
Terdengar suara azan dari kotak hitam empat segi yang diletakkan di ruang tamu rumah bertingkat dua itu. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19.30 WITA, tetapi, Mikel belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Mau makan dulu atau tunggu Mikel?" tanya Mariana dari arah dapur. Gadis itu masih berperang melawan kompor gas dan kawan-kawannya. Tak banyak lauk yang perlu dimasak, hanya menanak nasi dan tumis sayur rumpu-rampe. Ikan tongkol masak gulai pedas tadi yang diberikan oleh Kak Siti dan ayam goreng yang ia beli waktu pulang dari menziarahi makam sahabatnya, tinggal dipanaskan di dalam microwave.
Andreas yang sedang duduk membaca koran di ruang tamu menjawab, "Kita tunggu dia sebentar."
Setelah siap menghidangkan makanan di atas meja, Mariana menyusul Andreas ke ruang tamu. Duduk di sebelah Andreas, sambil bermain ponsel. Tak ada yang bersuara, hanya terdengar bunyi dari kotak hitam di hadapan mereka, yang menyiarkan berita dari saluran SCTV. Masing-masing sibuk dengan dunianya. Mariana sibuk dengan ponsel, Andreas pula asyik membaca berita tentang liga Eropa.
Sesekali terdengar juga Mariana terkikik-kikik ketika membaca pesan WhatsApp dari Hendra.
Andreas menjeling Mariana melalui ekor mata. Tertanya-tanya hatinya akan apa yang menyebabkan Mariana terkikik sendiri, tetapi berat mulut untuk bertanya. Namun, lama-kelamaan ia tak tahan lagi.
"Eh, Kribo! Kalau kau mau ketawa, ketawa sajalah. Telinga aku sakit dengar suara kau yang seperti gagak sakit kerongkongan." Andreas mengorek telinga kiri.
Seketika tawa Mariana lepas, sambil melempar bantal mengenai muka Andreas. "Apalah kau, ni," katanya, "ha-ha-ha!"
"Kita makan saja dulu, simpan saja lauk untuk Mikel," kata Andreas coba mengalih topik, sambil berdiri menuju ke dapur.
Mariana turut mengangkat pantatnya menyusul Andreas.
***
Mariana mulai bosan dengan suasana yang hening seperti di pekuburan. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang mengisi keheningan di antara mereka.
"Kau suka gulai ikan tongkol, tu?" Mariana membuka suara, sengaja mencari topik untuk berbual.
Andreas mengangguk. "Hmm, sedap!" Lelaki itu kemudian menatap sang istri. "Sudah simpan untuk Mikel, 'kan?"
Mariana mengangguk. Dalam diam Mariana mulai menyadari kalau Andreas sangat memedulikan Mikel. Hubungan mereka baik, walaupun tidak rapat dan mesra.
Hening. Namun, tak lama kemudian, Mariana berkata lagi, z"Tuan Perjaka, bagaimana kalau kita main satu permainan?"
Andreas kerut dahi. "Mau main apa lagi?"
Mariana tayang gigi. "Apa sajalah," katanya, "mau main teka teki?"
"Kau seperti anak kecil saja." Andreas mengulurkan tangan hendak mengambil sepotong lagi ikan tongkol, tetapi, segera dialih ke tepi oleh Mariana.
"1, 2, 3 ...." Mariana menghitung jumlah ikan yang tersisa. Ia kemudian menatap Andreas. "Ada delapan ekor. Ayam goreng ... sisa delapan juga."
__ADS_1
"Lalu?"
Mariana menaik-turunkan alis mata. "Yang dapat jawab teka-teki lawannya, dia bisa ambil sepotong."
Andreas menyuap sesendok nasi ke mulut. "Malas," katanya.
"Eh, kau selalu begitu. Takut kalah, ya?"
"Siapa yang takut?" Andreas tak terima. Sendok di tangannya diletakkan kembali. "Ayo, kita mulai!" Mariana mengulum senyum.
"Batu, kertas, gunting!" seru Mariana.
Keduanya mengulurkan tangan serentak. Mariana membuka telapak tangan yang berarti, 'kertas', Andreas mengepalkan tangan yang berarti, 'batu'.
"Apa yang lebih tinggi dari gunung?" Tanpa menunggu Andreas bersiap, Mariana sudah melontarkan pertanyaan teka-teki yang pertama.
