My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLVIII


__ADS_3

Senja hampir berlabuh. Halaman rumah Mariana kembali sepi. Pengunjung yang berdatangan menonton pertunjukan langsung, sudah kembali ke sarangnya, membawa serta sejuta cerita yang akan menjadi topik utama dalam beberapa hari ke depan.


Ruang tamu rumah papan itu terlihat sunyi, hanya terdengar helaan napas dari beberapa pasang manusia yang duduk di situ. Masing-masing dengan pikirannya sendiri.


Hidangan yang disajikan oleh Mariana berupa kopi hitam dan biskuit kering, langsung tak tersentuh.


Novi duduk di sebelah ibu Dita sambil menunduk. Terkadang terdengar rintihan kecil dari bibir mungilnya, mungkin karena wajah cantiknya yang membengkak, akibat hasil ukiran Mariana.


Ibu Dita seringkali melirik Mariana yang duduk di sebelah Andreas dengan rasa amarah dan benci yang jelas terlukis di wajahnya.


Sedangkan Daniel duduk bersebelahan dengan om Lukas, berhadapan langsung dengan Mariana. Tari duduk menyandarkan kepalanya pada bahu Fendi. Kepalanya masih terasa pusing akibat terlalu banyak menangis.


Tak ada gelak-tawa Noel dan Natan yang selalu mengisi kesunyian, karena Tari sudah menitipkan mereka di rumah tetangga.


"Om minta maaf, atas apa yang telah menantu Om lakukan." Om Lukas bersuara memecah keheningan ruang tamu.


Andreas mengangguk. "Kami juga minta maaf, tapi saya masih tidak mengerti kenapa saudari Novi begitu marah pada Mariana?"


"Tentu aku marah, mereka selingkuh di belakang aku!" Novi menyampuk ucapan Andreas.


"Selingkuh? Maksudnya?" tanya Andreas. Sedangkan Daniel berkerut dahi.


Panas hati Daniel kembali terbakar. Namun sebisa mungkin ia mencoba meredakan api kemarahannya. Sesekali dia melirik wajah Mariana yang senantiasa tersenyum, seolah tidak terjadi apa pun sebelumnya. Senyuman itu tak lekang dari bibir, sejak Andreas mengumumkan pertunangan mereka.


Mariana seolah tak mendengar apa yang dikatakan oleh Novi. Dia mengingsut tubuhnya merapat pada Andreas. Duduk sambil bertopang dagu, memperhatikan Andreas berbicara.


Dia seolah sengaja memperlihatkan pada mereka semua bahwa, 'Penantianku sudah berakhir. Akan kugenggam erat tangannya, dan tak akan sekalipun kulepaskan ia.'


"Sudah beberapa kali aku lihat mereka bertemu di belakangku. Hari ini mereka bermesraan di hadapan khalayak ramai. Peluk-pelukan lagi," kata Novi sambil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Kapan? Di mana?" tanya Andreas lagi.


Semua orang menatap Novi dengan pertanyaan serupa.


"Hari ini di tepi jalan, tepat di kelurahan Balela. Mereka berpelukan di depan semua orang." Dia kemudian menunjukkan foto yang dia ambil saat Daniel sedang berbicara dengan Mariana, dan juga foto saat Daniel menyelamatkan Mariana.


"Kejadiannya tidak seperti itu, Saudari." Andreas membetulkan posisi duduknya. Terasa panas pantatnya apabila duduk terlalu lama. Dia menunjal kepala Mariana yang semakin merapat padanya.


Malu dan risih karena diperhatikan terus. Mariana hanya terkekeh. Sudah lama dia tidak mengusik dan menjahili Andreas.


"Kejadian itu hanyalah kecelakaan. Saya juga ada di sana saat itu. Saya sangat berterima kasih pada Dokter Daniel karena telah menyelamatkan Mariana."


Dia ada di sana karena baru pulang dari rumah saudara sepupu, lalu menunggu angkutan di sana. Saat itulah dia melihat Mariana yang hampir kecelakaan, tetapi diselamatkan oleh seseorang. Ternyata orang itu adalah dokter Daniel.


Novi merengus tidak suka. "Pelacur selalu mendapat pembelaan." Dia menghempaskan tubuhnya pada sofa dengan kasar.


