My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XCVII


__ADS_3

Mariana menatap hidangan di atas meja yang tinggal beberapa jenis saja. Sesekali dia melirik suami dan ayah mertuanya yang asyik menambah lauk. Malam itu mereka makan bersama di rumah Nenek Esi. Mariana membawa makanan yang diberikan oleh Tanta Mei tadi. Sekotak telur ayam rebus warna merah, sekotak bakpao berbentuk seperti buah persik yang di dalamnya berisi daging ayam, dan sekotak mie daging goreng (orang Cina menyebutnya dengan nama mie panjang umur). Dia dan Tanta Vero memasak lauk tambahan berupa sayur bayam, sambal udang, ikan kerapu kukus, dan sup ayam.


Sebelum makan, dia bingung melihat ayah mertua yang hanya termenung menatap hidangan. Dia akhirnya bersuara menyuruh ayah makan. Namun, ayah mertua pula bertanya dari mana dia mendapatkan telur merah, bakpao, dan mi panjang umur.


Mariana memberi tahu kalau shifunya yang memberikan semua itu. Dia tak tahu maksud hidangan tersebut. Ayah mertua pun menjelaskan bahwa hidangan itu sebenarnya untuk merayakan seseorang yang berulang tahun. Itu merupakan tradisi Tionghoa.


Mariana pun akhirnya mengerti, mungkin hidangan itu untuk anak Tanta Mei yang juga kemarin berulang tahun. Namun, karena anak dan suami tidak tinggal bersama Tanta Mei, mungkin itulah sebabnya hidangan tersebut diberikan kepadanya.


"Makanlah!" Suara Andreas mengejutkan Mariana, membuyarkan lamunan gadis itu.


Andreas meletakkan isi ikan kerapu ke dalam piring Mariana.


"Terima kasih," kata Mariana.


"Masakan menantu ayah makin enak saja, e?" Om Alo bersuara, memuji sambal udang masakan Mariana.


"Yang ini juga Ana yang masak." Tanta Vero menunjuk sub ayam.


Mariana tersenyum. "Itu karena Ana dapat shifu yang tepat, yang pandai ajar cara memasak," katanya sambil tertawa kecil.


"Ayah jadi penasaran dengan shifu kamu.


"Ayah kalau ada waktu, mampirlah ke gerai dekat toko Serba Aneka."


"Ada waktu, Ayah mampir." Mariana hanya mengangguk.


"Masakan yang Kakak Ipar bawa sama seperti masakan ibu," kata Mikel tiba-tiba. Semua mata langsung tertuju kepadanya.


Andreas meletakkan kembali sendok yang hendak disuapkan ke mulut. Dia berdiri. "Aku sudah kenyang," katanya kemudian berlalu dari situ.


Mariana duduk melongo menatap punggung suaminya. Ingin hati hendak memanggil Andreas kembali lalu menegur lelaki itu, tetapi ditahan oleh Tanta Vero yang duduk di sebelahnya.


Mikel menunduk, merasa bersalah atas apa yang diucapkannya tadi. "Maaf," katanya.


Nenek Esi menepuk pelan lengan Mikel. "Tidak usah khawatir!"

__ADS_1


"Kamu ingat masakan kak Mery?" tanya Tanta Vero.


Mikel menggeleng. "Tidak. Hanya saja melihat telur merah ini, aku teringat ibu."


"Ya. Mery memang suka masak telur merah kalau ada yang ulang tahun," kata Nenek Esi, "makanlah!" Nenek Esi kembali menepuk punggung tangan Mikel.


"Yang lain juga teruskan makan!"


'Di depan aku dia selalu ceramah tentang sopan santun, tapi, sekarang di mana sopan santunnya?' Mariana mengetap bibir. Geram.


***


"Ana! Nenek panggil ke kamar." Tanta Vero menghampiri Mariana yang sedang menonton televisi bersama Om Dorus dan ayah mertuanya.


"Minta diurut."


"Oo, oke." Mariana berdiri, lalu berpamitan pada ayah mertua dan Om Dorus, kemudian berlalu menuju ke kamar Nenek Esi yang terletak di sebelah ruang makan.