"Pohon yang tumbuh di atas gunung," jawab Andreas santai. Ia langsung mengambil sepotong gulai ikan tongkol.
Tanpa memberikan kesempatan kepada Andreas yang mendapat giliran, Mariana kembali bertanya, "Apa yang lebih kecil dari mulut semut?"
Jawab Andreas, "Makanan yang masuk ke dalam mulut semut."
"Ha-ha-ha!" Ruang dapur seketika riuh dengan hilaian tawa mereka berdua.
"Film Telugu itu banyak nilai murni yang bisa kita petik," kata Andreas.
Mariana mengangguk setuju. "Iya, film yang dilakonkan oleh Fahadh Faasil itu, banyak yang bisa kita petik nilai murninya. Kesetiaan, kejujuran, tapi yang paling penting itu, harta bukanlah yang utama. Ending-nya, Rajasree lebih mencintai Dr. Arun daripada kalung berliannya." Pandangannya menerawang jauh, mengingat kembali kisah dalam film Telugu itu.
"Bersisik ...."
"Eh, sekarang giliran aku!" Andreas memotong kalimat Mariana. "Kau curang, sudah tanya dua kali."
Mariana tayang gigi. Ia lupa sebenarnya.
"Oke."
"1 + 4 \= 5, 2 + 5 \= 12, 3 + 6 \= 21, 8 + 11\= ?"
Bola mata Mariana berputar-putar, seperti otaknya yang sedang ligat berpikir. Sekejap kepalanya pusing ke kiri, sekejap pusing ke kanan. Sudah beberapa saat berlalu, tetapi jawaban belum ia temukan juga. Gadis itu berdiri, mengambil selembar kertas yang terletak di atas kulkas. Kemudian ia kembali duduk, mulai menghitung angka yang tepat menggunakan logika.
__ADS_1
"Dua menit sudah berlalu." Andreas mencubit isi ikan tongkol lalu disuapkan ke mulut.
"Satu." Ia mulai menghitung. "Dua." Mariana menatap Andreas, mencari jawaban yang mungkin tertulis di dahi sang suami.
"Dua setengah."
"Menyerah!" Andreas tersengih seperti kerang busuk. Kali ini ayam goreng yang dibahamnya.
"Jangan buat teka-teki matematika! Otak aku tak sampai ke sana." Wajah Mariana berkerut, mengalahkan nenek-nenek keriput yang sudah berumur seratus tahun.
"Apa jawabannya?" tanya Mariana.
"S–J–T–T," jawab Andreas.
"Apa itu?"
"Saya–Juga–Tidak–Tahu. Ha-ha-ha!" Sepatah sepatah Andreas menjawab diiringi gelakan. Nasi dalam mulutnya sampai tersembur mengenai muka Mariana. Gadis itu duduk melongo tak percaya. Mariana menghela napas. Penat otaknya berpikir, tetapi ternyata, si Tuan Perjaka juga tak mengetahui jawabannya. Ia dikerjakan oleh Andreas.
"Sekarang giliran aku." Mariana menarik napas.
"Naik gunung, turun gunung, jangan lupa kiri kanan."
Giliran Andreas yang pening kepala memikirkan jawaban.
"🎶 Fatima, betismu bulir padi, dadamu penuh isi bagai Gunung Kinabalu 🎶." Mariana bernyanyi, sambil menggoyangkan badan. Sengaja ia menekan perkataan 'gunung'.
Andreas tersedak mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Mariana. Cepat-cepat nasi yang tersisa di dalam piring disuapkan ke dalam mulut.
Melihat itu, Mariana semakin gencar menyanyi. "🎶 Fatima, bolehkah abang tanya, perawan atau janda, nikmatilah keindahan. Janda pun boleh, perawan apalagi 🎶."
Andreas berdiri. "Aku sudah selesai makan," katanya, kemudian berjalan menghampiri kursi Mariana yang duduk berhadapan dengannya.
Tuk!
"Otak kau hanya berisi pikiran mesum."
Mariana dibuat tak berkutik. Mulutnya sampai terbuka lebar mendengar alasan Andreas.
"Ha-ha-ha!" Ia kemudian terbahak-bahak, sambil menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu dapur.
__ADS_1