My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXVIII


__ADS_3

Seperti yang disepakati pada pertemuan pertama beberapa minggu yang lalu, menurut tradisi perkawinan Lamaholot, Mariana dan Andreas perlu menulis nama mereka di gereja, sekaligus mengikuti kursus pernikahan.


Atas saran Om Sina, pernikahan Mariana dan Andreas tak boleh ditunda lebih lama karena mereka sudah dijodohkan dua tahun yang lalu. Lagipun perkara baik tak boleh ditunda, takut nanti terkena panahan mata jahat. Maksudnya, mungkin ada orang yang tidak suka dengan bersatunya pasangan muda-mudi tersebut, sehingga berusaha menggagalkan ikatan pertunangan tersebut. Takutnya seperti itu, walaupun sampai sekarang perkara seperti itu tak pernah terjadi.


Itulah sebabnya sesuai kesepakatan itu, kini Andreas kembali menginjakan kakinya di kota Reinha-Larantuka. Langkah kaki terus berayun menuju destinasi rumah Mariana. Langkah kaki itu terhenti di bawah pohon mangga dekat simpang jalan menuju rumah Mariana.


Wajah Mariana menjelma di pelupuk mata, teringat kembali saat ia bertemu dengan gadis itu pada hari pertama ia datang mencari gadis yang bernama Mariana. Senyuman di bibir mengembang kala teringat waktu itu. Seorang gadis pengotor, busuk, berpakaian lebar seperti karung goni, topi anyaman yang hampir menutupi seluruh kepalanya. Tak lupa juga sepatu boot hitam yang menjadi alas agar ia tak berkaki ayam. Tak disangka-sangka, orang yang dicari ada di hadapannya.


Tit tit tit!


Bunyi klakson sepeda motor mengejutkannya, membuyarkan lamunannya tentang Mariana.


...***...


"Jadi, kamu serius mau nikah?" Romo Wens seolah tak percaya mendengar kenyataan yang disampaikan Andreas padanya.


Seperti burung beo, ia angguk lagi. Pagi itu, setelah misa harian pagi selesai, ia dan Romo Wens duduk di dalam gereja berbual-bual kosong, sekaligus mengatakan hajatnya ingin menikah.


"Akhirnya kamu sudi juga, ya terima Mariana," kata Romo Wens, sambil meninju lengan Andreas.


Sedangkan lelaki itu hanya tersengih menanggapi ocehan Romo Wens.


"Rencananya kapan?"


"Segera."


"Ai ... dah tak tahan lagi engkau. Ha-ha-ha!" Suara tawa Romo Wens menggema dalam gereja.


"Apa saja yang perlu disiapkan?" tanya Andreas. Sengaja mengalihkan topik, tak ingin dirinya dijadikan bahan gurauan.


"Memangnya kapan kamu mau daftar?"


"Besok."


"Bawa Surat Pengantar dari gereja masing-masing, Fotokopi Surat Baptis, Fotokopi Akte Kelahiran, Fotokopi Kartu KK (Keluarga Katolik) dari masing-masing lingkungan. Untuk sementara bawa itu saja. Ada bawa surat pengantar, kan?"


"Iya," jawabnya singkat.


"Kursus pernikahan nanti dilakukan pada ujung minggu." Andreas angguk.


Surat-surat yang dimaksudkan di atas, Andreas sudah menyiapkannya sebelum keluarganya datang meminang Mariana secara resmi. Hal itu karena, untuk menyiapkan surat pengantar dari lingkungan masing-masing itu membutuhkan waktu hampir enam bulan.


Itu pun belum mengikuti kursus. Mengurus surat pembaptisan saja, bukan surat asli, tetapi yang sudah diperbarui. Maksudnya, seandainya si A, lahir dan dibaptis di Jakarta, kemudian dua atau tiga bulan kemudian, pindah dan membesar di Kupang. Maka surat yang diperlukan, bukan surat pembaptisan asli itu, tetapi surat yang sudah diperbarui.