"Nenek!" panggilnya. Tanpa mengetuk pintu, kepala Mariana menjenguk dari balik daun pintu yang terbuka lebar.


Terlihat Nenek Esi sedang duduk membaca Alkitab di atas ranjang.


Mariana melangkah mendekati ranjang Nenek Esi, lalu melabuhkan tubuhnya di ujung ranjang tersebut sambil menunggu Nenek Esi menyelesaikan bacaannya.


Tak lama kemudian, nenek Andreas itu menyerahkan Alkitab kepadanya. "Simpan di atas meja!"


Nenek Esi membetulkan posisi duduknya. Menjulurkan kakinya, duduk membelakangi Mariana.


Setelah meletakkan kembali Alkitab di atas meja, dia mengambil balsem gosok cap Lang yang diletakan di dalam laci meja. Tanpa disuruh Mariana mulai menggosok lengan kanan Nenek Esi menggunakan balsem gosok tersebut. Ini bukan kali pertama Nenek Esi memintanya mengurut, jadi dia sudah tahu apa yang diinginkan nenek dari suaminya itu.


"Ana!" Nenek Esi bersuara memecah keheningan di antara mereka.


"Hmm!"


"Selalu telepon ke rumah, tidak?" tanya Nenek Esi. Coba berbasa-basi.

__ADS_1


"Selalu. Tadi siang baru telepon," jawab Mariana.


Nenek Esi tak bertanya lagi. Dia diam, memikirkan kalimat yang sesuai untuk bertanya.


"Ana!"


"Hmm!" Kali ini Mariana mulai mengurut bagian tengkuk dan punggung.


"Ana kenal shifu itu di mana? Sudah berapa lama?"


"Sejak Ana menikah," jawab Mariana.


"Bagaimana orangnya?"


"Sangat baik. Lemah-lembut, cantik lagi walaupun sama umur dengan mama di rumah." Pikirannya menerawang jauh. Wajah wanita paruh baya itu mengingatkannya pada seseorang.


Nenek Esi diam lagi. Dia menyuruh Mariana mengurut lengan kirinya.


"Nenek teringat ibunya Ande," kata Nenek Esi, "karena kesalahpahaman, dia merajuk, membawa diri tanpa tahu duduk perkara yang sebenarnya."


Mariana diam, coba mencerna untaian cerita Nenek Esi. Hatinya tertanya-tanya juga apa gerangan yang menyebabkan ibu mertuanya itu menghilangkan diri. Namun, diurungkan niatnya hendak bertanya.


"Nenek harap kamu tetap di sisi Ande. Kepergian ibu dan pacarnya dahulu membuat dia hilang kepercayaan pada wanita," kata Nenek Esi membuyarkan lamunannya.


Mariana berhenti mengurut. Dia mendudukkan tubuhnya di samping Nenek Esi, lalu menggenggam tangan wanita seusia neneknya di kampung.


"Nenek, satu yang Ana inginkan, yaitu kepercayaan Nenek. Tetaplah percaya pada Ana apa pun yang terjadi kelak." Tatapannya penuh harap.


Permintaan Tanta Vero dan Ben sebelum dia menikah dengan Andreas kembali bermain di minda. Kini dia memiliki keyakinan dan alasan untuk mempertahankan Andreas walaupun lelaki itu masih menginginkan kekasihnya dahulu.


Nenek Esi tersenyum. Sambil menepuk-nepuk punggung tangan Mariana, dia menganggukan kepala.


"Satu lagi yang Nenek minta, bawa Nenek ketemu shifu kamu. Nenek ingin bertemu dengannya." Mariana mengangguk.


"Kamu pasti paham maksud Nenek." Mariana tersenyum. Dia mengangguk lagi.

__ADS_1


"Sebenarnya dia juga datang ke gereja waktu pernikahan. Tapi dia tak pernah cerita, jadi Ana tak pernah tanya."


Mata Nenek Esi membulat mendengar pengakuan cucu menantunya. "Harap kita tidak salah orang," katanya.


__ADS_2