My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XXI


__ADS_3

Agus menunggang motor Honda Wave Alpha 110 MDL Spoke Rim miliknya sambil membuntuti sepeda butut yang sedang dikayuh oleh seorang wanita cantik yang sangat ia kenal.


Ia senantiasa menjaga jarak agar tidak ketahuan. Kadang-kadang ia merasa cemas, apabila sang gadis menoleh ke belakang, dengan cepat ia merendahkan tubuhnya.


Tak seharusnya ia merasa cemas, karena jaket hitam dan helmet hitam sudah melengkapi penyamarannya. Namun, dia tahu kakaknya itu mengenali motor, jaket dan helmet yang dia pakai. Jadi, wajar saja dia merasa cemas.


Sepeda butut itu berhenti di depan bangunan besar yang dihiasi dengan lampu kelap-kelip berwarna-warni. Agus memandang tulisan yang terpampang di depan tepat di atas pintu masuk, 'KELAP MAWAR MERAH.'


Agus mengetap gigi. Urat lehernya menegang tiba-tiba, deru napasnya pun memburu. Ia memarkirkan motor Hondanya, menguncinya kemudian berjalan memasuki bangunan besar tersebut.


Sampai di dalam, ia disambut dengan suara dentuman musik yang memekakkan telinga. Keadaan begini sudah biasa baginya. Hidup di kota besar seperti Makasar, memang banyak pengaruh buruk, sehingga suasana seperti ini sudah tidak asing lagi baginya. Namun, ia tetap tidak terima, apabila mengetahui kakaknya bekerja di tempat seperti ini.


Dia duduk di sebuah kursi paling sudut, menatap beberapa orang muda yang sedang bercengkrama. Baru pukul 6.30 WITA, jadi belum ramai pelanggan yang datang berkunjung.


Agus menutupi wajahnya menggunakan jaket apabila datang seorang gadis yang sangat ia kenal mendekati meja bartender.


Gadis itu masih memakai pakaian yang dikenakannya tadi. T-shirt abu-abu lebar berlengan panjang dan celana jeans panjang di atas mata kaki. Sepatu sport putih menyembunyikan kakinya yang mungkin berukuran 37. Bercengkrama dengan lelaki yang bertubuh tinggi dan tampan. Mereka bergelak tawa, terlihat akrab. Kadang-kadang pria itu mengelus-elus kepala sang gadis. Tidak terlihat pun pandangan mata yang menggoda dan nakal dari sang pria. Agus jadi bingung sendiri. Ingin menghampiri mereka, tetapi, diurungkan niatnya.


'Benarkah, Tata Ana jadi wanita murahan?' hatinya tertanya-tanya.


Tak lama setelah itu, sang kakak berpamit pergi. Ia masih duduk di sana melirik jam pada ponsel Huawei Nova 7 miliknya. Tinggal sepuluh menit lagi pukul 20.00 WITA.


'Hmm! Toni dan Jimi perlu dikasih pelajaran. Aku akan buat perhitungan dengan mereka nanti.' batinnya kesal.


Dia pun beranjak ingin berlalu meninggalkan tempat tersebut. Walaupun dia teringin berhibur, tetapi janjinya pada Natan belum ditunaikannya. Janji untuk bermain Mobile Legends bersama-sama lagi. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, suara merdu sang pembawa acara menghentikan langkahnya.


"Selamat malam semua, selamat datang dan selamat menikmati hiburan malam ini."


"Huuuuu!" sorak para pengunjung.


Agus memalingkan wajahnya. Matanya melotot tak percaya. T-shirt abu-abu lebar dan celana jeans sudah diganti dengan gaun seksi merah darah sebatas paha, melekat ketat membentuk lekuk tubuh Mariana. Sport shoes putih sudah diganti dengan tumit tinggi runcing merah, sedondon dengan warna gaunnya. Rambut hitam berombak yang tadi dibiarkan terurai, kini diikat tinggi memamerkan leher jenjangnya.


Para pengunjung tua-muda, laki-perempuan berdesak-desakan di dekat panggung hiburan. Ia terlalu asyik mengintai sang kakak tadi, sehingga tak menyadari kelap malam itu sudah dipadati pengunjung.

__ADS_1


Ia masih berdiri mematung di sana, saat Mariana mulai menyanyikan lagu dangdut 'Lagi Kangen.'


🎵 Emang lagi kangen


Kangen kangen sama kamu


Iya, sama kamu, duhai sayangku 🎵


Suaranya yang merdu, goyangannya yang aduhai, ditambah dengan musik yang sudah diubah oleh DJ-nya, membuat suasana semakin panas, mengundang para pengunjung juga turut menggoyangkan pinggulnya.


Beberapa pemuda mulai naik ke atas panggung, berjoget bersama, ada yang memegang pinggul Mariana bergoyang bersama dari depan dan belakang.


Perasaannya berkecamuk dalam jiwa. Dia selalu melihat kelakuan wanita yang begitu liar, tetapi tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya kalau kakaknya juga berkelakuan demikian.*T*ak pernah sekalipun dia melihat Mariana berpakaian seksi, mempertontonkan lekuk tubuhnya pada orang lain.