Jadi, memang rumit kalau menikah secara gereja Katolik. Apalagi bagi calon yang menikahi pasangannya non Katolik (pernikahan campuran) lebih susah lagi. Itulah sebabnya Andreas dan Mariana sudah menyiapkannya, setelah mereka berdua sepakat untuk menikah. Untung saja mereka tidak pernah berpindah tempat. Lahir, dibaptis dan membesar di tempat yang tetap. Jadi, tidak susah untuk mengurus surat-surat yang diperlukan.


Andreas masih diam menyimak penjelasan Romo Wens. Ia seolah lupa, bahwa ia pernah melakukan prosedur seperti yang dijelaskan oleh Romo Wens, sebelum rencana pernikahannya dengan Rena gagal.

__ADS_1


Ia kemudian pamit pulang setelah Romo Wens mendapat panggilan telepon.


***


Rumah Mariana terlihat sepi. Halaman rumah masih tertata rapi. Bunga-bunga yang sedang bermekaran pun disiram dan dirawat dengan baik. Tari memang istri idaman. Urus rumah, anak, suami, bahkan membantu Mariana di toko, ia mampu lakukan semua.


Batin Andreas tertanya-tanya, 'Apakah Mariana mampu jadi istri idaman seperti Tari?'


Setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan. Kita tak bisa samakan atau bandingkan seseorang dengan yang lain, karena itu tidak baik untuk mental seseorang. Itulah sebabnya, Tuhan menciptakan makhluk hidup secara berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi.


Sambil menopang dagu menatap ke luar jendela, ia membayangkan kehidupannya nanti bersama Mariana. Apakah mereka akan bermesra-mesraan seperti pasangan lain, ataukah mereka akan saling menjahili, membalas dendam seperti beberapa bulan sebelumnya?


Seandainya mereka bermesra-mesraan ...


'Ih ....' Bulu roma Andreas berdiri. Tubuhnya menggigil geli. Cepat-cepat ia bingkas bangun menuju kamar Mariana yang ia tempati.


Segera ia menyalin pakaiannya. Celana berwarna coklat sebatas lutut dan baju hitam longgar tanpa lengan. Terlihat santai. Daripada duduk melamun, lebih baik ia pergi ke tapak pembinaan rumah yatim-piatu St. Theresia, sekaligus melihat kinerja para tukang yang dipekerjakan di sana.


Setelah bersiap sedia, ia keluar rumah. Menutup pintu, lalu meletakkan kunci di bawah pot bunga Bougenville. Sebelum beredar dari situ, ia menumbuk bag tinju yang digantung di sebelah tangga.


...***...


"Perempuan tak boleh angkat kaki tinggi-tinggi." Tari menghempaskan kaki Mariana dari atas meja.


Gadis itu hanya memonyongkan bibirnya. "Tak ada orang tak apa," jawabnya santai, sambil matanya tak lepas dari layar Hp yang digenggamnya, membuat Tari semakin geram.


Mariana melakukan seperti yang dikatakan Tari. "Ai ... kaki aku tak sampai." Ia tertawa terbahak-bahak.


"Tata, kau tu akan nikah tak lama lagi, jadi, perlu jaga sikap. Mentang-mentang tak ada orang, angkat kaki tinggi-tinggi." Wajah Tari masam mencuka. Ia melabuhkan tubuhnya di depan kursi yang diduduki Mariana.


"Jangan sampai di depan suamimu nanti, kau angkat kaki tinggi-tinggi. Dosa," katanya menasihati sang kakak.


Tari memang berbeda dengan Mariana. Lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Ia selalu menjaga adab di mana pun ia berada. Tutur katanya, tingkah lakunya selalu dijaga, selalu bersikap lemah lembut. Itulah yang membuat Fendi jatuh hati padanya.


