
["Darling, sudah anu-anu, belum?"] tanya Gina dari seberang. Berbisik, takut ada yang mendengar.
["Belum,"] jawab Mariana tak bersemangat.
["Habis tu, selama kau berdua pergi bulan madu itu, kau buat apa saja?"] Giliran Hendra pula yang menyoal. Pagi itu mereka melakukan panggilan video bertiga. Mariana, Gina dan Hendra.
["Trik aku tidak bekerja."]
Mariana membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang sudah seminggu ini ia tempati. Kamar tamu sederhana yang terletak di tingkat bawah, kini menjadi kamar tidur Mariana. Badannya terasa sangat lelah. Beberapa hari ini, setelah pulang dari Bali, ia disibukan dengan acara adat pernikahan mereka. Ahli keluarga Andreas yang tak sempat hadir di Larantuka, mereka datang ke rumah ayah mertua.
Kebetulan Om Alo membuat acara kecil untuk menyambut menantu. Saat di rumah Mariana tidak dilakukan 'lerong kawit' atau yang disebut dengan peresmian pernikahan. Oleh sebab itu, Om Alo membuat acara tersebut di rumahnya, sekaligus mengundang sanak saudara jauh yang tidak sempat hadir saat pernikahan dua minggu yang lalu.
["Kau pasti tidak goda si Tuan Perjaka,"] kata Hendra, ["kau tahu, Darling, lelaki tak akan tahan kalau asyik berduaan dengan perempuan. Godaan itu sangat besar.]
["Kau dengar itu, Darling. Buktikan siapa Mariana yang sebenarnya. Waktu SMA saja kau bisa ungkapkan cinta kau pada pak Jhon di depan semua murid, masa dengan suami sendiri kau tidak berani goda."] Gina mulai provokasi.
Gadis itu tertawa mendengar Gina mengungkit kisahnya.
[Taklukan si Tuan Perjaka!"] teriak Gina dan Hendra bersama dari seberang telepon.
["Rampas keperkasaannya!"] Suara Gina terdengar lantang, menyemangati sahabatnya.
["Darling, lupa tanya. Kau sudah ada hp? Majikan kau kasih kau hp?"] tanya Mariana.
Gina menggeleng. ["Pinjam teman punya yang kerja dengan tetangga sebelah rumah. Dia orang Filipina,"] jawabnya.
Mariana dan Hendra hanya mengangguk. Banyak yang mereka ceritakan. Saling berbagi kisah, terutama tentang keadaan Gina di Singapura dan pekerjaannya. Ternyata gadis itu menjaga orang tua. Ibu kepada majikan lelakinya yang menolongnya waktu ia hampir kehilangan harapan untuk bertahan hidup di Singapura.
Majikannya juga yang membantu melunasi utang kepada para lintah darat yang mengejarnya ke Singapura. Itulah sebabnya, ia bekerja kepada lelaki itu sebagai ganti membayar utangnya. Lagipun ahli keluarga majikan memperlakukannya dengan baik. Ia bahkan diizinkan untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda. Kata Gina, ia akan pulang ke tanah air setahun lagi. Walaupun kecewa, Mariana dan Hendra tetap menerima dan menyokong keputusan sahabat mereka.
...***...
Alunan lagu Seroja begitu membingitkan telinga yang mendengar. Mariana menggeliat setelah beberapa kali panggilan dari ponselnya terputus.
__ADS_1
"Ai, siapa lagi yang mengganggu, ni?" Mariana menggerutu.
["Halo!"] Suaranya terdengar parau.
["Nona, kamu tidur?"] tanya mama dari seberang.
["Mama!"] panggilnya.
["Iya, dengan Mama, ni."]
["Mama di mana?"]
["Mama di rumah abang Sius kamu."]
["Belum pulang ke rumah?"] Ia kemudian bangun duduk bersimpuh, sambil bersandar pada kepala ranjang.
["Belum."] Hening.
["Nona!"] panggil mama lagi
["Mama dan mama besar mau ke rumah kamu dan menantu."]
["Ha? Mau buat apa?"]
["Mau kunjung kamu, to? Mau lihat rumah kamu juga. Besok Mama sudah pulang ke kampung. Setelah ini, lama baru kita bisa ketemu lagi."] Suara mama terdengar lirih. Ada kesedihan dalam nada bicaranya.
["Pukul berapa Mama datang?"]
["Kami sudah siapa, ni. Se ...."] Belum selesai mama bicara, Mariana sudah memutuskan panggilan mereka secara sepihak.
Dia kelam kabut keluar dari kamar. "Tuan Perjaka! Tuan Perjaka!" panggilnya dari lantai bawah.
Tak ada sahutan, Mariana berlari mendaki anak tangga. Langsung menerobos masuk ke dalam kamar, tanpa mengetuk pintu, setelah ia sampai di depan kamar sang suami.
__ADS_1
"Tuan Perjaka!" panggilnya, tetapi tak ada jawaban.
Mariana berlari anak mendekati ranjang. "Andreas!" Sambil menggoyang tubuh lelaki yang sedang terlena.
Andreas menggeliat. Ia pun bangun, duduk bersimpuh setelah mendengar teriakan burung gagak.
"Ada apa?" tanyanya, sambil mata terpejam.
"Mama aku dan kakaknya akan datang ke sini."
"Biarkan saja mereka datang."
"Sekejap lagi mereka datang."
"Habis, tu? Biarkan saja, to?" Andreas kembali berbaring. Rasa kantuknya belum hilang.
"Kau tahu, tidak. Mama besar aku, tu, suka periksa kamar tidur pengantin baru, ranjang, lemari dan sebagainya."
Serta-merta Andreas bangkit dari pembaringannya. "Lalu, bagaimana?"
"Apalagi. Kita tidak mungkin, to, biar mereka tahu kita pisah ranjang?" Andreas mengangguk.
"Ayo, bantu angkat barang aku di bawah!" Menarik tangan Andreas untuk mengikutinya, tetapi lelaki itu bergeming.
Mariana lalu menatap Andreas. Suaminya itu menghempaskan tangannya, lalu berdiri memeluk tubuh.
"Ini trik kau, to?" Anak matanya menatap Mariana penuh selidik. Ia masih ingat waktu membuat keputusan untuk tidur terpisah.
Istrinya itu menolak ide tersebut. Ia berkeras untuk tidak pisah ranjang. Katanya, walaupun mereka tidur sebilik, ia akan tempati sofa atau tidur di lantai beralaskan tikar.
Andreas tak setuju. Ia tak sampai hati membiarkan Mariana tidur di sofa ataupun lantai karena ia masih memiliki empati. Mau berapa lama tidur di sofa? Tidak mungkin, kan membiarkan gadis itu tidur di sofa selama masa pernikahan mereka? Lagipun, rumah ini memiliki beberapa kamar kosong. Daripada membiarkan kamar itu berdebu, lebih baik Mariana tempati salah satunya.
Mariana menendang kaki Andreas. "Buat apa aku pakai trik? Kalau mau, aku bisa perkosa kau sekarang juga."
__ADS_1
Mata Andreas membulat mendengar kalimat Mariana. Gadis itu langsung tertawa melihat mimik muka sang suami.
"Lucu lihat muka kau," kata Mariana setelah tawanya mereda, "ayo, cepat bantu aku!"