"Iya, berdosa. Sangat berdosa. Pada zaman Yesus, orang Farisi dan ahli taurat datang untuk mencobai Yesus. Mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan berzina. Kata mereka kalau menurut hukum taurat, perempuan yang kedapatan berzina harus dilemparkan dengan batu hingga mati.


Yesus berkata bahwa siapa di antara mereka yang tidak berdosa, dia yang lebih dulu membaling batu pada perempuan itu." Dia menghela napas panjang, melihat mereka semua satu per satu.


"Sekarang saya juga mengizinkan siapa pun yang merasa dirinya bersih, melemparkan batu lebih dulu pada Mariana." Semua orang menunduk. Tak seorang pun yang berani menatap wajah Mariana dan Andreas.


"Setiap orang memiliki cita-cita. Sejak SD guru pasti tanya, apa cita-cita kamu bila dewasa nanti? Mariana ...." Dia menggantung kalimatnya.


"Dia hidup, tumbuh besar di lingkungan orang-orang yang senantiasa mencemoohkan dia. Dianggap sebagai anak yang lahir dari rahim seorang ibu perebut suami orang. Mengenali orang-orang yang selalu dipandang hina masyarakat.


Dia tahu perasaan mereka yang selalu direndahkan. Kesedihan, keputusasaan dan ketabahan hati mereka. Dia hadir di sana, berdiri di tengah mereka hanya untuk menjadi penghibur hati yang lara.


Cita-citanya tidak seperti kebanyakan orang, tetapi sungguh mulia. Dia memiliki jiwa seorang kesatria, wanita pemberani. Walaupun berada di tengah kegelapan akan pekatnya dosa, dia mampu menjaga diri. Tidak terpengaruh dengan alkohol, dan tergoda oleh hawa nafsu."

__ADS_1


Mata Mariana berkaca-kaca. Air jernih itu kembali bertakung di pelupuk mata. Rasa hati yang telah lama mati, kembali bermekaran disiram sejuk oleh kata-kata Andreas. Dia terharu mendengar ucapan Andreas. Baru pertama kali seseorang memahami dirinya.


Daniel menunduk dalam, wajahnya memerah seperti ditampar oleh besi panas. Bertahun lamanya dia mengenal dan berbagi kasih dengan Mariana, tetapi tak sekalipun dia berusaha memahami keinginan gadis itu.


Apa yang dia lakukan hanyalah memaksa gadis itu menuruti kehendaknya, demi menutup mulut orang-orang yang memandang serong padanya termasuk sang ibu.


Andreas masih ingat, apa yang dikatakan oleh Romo Wens tempo hari, saat mereka berkunjung ke kelap.


"Tak sangka, ya? Orang yang kau cari sampai keliling Flores, ternyata bertengger di depan hidung kamu."


Andreas terkekeh. Apa yang dikatakan Romo Wens memang benar. Dia mencari Mariana mengikut data yang diberikan oleh Ben.


"Mariana, tunangan kamu itu pernah pacaran dengan dokter Daniel, tapi keluarga dokter Dan menentang keras hubungan mereka. Alasannya karena, Mariana lahir dari wanita perebut suami orang dan juga karena dia bekerja di tempat seperti ini. Tapi kamu sudah tahukan tadi, apa yang diceritakan oleh Fitri."


"Dari mana kamu tahu tentang Mariana dan si dokter itu?"


"Tadi, kami ada musyawarah. Dokter Daniel juga ada. Setelah dia pergi, biasakan gosip bapak-bapak. Mereka cerita tentang dia.


Awalnya saya juga heran, kenapa dia tetap kerja di sini, sedangkan dia punya toko sendiri. Apa pun itu, sekarang adalah tugas kamu bawa dia kembali ke pangkal jalan."


Sejak saat itu, dia coba menilai, memahami dan berpikir melalui sudut pandang Mariana. Satu hal yang dapat dia simpulkan bahwa Mariana tidak sekeras yang terlihat.


Di balik ketegasan dan kekasarannya yang suka menjahili orang, Mariana memiliki hati selembut sutra.


Tari berbisik di telinga suaminya, sambil mengesat air matanya. "Sepertinya misi aku berjalan lancar."


Fendi mengangguk. "Mi yang kamu masak campur udang semakin enak."


Tari terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2