Sedangkan Mariana ... gadis itu selalu bertindak ikut suka hatinya. Bukan karena ia tidak tahu adab, tetapi, ia tak suka diatur. Buat apa selalu bersikap sopan, lemah lembut, sedangkan di dalam hati penuh berduri. Tunjukan diri sendiri yang sebenarnya. Tak perlu berselindung di balik topeng yang disebut adab.


Telinganya pun sudah berasap, sejak keluarga Andreas datang meminangnya. Hampir setiap hari ia dinasihati tentang ini dan itu, terutama nenek. Macam-macam petuah yang disampaikannya. Apalagi saat nenek tahu, Andreas merupakan cucu sahabatnya. Semakin berkobar-kobar semangat 'tuk menasihatinya.


"Iya, Adikku sayang," jawab Mariana.


"Ali a ... Hp mana yang paling bagus." Ia coba mengubah topik. Tari menggeser kursinya, diletakkannya bersebelahan dengan Mariana.


"Mana?"


"Huawei atau Xiaomi?"


"Huawei bagus, tapi Redmi juga bagus." Mariana men-skrol layar ke bawah mencari harga ponsel yang lebih murah.

__ADS_1


"Jangan pilih yang murah. Yang murah tu selalu tak tahan lama," kata Tari.


"Ai ... murah pun harganya berjuta. Gaji aku di kelab pun tak cukup."


"Beli yang ini," tunjuk Tari, "Redmi yang ini keluaran terbaru. Coba baca komentarnya."


"Semua kata, 'bagus,' tapi kau lihat harganya. Gila ... tiga juta lebih." Mariana sampai berdiri dari tempat duduknya.


"Tapi dia ada free gift, jadi kira tidak begitu rugi." Mariana terdiam. Ia masih menimbang-nimbang ingin membeli ataupun tidak. Tadi ia melihat satu jenis ponsel yang harganya tak sampai sembilan ratus ribu. Komentar para pembeli pun kata, 'bagus.'


"Tata, janganlah kikir dengan diri sendiri! Kau bahkan mampu kredit motor mahal untuk Agus, kenapa untuk diri sendiri kau sangat kikir?" Mariana masih terdiam.


"Daripada kau pakai Huawei yang sudah layak masuk museum, lebih baik beli yang bagus ni," katanya sambil merampas ponsel dari tangan Mariana.


"Tapi terlalu mahal."


"Biar aku yang beli, nanti tolak gaji aku saja.


"Iyalah. Pakai kartu kredit aku ni." Mariana tak sampai hati harus menolak gaji adiknya.


Tari kemudian menekan kata 'Beli sekarang.' Ia juga memilih beberapa helai gaun untuk Mariana, tetapi ia tidak menggunakan kartu kredit Mariana, melainkan miliknya. Ia melakukan semua tanpa pengetahuan Mariana.


"Tata!" panggilnya.


"Hmm." Mariana sudah kembali sibuk membuat patung.


"Kau tak mau ketemu pak Ande? Dia datang kemarin."


"Tahu. Tapi mama larang, makanya aku pulang ke rumah mama. Katanya takut si Tuan Perjaka tu tergoda." Ia terkekeh.


"Kalau ada hal penting, nanti dia telepon. Jadi, tak perlu khawatir."


"Aneh kalian berdua ni. Pasangan tapi macam musuh. Seharusnya lebih perhatian, kalau sudah bertunang."


"Ali a."


"Hmm." Mariana mendongakkan kepala menatap adiknya yang masih sibuk melihat ponsel.


"Bagaimana kalau kita juga berjualan online di Shopee atau Lazada?"


Tari terus menoleh menatap sang kakak. Bibirnya menyunggingkan senyum.


Kenapa kita tidak terpikir dari dulu?" tanyanya.


"Sistem otak baru saja bekerja, Sayang," jawab Mariana.


Ha-ha-ha.

__ADS_1


__ADS_2