
Bulan Mei merupakan Bulan Rosario untuk umat Katolik, dan juga merupakan bulan Lebaran bagi saudara muslim yang jatuh pada 1 Syawal beberapa hari lalu.
Dalam balutan jubah putihnya, ia terlihat berwibawa dan berkharisma memimpin musyawarah bersama para pemimpin agama, Ketua Dewan Stasi dari setiap stasi dan anggota yang memegang peranan penting dalam organisasi kategorial Orang Muda Katolik (OMK).
Mereka membahas tentang pengaturan acara berkaitan Bulan Rosario, barang persembahan dari jemaat dan keuangan hasil derma para jemaat dari semua stasi.
Setelah mencapai mufakat dari hasil musyawarah bersama, para anggota dan ketua dewan stasi mulai membubarkan diri. Tinggallah Romo Wens keseorangan berada dalam gereja tersebut.
Duduk dengan tenang sambil berdoa, menyerahkan diri dan segala urusan dunia ke dalam tangan yang Maha Esa, memohon semoga dipermudahkan semua rencana yang telah disusun bersama.
Di akhir doanya, dia melakukan gerakan tanda salib yang merupakan tanda kemenangan bagi umat Kristen.
Romo Wens berdiri, membawa serta sebuah buku catatan hasil musyawarah mereka tadi. Setelah kakinya mencapai pintu gereja, pandangan matanya menangkap sosok seorang pria yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.
Dia berdiri memeluk tubuh, sambil bersandar pada dinding gereja.
"Hai!" sapanya, setelah Andreas berdiri di hadapannya. Tersenyum.
"Huu!" Andreas seperti dikejar hantu. Kehabisan napas. "Kamu sibuk?" tanyanya tanpa membalas sapaan Romo Wens.
"Setiap hari memang sibuk. Kenapa?" Senyuman tak lekang dari bibir.
"Sekarang kamu sibuk tak?"
"Tidak. Saya baru habis musyawarah, sekarang mau pulang."
"Kalau begitu, bantu saya dulu." Dia mengatur langkah masuk ke dalam gereja. Romo Wens mengekor dari belakang.
"Bibir kamu tu kenapa?"
"Ditumbuk Mak Lampir." Dia menampar bibirnya. "Auch!" Gerakan refleks itu menyakiti bibirnya sendiri yang sudah membiru.
"Saya sudah berjanji untuk tidak mengumpat, tapi ...." Andreas duduk di atas bangku panjang paling depan, menggantung ayat yang diucapkannya.
Dia menyentuh sudut bibirnya yang terasa sakit. Pukulan Mariana semalam sungguh kuat, mengalahkan petinju profesional HEBI MARAPU. Petinju Indonesia asal Waingapu, Sumba Timur, NTT.
Dia sempat merasakan rahangnya bergeser, saat dipukul Mariana. Kalau diberi peluang Mariana bertarung melawan Hebi, mungkin si Hebi dibuat babak-belur pada ronde pertama. Ini dah berlebihan. Ha-ha-ha!
Romo Wens tersenyum penuh makna, paham apa yang telah terjadi. "Apa yang bisa saya bantu?" Turut melabuhkan tubuhnya di sebelah Andreas.
"Saya mau buat pengakuan dosa."
__ADS_1
"Ha-ha-ha!" Suara tawa Romo Wens menggema dalam gereja. Tapi saat melihat wajah serius Andreas, tawanya mati seketika. Ia mengetap bibir menahan senyum.
"Dosa apa yang sudah kamu buat?" tanyanya.
"Terlalu banyak, sampai tak terhitung jumlahnya." Andreas berdiri, berjalan menuju altar, kemudian berlutut di hadapan patung Yesus.
Ia memejamkan mata, berdoa dengan khusyuk melakukan pemeriksaan batin. Melihat kesungguhan Andreas, hati Romo Wens tersentuh. Ia berdiri, turut berdoa menyiapkan batinnya memohon untuk diberkati, lalu melangkah menuju ruangan khusus yang disediakan untuk para pastor melakukan pengampunan.
Ruangan itu kecil terlihat seperti kandang, cukup memuat satu orang dan dibatasi oleh penyekat. Jadi hanya Romo Wens yang berada di dalam, sedangkan Andreas nanti berlutut di luar.
Dalam tradisi Katolik, Sakramen Tobat atau Sakramen Rekonsiliasi selalu diadakan setahun dua kali selama masa Prapaskah dan sebelum Natal (masa Adven).
Tahun ini sudah diadakan bulan Maret lalu, tetapi hari ini Romo Wens mengadakannya sekali lagi hanya untuk si Tuan Pengecut Andreas.
