
"Sabar, Kak! Sabar!" Tari mencoba menyabarkan kakaknya. Kemudian dia berkata lagi, "mengapa ganti ruginya sebanyak itu, Pa Ande? Apa yang terjadi?"
Andreas berdiri, lalu mengatur langkah menuju ke kamar yang ditempatinya tadi. Mariana masih menggerutu tak puas hati. Tari pula hanya diam memerhati.
Beberapa menit kemudian Andreas kembali bergabung, membawa serta sebuah laptop yang sudah rusak dan juga smartphone. Dia lalu meletakkan barang-barang tersebut diatas meja dihadapan Tari dan Mariana.
Mariana mengerutkan dahi, tidak paham dengan tindak-tanduk Andreas. Begitu juga dengan Tari. Namun Tari kemudian menyunggingkan senyum, paham akan maksud Andreas dan dia ingin memanfaatkan situasi tersebut.
"Baru satu minggu aku pakai," dia tunjuk muka serius. Tiada senyum yang terukir. Mariana telan liur.
Dia bersuara lagi, "Semua data penting aku simpan di dalam laptop, tapi kau lihat sekarang, bagaimana aku mau pakai?"
"Lima puluh juta itu bukan saja untuk kerusakan barang ni, tapi juga untuk kompensasi karena kau telah mengganggu ketenangan jiwa aku."
"Sah, dia memang gila." Mariana bersuara pelan.
"Daripada aku bayar lima puluh juta, lebih baik aku antar kau ke rumah sakit jiwa, itu lebih baik, kan?"
Tidak sanggup rasanya dia menghabiskan lima puluh juta. Bukan sedikit tu, pendapatannya di kelab malam dalam beberapa tahun pun takkan mencukupi.
Ruangan tamu menjadi sepi seketika, hanya terdengar suara televisi dan celoteh anak-anak Tari. Masing-masing dengan pikirannya sendiri.
"Lima puluh juta, bukankah terlalu banyak, Pa Ande?" Tari bersuara memecah keheningan diantara mereka. Lalu dia berkata lagi, "Jujur, kami tidak mampu bayar uang sebanyak itu."
"Ada satu cara." Andreas menghela napas, dia membetulkan letak duduknya, terasa panas apabila duduk terlalu lama. Tari dan Mariana memasang telinga, sedia menanti kalimat lanjutan dengan jantung yang berdebar laju.
"Selama aku tinggal sini, aku tidak akan bayar sewa, dan makan minum secara percuma."
"Tidak bisa!" Mariana membantah, tetapi Tari pula menyetujui solusi yang diberikan Andreas.
"Berapa lama Pa Ande mau tinggal sini?"
"Tidak tahu, belum pasti. Mungkin selama beberapa bulan."
"Aku sengaja sewakan kamar buat dapat uang, kalau tidak dibayar, rugi aku." Mariana masih tak puas hati, dia tetap membantah.
__ADS_1
"Tata (kakak)! Ikut aku sekejap!" Tari menarik tangan Mariana membawanya ke dapur. Dia tidak ingin melepaskan peluang ini. Misinya perlu dilaksanakan dengan segara.
Kalau tidak kapan lagi? Setelah sampai di dapur, Mariana menyentak tangannya perlahan.
"Kenapa, Ali."
"Tata ee! Laptop dan Hp itu, harganya puluhan juta."
"Tidak mungkin. Aku tidak percaya. Harga paling mahal pun lima juta," dia memoncongkan bibir alias mulut itik sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding kayu rumahnya.
"Aku beli komputer untuk toko tak sampai pun lima juta."
"Ha-ha-ha!" Tari tertawa pelan. Mariana hanya menjelingnya
"Yang Tata beli itu, komputer bekas lagipula itu model lama, tentu sekali harganya beda."
"Apa Kakak tahu, harga beras, kopi, gula, sabun?" tanya nya.
"Kakak tahu berapa harganya sekarang?" ulangnya lagi. Mariana diam. Dia tidak tahu apapun. Segala kebutuhan rumah tangga adiknya yang menguruskannya, sejak mereka tinggal bersama.
"Beras dulu sekilo baru delapan ribu, sekarang lima belas ribu. Belum lagi kualitas berasnya. Semakin bagus kualitasnya semakin tinggi harganya." Mariana garuk kepala, tidak tahu mau mengatakan apa. Dia terlopong (ternganga) mendengar perkataan adiknya.
