
"Aku ikut." Andreas berdiri di hadapannya. Mariana tersenyum kemenangan. Ia menepuk pantatnya, mengusir debu yang melekat di belakangnya.
Andreas terkesiap saat Mariana menggenggam tangannya, menuntunnya mengikuti langkah Mariana.
"Eh, Kribo! Lepaskan tangan aku! Aku bisa jalan sendiri." Andreas mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Mariana. Namun, nihil. Semakin kuat ia mencoba, semakin erat Mariana menggenggam tangannya.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Andreas.
"Kita mau ke mana?" tanya Andreas.
"Hush! Jangan berisik! Nanti aku kasih tahu," jawab Mariana.
Mereka berjalan begitu rapat, beriringan melewati rumah-rumah penduduk, menghindari tempat-tempat yang diterangi cahaya lampu neon, melalui tempat gelap atau kawasan minim cahaya. Sesekali Mariana bersembunyi di balik tubuh Andreas saat bertemu dengan sekawanan anjing.
"Kau pengecut juga rupanya," bisik Andreas.
"Diamlah!" marah Mariana.
Andreas sendiri merasa heran, dia mampu menahan diri saat begitu rapat dengan Mariana, padahal sebelum ini, jika berhadapan dengan perempuan, ia hanya mampu bertahan kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit.
Setelahnya ia akan merasa tidak nyaman dan badannya selalu gemetar. Jangankan bersentuhan kulit, berdiri dekat saja, sudah tidak tahan. Lain ceritanya saat bersama Rena dulu. Keinginannya untuk memiliki Rena, ia sanggup mengarungi lautan, menempuh badai dan gelombang samudera. Ia sanggup melakukan apa saja hanya dapat bersama Rena.
Andreas semakin heran, entah ke mana dia dibawa Mariana. Hingga sampailah mereka di ujung kampung.
Andreas menarik tangan Mariana. "Kita sebenarnya mau ke mana?" tanyanya lagi berbisik di tepi telinga Mariana, karena Mariana melarangnya bersuara keras. Mariana tersengih. Tayang gigi.
"Kita tangkap hantu," jawab Mariana santai. Ia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan.
"Beberapa minggu ini, aku dengar cerita yang meresahkan para penduduk, terutama di kelurahan kita. Ada hantu namanya 'Putri Kuda Terbang.' Putri kuda terbang ini sedang mencari lelaki perjaka untuk dijadikan suami." Mariana bercerita juga sambil berbisik.
"Lalu, apa kaitannya dengan aku?" tanyanya pada Mariana. Sambil memeluk tubuh, Mariana melihatnya dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.
"Lihat dari tampang kau ini, darah kau manis lagi alias kau masih perjaka ting-ting." Andreas tersedak ludahnya sendiri.
"Lalu, kau mau jadikan aku sebagai umpan?"
"Iya, iyalah. Kalau tidak, buat apa aku bawa kau." Terasa lemas dan bergetar lutut Andreas. Hampir saja ia tumbang ke belakang.
Mariana kembali menuntunnya, membawa dia mendekati sebatang pohon beringin besar. Tempat itu sangat gelap. Dalam hati sudah beratus doa Salam Maria, doa Bapa Kami, doa Aku Percaya dan entah apalagi doa yang Andreas panjatkan.
"Orang bilang, hantu suka muncul di tempat gelap. Rambut panjang menutupi mukanya yang seperti kapas, dengan kuku panjangnya yang siap mencakar seperti orang di sebelah kamu."
"Aaaahh!" Andreas berteriak histeris saat dia menoleh ke samping, karena Mariana mengubah penampilannya seperti hantu. "Kau buat lagi, aku ubah kau jadi hantu betulan!" marah Andreas.
"Ha-ha-ha!" Mariana tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Andreas. Suasana gelap membuat Mariana tak dapat melihat wajah ketakutan Andreas.
__ADS_1
Kini mereka telah berdiri di bawah pohon beringin. Suasana yang gelap semakin mencekam dan menyeramkan. Liang roma Andreas berdiri. Keringat dingin semakin membasahi telapak tangannya. Tanpa sadar Andreas merapatkan tubuhnya pada Mariana.
"Terlalu gelap. Ada senter?" tanya Andreas.
Mariana merogoh saku baju piyamanya. Dia hampir lupa ada Nokia elut di dalam. Saat dia menghidupkan hp, di sana tertulis 'baterai lemah.'
"Kita pakai saat keadaan mendesak," kata Mariana.
"Kribo! Kau dengar tidak? Suara itu," bisiknya pada Mariana. Mariana menajamkan pendengarannya.
"Ada hantu. Ayo, kita pergi tangkap!" ajak Mariana.
"Bagaimana kalau aku mati?" Andreas menatap Mariana dengan pertanyaan bodohnya. Mariana hampir meledakkan tawanya lagi. Namun, dia segera menyadari misi 'menangkap hantu.'
"Kau tidak akan mati. Berdoalah banyak-banyak. Ada aku di sini. Kalau kau mati, aku akan beritakan kepada seluruh dunia tentang pengorbanan kau, untuk kaum sejenis kamu dari cengkeraman Putri Kuda Terbang," jawab Mariana.
Mariana kembali menarik tangan Andreas. Mereka berjalan perlahan di antara semak belukar dan rumput liar. Sinaran bulan sabit yang sesekali ditutupi awan, sedikit membantu pengelihatan mereka.
Berhati-hati, sehingga tidak dapat menimbulkan suara. Semakin lama, suara yang mereka dengar semakin jelas.
