di dua buah batu berasingan dekat lapangan Sekolah Dasar tempat Novi mengajar.


"Jangan tunjuk muka begitu," kata Novi saat melabuhkan tubuhnya di atas batu dengan berhati-hati.


Mariana mencebik. "Katakan saja apa yang kau mau! Aku tak ada waktu."


"Kau tak rindu aku, Ana?"


Novi menyunggingkan senyum. "Padahal aku sangat rindukan kau. Rindu waktu kita SMP dulu. Banyak hal yang ki ...."


"Hei! Kalau kau ajak aku sekadar mau bernostalgia, lebih baik aku pulang. Kau hidup senang, tapi aku tidak. Aku perlu kerja."


"Kau tahu kabar Nita dan Tia?" Mariana berdiri ingin berlalu dari situ. Namun tangannya ditarik Novi.


"Kau ini cepat sekali marah, langsung tak berubah dari dulu." Mariana melepaskan tangannya dari cengkeraman Novi.


"Aku mau minta maaf, tentang yang dulu dan sekarang." Suara Novi bergetar. Sepi. Mariana kembali duduk.


"Aku suka kak Dan, kau tahu itu,"lanjutnya.


"Kau suka. Tapi aku cintakan dia."


"Aku juga cintakan dia. Lagi pula sampai kapan pun hubungan kalian tak akan pernah direstui oleh keluarga kak Dan."


Perasaan Mariana berkecamuk. Ia tidak tahu bagaimana hendak membalas kata. Apa yang dikatakan Novi benar adanya.


'Sampai kapan dia harus bertahan?'

__ADS_1


"Kau tidak letih? Mempertahankan sesuatu yang bukan milikmu?"


'Letih? Iya, sangat.'


Tatapan matanya tajam memandang Novi. "Apa maksud kau?"


Novi merogoh tasnya, mencari sesuatu dari balik tas tersebut. Setelah mendapatkannya, ia menyerahkan benda tersebut pada Mariana.


Gadis itu bingung. "Untuk apa, ni?"


"Tes kehamilan."


"Kenapa kau kasih aku?" tanya Mariana.


"Aku mengandung, anaknya Kak Dan."


Seperti disambar petir siang bolong itu, Mariana kaku di tempat. Wajahnya merah padam. Kini dia paham akan perubahan sikap Daniel akhir-akhir ini. Lelaki itu selalu gelisah dan ketahuan mengelamun setiap kali mereka bertemu.


"He-he-he!" Mariana terkekeh. Novi kerut dahi. "Ha-ha-ha!" tawanya hingga badan turut bergoyang. Tawa yang mengandung sakit dan kebencian.


"Aku tak bercanda. Ini sudah hampir dua bulan." Novi mengelus perutnya. Senyuman tak lekang dari bibir. Namun, dia masih tak paham kenapa Mariana tertawa terbahak-bahak seolah itu sesuatu yang lucu.


"Novi, Novi! Aku tak paham dengan kau. Suka sekali tikam belakang kawan. Dulu kau tikam Nita dan Tia, aku jadi kambing hitamnya. Sekarang giliran aku yang kau tikam."


"Aku tak tikam orang, kau tu yang tikam kawan!" Novi melotot marah.


"Aku?" tunjuk Mariana pada diri sendiri.


"Iya, kau tahu aku dan kak Dan sudah bersama sejak kecil, tapi kau masih berusaha rampas dia dari aku."


"He-he-he!" Mariana terkekeh mendengarnya. "Aku kenal Dan saat kerja di kelab, lalu bagaimana aku tahu kau dan Daniel sudah bersama sejak kecil?"


"Tapi setelah itu, 'kan kau sudah tahu?"


"Lalu, kenapa? Daniel tak pernah sukakan kau , kalian juga bukan pasangan kekasih. Jadi Daniel bukan milik kau."


Mariana berdiri, tidak ingin berlama-lama di situ. Dia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya.


"Kau punya banyak pacar. Aku tak percaya itu anak Daniel," lanjutnya lalu mengatur langkah meninggalkan tempat itu.


"Kau harus percaya! Kalau tidak, tanya saja pada kak Dan!" teriak Novi.

__ADS_1


__ADS_2