Setelah melakukan pemeriksaan batin, Andreas mendekati Romo Wens. Berlutut di hadapannya walaupun dipasang penyekat. Ia membuat tanda salib lalu berkata, "Berkatilah saya, Pastor, sebab saya orang berdosa "
Romo Wens memberkatinya, Andreas menarik napas perlahan lalu mulai menyebut dosa-dosanya. Romo Wens memejamkan mata, setia mendengar.
"Sejak saya datang ke kota ini, pada hari pertama saya sudah tak dapat menahan diri dari amarah. Ada-ada saja yang membuat saya cepat naik angin. Apalagi saat bertemu si Krib ... ehem! Maksud saya, Mariana."
Romo Wens membuka mata saat mendengar nama Mariana disebut. Namun ia diam saja, lalu kembali memejamkan mata.
"Kami selalu saja bertengkar, dari perkara kecil yang remeh-temeh sampai perkara besar seperti semalam."
Andreas tunduk, menyesali ketidaksengajaannya melihat dan menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya. Hingga dia harus menekan hasrat yang tiba-tiba bergelora. Dia terdiam lama.
Senyuman Romo Wens semakin melebar. Dia tahu Andreas bukan mengaku dosa, tetapi pria itu sedang bercerita alias curhat.
"Jadi kamu sudah ketemu Mariana?" tanyanya.
"Belum."
"Lalu, si Kribo itu siapa?"
"Tuan rumah, nama mereka sama." Romo Wens mengangguk paham.
"Jadi sekarang fobia kamu sudah sembuh, kan?"
"Belum. Cuma ... saat dekat dengan dia, saya tidak rasa takut ataupun gemetar berlebihan. Mungkin karena saya tidak anggap dia sebagai perempuan."
"He-he-he!" Romo Wens terkekeh geli. "Tak anggap sebagai perempuan itu, maksudnya?"
__ADS_1
"Sikap dia yang plin-plan, tak serupa perempuan."
"Ooo!" Mengangguk lagi.
Andreas mendongakkan kepala menatap Romo Wens, lelaki itu masih memejamkan mata menunggu Andreas kembali bercerita.
Tetapi yang ditunggu, langsung tak bersuara. Andreas mulai menyadari pembicaraan mereka melenceng dari topik sebenar (pengakuan dosa).
Ia menggelengkan kepala. "Untuk semua dosa-dosa saya ini, saya mohon pengampunan dan penitensi dari Pastor."
Romo Wens tersenyum lalu berkata, "Apa kamu ingat ayat ini 'Jangan lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh!',
Biasakan diri untuk tidak segera terpancing dengan perkataan orang yang menimbulkan amarah dalam hati. Marah memang normal, tetapi kita tidak seharusnya menyimpan dendam karena itu sia-sia dan melelahkan."
Andreas diam mendengar. Banyak perkara yang ia lupakan sejak bertemu Mariana. Gadis itu seolah menjerat dia ke dalam lubang buaya.
"Setiap orang pernah memiliki hari-hari yang berat, punya kesalahan, dan hal-hal yang disesali. Ampunilah ... lupakanlah ... pulihkanlah ...."
Setelah itu sebagai penitensi, Romo Wens menyarankan dalam bentuk berdoa, Doa Tobat, Doa Bapa Kami, Doa Salam Maria dan Doa Aku Percaya.
Andreas mengucapkan terima kasih lalu berdiri, menuju altar berlutut di depan altar untuk menerima sakramen Maha Kudus dan mengucap syukur pada Allah atas karunia pengampunan dosa, Perbaharui niat dan minta pertolongan hanya dari Allah saja untuk mengatasi segala godaan.
Ia juga melakukan penitensi dalam bentuk berdoa, seperti yang disarankan oleh Romo Wens. Setelah selesai Romo Wens mengajaknya ke tempat tinggalnya yang disediakan untuk para pastor.
✨✨✨
NB
*n**aik angin : marah, berang dll (masih ada 57 kata yg sinonim*)
Mungkin kalian tertanya-tanya, “Loh, romo kan manusia biasa, mengapa mengaku dosa kepadanya?”
“Mengapa orang Katolik tidak langsung mengaku dosa kepada Allah?”
“Bukankah romo juga manusia biasa yang juga pernah berbuat dosa? Mengapa orang berdosa mengaku dosa kepada orang berdosa?”
Jawabannya :
Seorang imam bertindak sebagai “In Persona Christi” (Pribadi Kristus). Jadi, sesungguhnya bukan pribadi romo itu yang mengampuni dosa, tetapi Yesus Kristus melalui romo yang dalam sakramen imamat bertindak mengampuni dosa.
kalau mau tahu lebih lanjut bisa telusuri google, krn othornya juga cari dr google... oops ketahuan 🤭🤭🤭😁
__ADS_1