"Hmm ahh shh!"
Plok plok plok plak plak!
Mariana membekap mulutnya saat mereka sudah berdekatan dengan lokasi datangnya bunyi yang mereka curiga.
Andreas dapat mendengar deru napas Mariana yang memburu, degupan jantungnya juga terdengar sangat laju. Sekilas dia dapat melihat sinar kemarahan dari kilatan mata Mariana.
"Kau mau lihat?" Andreas mengangguk. Ia melewati tubuh Mariana ingin melihat lebih jelas.
Andreas membalikkan badannya, sambil menutup kedua matanya menggunakan telapak tangannya.
"Ih, tak perlu munafik. Kau bukan anak TK. Ha-ha-ha!" Mariana tidak dapat menahan tawanya.
Andreas menggelengkan kepalanya kuat. Namun tiba-tiba ....
"Hihihihi hihihi!" Suara hilaian tawa Mariana seperti hantu mengejutkan Andreas, sampai ia jatuh terduduk. Belum sempat ia membetulkan posisi duduknya, Mariana kembali menariknya, sehingga Andreas tersungkur mencium tanah.
"Aish, kau bukan saja pengecut tapi kau juga lemah!" sindir Mariana. Andreas tidak terima dianggap pengecut dan lemah. Ia bingkas bangun lalu mengetuk kepala Mariana sekuat tenaga.
Tuuukk!
"Aduh! Mau cari mati?" jerit Mariana tertahan. Dia menerjang Andreas, memelintir leher lelaki itu dari belakang walaupun Andreas lebih tinggi darinya.
Andreas tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, akhirnya mereka berdua terjatuh bergulingan di atas rumput. Kekuatan fisik dan ilmu beladiri yang pernah ia pelajari dari Daniel tidak menyulitkan dia untuk mengalahkan Andreas.
__ADS_1
Mariana duduk di atas perut Andreas, kemudian tangannya mengunci kedua tangan Andreas di atas kepala.
Hilaian tawa hantu dan suara bising dibalik semak mengejutkan sepasang manusia yang sedang mengejar kenikmatan surga dunia, menghentikan kegiatan mereka. Salah seorang dari mereka melepaskan diri lalu berjalan mencari sesuatu yang mencurigakan.
"Lepaskan, Kribo!" Andreas memberontak.
"Hei, bangun tidak?" Pada saat itu, langkah kaki semakin mendekati mereka, lalu Mariana membekap mulut Andreas menggunakan bibirnya.
Mata Andreas terbelalak. 'Bajingan engkau, Mariana. Kau ambil kesempatan ke atas aku,' batinnya. Bayangan lalu, kembali menghantui pikirannya, tubuhnya gemetar. Mariana dapat merasakannya.
Setelah merasa aman, karena sudah kembali terdengar bunyi 'plok plok plak', Mariana melepaskan Andreas. Ia merangkak menjauh mencari tempat persembunyian yang lebih aman, sambil memungut kerikil, meninggalkan Andreas yang masih terlentang.
"Ahh, sudah lama aku tidak bermain," ia berbisik, sambil merenggangkan otot-otot sendinya. Ia memosisikan kerikil di antara ibu jari dan jari tengah.
"Aduh!" Jentikan jari Mariana tepat mengenai kepala lelaki tersebut.
"Aduh!" Sekali lagi mengenai pantatnya yang bergoyang.
"Siapa itu! Keluar!" marahnya. Tubuh yang tak berbalut sehelai benang pun, ia mencari tempat persembunyian Mariana.
"Cis! Ekor cecak tapi mau pamer kasih aku lihat!" Mariana berdecik. Ia kembali menjentikkan jarinya, bertubi-tubi tepat mengenai 'senjata para tuan' milik lelaki tersebut.
"Aduh! Bajingan! Keparat!" rintih lelaki itu kesakitan.
Andreas terkekeh di belakang Mariana. "Kau hebat juga ternyata." Ia menyodorkan beberapa kerikil di tangannya pada Mariana. Ia seolah lupa gadis itu tadi hampir melecehkannya.
Mariana tersenyum. "Ini perkara biasa. Aku bahkan bisa menembak dan memanah, ini bagi aku, kecilan," bangganya. Mereka kembali mengintip.
"Mau coba?" tanya Mariana.
"Tidak! Kau saja," jawab Andreas.
"Kau kenapa?" tanya perempuan, pasangan lelaki tersebut. Sama seperti pasangannya, dia juga tidak berbalut benang.
"Cis! Dada rata macam papan setrika. Dia mau pamer kasih kau lihat," bisik Mariana di telinga Andreas.
Andreas melotot memandangi Mariana. Mariana terkekeh, ia kembali menjentikkan jarinya, tepat mengenai dua gunduk kecil bertubi-tubi.
"Aduh!" rintihnya.
Mariana menarik Andreas menjauh. "Ayo!" Andreas menurut. Merangkak mengekori Mariana.
Sampai di jalan setapak menuju perumahan, Mariana kembali merogoh saku baju piyamanya. Dia mengoleskan sisa tepung pada wajah mereka berdua. Mereka kemudian bersembunyi di balik semak sisi jalan setapak tersebut.
"Aku akan bunuh bangsat itu, kalau aku ketemu dia," ucap lelaki tadi. Mariana merengus mendengarnya.
__ADS_1
"Aku lebih takut manusia daripada hantu," perempuan pula bersuara. Tiba-tiba ....
"Aaahhh! Haanntuuu!"