'Benar kata Toni, takkan ada asap kalau tak ada api.'


Gosip yang beredar tentang kakaknya, memang benar adanya.


'Apakah benar hanya aku yang tidak tahu?'


...***...


Musik masih lagi berdentum keras. Pandangan matanya liar mencari sosok bergaun merah di antara manusia yang sedang menikmati hiburan. Penyanyi di panggung sudah diganti oleh seorang gadis cantik berkulit putih bersih. Namun, tak ditemukan orang yang dicarinya.


Ia berjalan menuju bartender, kemudian bertanya pada seorang pelayan wanita.


"Kak! Ada lihat Ann? Penyanyi gaun merah tadi." Pelayan itu tak menjawab, dia hanya menunjuk ke arah lorong.


"Terima kasih," ucap Agus.


Mariana baru saja keluar dari dalam toilet, tetapi dia tersentak saat seseorang menarik tangannya, lalu mengungkung tubuhnya di balik tembok.


"Hai!" Dia coba beramah mesra.

__ADS_1


"Si cantik! Maukah kau menemaniku malam ini?" tanyanya dengan pandangan menggoda.


"Hmm! Bagaimana ya? Itu bukan tugas saya," jawab Mariana sambil menyentuh rahang lelaki di hadapannya menggunakan jari telunjuk.


"Aku akan bayar mahal, Sayang!" Mariana tersenyum manis. Tatapan lelaki tersebut semakin bernafsu.


"Mahal itu buat aku tergiur. Tapi ...." Dia berhenti sejenak. "Maaf! Aku terpaksa menolak." Mariana mendorong perlahan tubuh kekar pria tersebut.


Namun dia kembali ditarik dan dikungkung. Kali ini lebih kasar dari sebelumnya.


"Sayang! Tak usah munafik." Wajahnya merah padam menahan amarah. Mariana kerut dahi, tidak suka.


"Tuan kaya! Aku tidak munafik. Di sini setiap orang mempunyai tugas masing-masing." Mariana coba berlembut. "Kalau tuan mau, aku rekomen temanku. Dia paling ahli," lanjutnya sambil mengedipkan mata.


"Aku hanya menginginkanmu."


Mariana menghela napas. Dia tidak suka dipaksa. Lelaki itu mencoba mencium Mariana. Mariana memalingkan wajahnya ke samping.


Deru napas lelaki itu memburu. Dia tidak suka di tolak. Secara paksa dan kasar, ia meraih kepala Mariana. Saat ia hampir mempertemukan bibir mereka, Mariana menendang 'meriam' miliknya menggunakan lutut.


"Auch!" rintihnya kesakitan *S*erta-merta Mariana membalikkan keadaan. Ia menarik kedua tangan lelaki tersebut, menguncinya di belakang kepala, lalu mendorongnya merapat ke dinding. Lututnya di letakan tepat di depan 'meriam' pria tersebut, lalu menekannya dengan keras.


"Sudah kukatakan, kalau aku menolak. Dan tugas saya hanya di panggung hiburan." Ia berbisik tepat di samping telinga, dengan tubuh mereka yang begitu rapat, sehingga orang yang melihat menyangka mereka sedang bermesraan.


Mariana tersentak saat ia ditarik dari belakang dengan kasar. Serta-merta ia melepaskan tubuh leleki yang dikungkungnya. Ia semakin terkejut saat mendapati adiknya yang menariknya.


Wajah Agus terlihat garang. Urat nadinya terlihat jelas di dahi. Nyali Mariana seketika menciut. Tanpa sepatah kata pun, Mariana di tarik dengan kasar meninggalkan si tuan kaya yang merintih kesakitan.


Tak lama berselang, seorang pria tampan datang mendekati si tuan kaya.


Dia tersenyum. "Jangan kau ganggu gadis itu. Dia adik kami. Tugasnya di panggung hiburan. Kalau kau berkeras, kau akan berhadapan dengan mereka." Tunjuknya pada sepuluh lelaki berbadan tegap.


Si tuan kaya menelan ludah. Ia kemudian dituntun ke sebuah ruangan. Ia diperlakukan dengan baik seperti seorang kawan baru. Mereka minum dan bercerita bersama. Akhirnya dia tahu. Semua pekerja di Kelap Mawar Merah diberi perlindungan oleh Abang Budi, termasuk para bodyguard. Mereka juga mempunyai tugas masing-masing, kecuali diminta untuk menggantikan tugas seseorang.

__ADS_1


Para bodyguard tersebut, selalu di pandang sebelah mata oleh masyarakat di sekitar tempat mereka bermukim, tetapi mereka diperlakukan dengan baik oleh Abang Budi dan pekerja di Kelap Mawar Merah, *d*an di balik ketegasan para bodyguard yang merupakan bekas narapidana, mereka memiliki hati sehangat mentari pagi.


__ADS_2