"Apalagi laptop dan Hp itu."
"Lagipula, Tata juga seorang peniaga, tidak mungkin kakak tidak tahu harga barang di pasaran."
"Laptop dan Hp itu keluaran terbaru, merek yang paling mahal." Fendi suami Tari menyampuk pembicaraan mereka. Dia yang dari tadi mendengar perdebatan kecil istri dan kakak iparnya segera melibatkan diri setelah mendapat isyarat mata dari sang istri tercinta.
"Sejak kapan kau berdiri di situ?" Mariana bertanya karena tidak perasaan akan kehadiran sosok lain di ruangan tersebut.
"Sudah lama Kakak Ipar." Fendi mendekat lalu berdiri di samping Tari.
"Biarkan dia tinggal di sini, penuhi permintaan dia, daripada kita perlu bayar lima puluh juta, benar tidak, sayang?" Tari menyiku suaminya meminta sokongan. Fendi segera mengangguk.
"Tapi ...." Mariana masih ragu-ragu.
__ADS_1
"Kak Ana yang buat dia terluka, kemudian rusak kan barang dia yang paling mahal. Jadi wajar saja kita perlu tanggung kerugiannya," ucap Tari.
"Untung dia tidak lapor kita ke polisi." Fendi menyambung. " Kalau tidak kita yang rugi."
"Atau kakak keberatan kasih makan satu orang lagi?" Tari coba menduga isi hati kakaknya. Dia tahu kakaknya berhati baik. Walaupun begitu bukan mudah menduga hati manusia.
Kita masih bisa menduga dalamnya laut. Apakah laut itu dalam ataupun dangkal, tetapi hati manusia tidak semudah itu.
Bermacam-macam ragam manusia yang hidup di muka bumi Tuhan ini. Ada yang kita sangka baik, namun hatinya penuh dengan muslihat, begitu juga sebaliknya. Tetapi kita perlu percaya bahwa apa yang diciptakan Tuhan semuanya baik tiada yang buruk.
"Tidak apa, kalau kakak tidak suka dia tinggal sini," lanjut Tari, merasa kecewa dengan sikap diam kakaknya. "Aku suruh dia berkemas, cari kost lain saja."
Melihat sikap istrinya yang sudah mulai merajuk, Fendi coba memberi pendapatnya.
"Begini saja Kakak Ipa ...." Fendi menarik napas sejenak.
"Bagaimana kalau kita minta uang makan, sedangkan untuk sewa kamar, tolak dari utang kita. Aku juga akan bantu kakak bayar sedikit-sedikit." Mariana masih diam, coba menimbang pendapat adik iparnya.
"Kalau begitu terserah kamu saja. Aku ikut pendapat kalian." Karena merasa sudah tersudut, 2:1 tidak akan menang.
"Lagipun, tambah satu mulut saja, kan?" ucapnya sambil melirik Tari yang masih bermasam muka. Tari memoncongkan bibirnya.
Mariana mendekatinya sambil menarik bibir Tari, "Donal duck."
Tari memukul lengan Mariana. Lalu menariknya kembali ke rumah tamu. Perbincangan sudah selesai, keputusan sudah bulat 'satu mulut saja .'
...***...
Sayup-sayup dia mendengar perbincangan dari dapur, karena jarak ruang tamu dan dapur tidak terlalu jauh. Apalagi rumah ini hanya berdinding setengah tembok dan setengah papan. Rumah lama, tetapi kemas dan bersih. Dia juga sempat berkenalan dengan Fendi suami Tari.
Sesekali matanya menatap televisi sambil memperhatikan anak-anak Tari, sebab kadang-kadang mereka bertengkar memperebutkan mainan, menyebabkan yang paling kecil itu menangis.
Lima belas menit kemudian, terdengar langkah kaki mendekat ke ruang tamu, lalu muncul sosok Fendi dan melempar senyum kearahnya. Fendi berlalu terus ke arah anaknya paling kecil yang sedang menangis.
Kemudian muncul dua batang tubuh lain. Yang seorang tersenyum lebar kearahnya, sedangkan yang seorang lagi mempamerkan mulut itik saat mereka bertatapan.
__ADS_1