My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXXVI


__ADS_3

Andreas menyumbat semua pakaian Mariana ke dalam koper besar yang disimpan di sudut dekat lemari.


"Jangan main sumbat! Kusut semua baju aku," omel Mariana.


"Kau pikir ada waktu buat susun satu-satu?" Andreas tak peduli. Apa saja yang ada di depan mata disumbat ke dalam koper, termasuk dalaman Mariana. Gadis itu menutup mata. Pura-pura malu. Andreas mencebik, tetapi, mukanya pun turut memerah. Malu.


Koper kecil itu sudah kepenuhan, jadi, Andreas terpaksa mengangkat sebagian saja lalu memindahkannya ke kamar yang ia tempati. Sedangkan Mariana, gadis itu sedang mengemas peralatan solek di atas meja.


Naik tangga, turun tangga mengejar masa yang tinggal beberapa menit lagi, membuat mereka kadang kala sampai bertabrakan, kelam kabut saat menuruni anak tangga. Andreas asyik mengomel, karena barang-barang Mariana ternyata bukan sedikit. Mereka harus berulang alik mengangkat barang-barang tersebut.


Mariana membawa perlengkapan mandi, sedangkan Andreas menuruni anak tangga mengambil beberapa barang lain yang tersisa. Saat sampai di pertengahan anak tangga, kaki Mariana tergelincir. Andreas yang baru turun tak sempat meraih tangan gadis tersebut, menyebabkannya terjatuh, terguling hingga ke anak tangga paling bawah.


Kaki panjang Andreas, segera menyusul Mariana. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya, sambil membantu Mariana berdiri, tetapi gadis itu kembali terduduk.


"Kaki aku!" rintih Mariana.


"Kenapa?"


"Aku tak bisa jalan."


"Coba lagi!"


Mariana pun kembali berdiri, tetapi ia kembali terjatuh. "Tidak bisa, sakit sekali."


Andreas terdiam. Rasa iba menggayut di hatinya, apalagi saat terpandang ayam kampung bertelur di dekat pelipis Mariana. Benjol, maksudnya. Gadis itu belum perasaan. Belum merasakan sakit. Namun, masih terbayang di pelupuk mata, saat pertama kali mereka bertemu. Ia tak ingin kejadian ketika Mariana bergelayut di belakangnya terulang lagi.


"Lalu, bagaimana sekarang?" tanyanya.


"Gendong, to?"

__ADS_1


"Tidak mau!" tolak Andreas.


"Ai, sampai hati kau biarkan istri kau sakit begini." Mariana pura-pura merajuk. "Kita tidak punya waktu untuk main drama," lanjutnya.


Andreas mengulurkan tangan. Walaupun dengan berat hati, ia tetap memaksakan diri membopong tubuh istrinya lalu mendudukkannya di atas sofa ruang tamu.


"Kaki mana yang sakit?" tanyanya.


"Ini!" tunjuk Mariana pada pergelangan kaki kirinya.


"Ah ... sakit ... ah ... ah!" Mariana menjerit saat Andreas menarik pergelangan kakinya.


"Bertahan sedikit lagi. Besok kau sudah bisa jalan."


"Terima kasih." Setelah siap, Andreas meninggalkan Mariana, lalu kembali bergegas membereskan barang-barang yang bersepah di atas lantai akibat Mariana terjatuh tadi, lalu membawanya ke kamar mereka. Ia juga merapikan semua pakaian dan barang-barang yang lain lalu menyimpan ke dalam lemari.


Tak lama kemudian, ia turun ke bawah menemui sang istri sedang duduk bersembang dengan mama mertua dan mama besar Mariana, kakak sulung mama mertuanya. Ia mengucap salam, lalu duduk di sebelah Mariana.


"Kamu tahu tidak No Ande, perempuan kalau belum ketemu suami, dia akan senantiasa khawatirkan masa depan. Tapi kalau lelaki, tidak pernah khawatirkan masa depan, sampai dia ketemu istri," kata Mama Lala.


"Ha-ha-ha!" Mariana terbahak-bahak. "Benar sekali Mama Besar, ha-ha-ha."


"No Ande khawatir tidak sekarang ni?" tanya mama.


Andreas tak menjawab. Ia hanya tersenyum malu-malu.


"Awal menikah dulu bapa besar kamu tu romantis sekali, tapi makin lama, romantisnya hilang," kata Mama Lala.


"Masa Mama Besar. Aku lihat bapa besar romantis, tu. Pergi mana-mana selalu berdua." Mariana coba mengorek rahasia.

__ADS_1


"Itu karena anak sudah besar semua. Kami pun sudah semakin tua. Jadi sekarang baru dia mulai mesra lagi."


"Ada-ada saja Mama Besar, ni."


"Kamu tak tahu saja, Sayang. Dulu waktu masih pacaran, kami kalau pacaran di kebun ...." Mama, Mariana, dan Andreas langsung tergelak.


Mariana tertawa sampai matanya berair.


"Kenapa pacaran ke kebun?" tanya Andreas setelah tawanya mereda.


"Namanya orang kampung. Kalau tidak pacaran di kampung, kami pasti ketemuan di kebun ataupun di sawah. Kalau tidak percaya, tanya Mama kamu, ni!" Mama mengangguk setelah namanya disebut.


"Bapa besar kamu, tu, kalau lihat Mama Besar mau ke kebun, dia akan ikut dengan klewang di pundak. Jalan berdua ke kebun. Kalau terantuk batu, bukan Mama Besar yang kena marah, tetapi, batu itu yang kena marah. 'Ih, batu tak guna. Kenapa ada di tengah jalan? Menyusahkan orang saja.' Begitulah cara dia marah. Habis tu dia tendang batu itu ke tepi." Mama Lala kembali bercerita.


"Tapi setelah nikah kemudian punya anak, kalau pergi ke kebun, terantuk batu, Mama Besar yang kena marah. 'Eh, mata kau simpan di mana? Batu besar begini saja kau tidak bisa lihat.' Begitu cara dia marah."


"Ha-ha-ha!"


"Kamu tahu tidak, Ana, kalau dulu pacaran, omong pelan-pelan. Bisik-bisik, kadang sampai tidak dengar apa yang dia omong. Tapi, sekarang ... 'Lala, aku sudah lapar. Cepat cedok nasi!' tidak perlu lagi pinjam toa di kepala desa karena suara dia, satu kampung bisa dengar."


"Ha-ha-ha!"


Sepanjang petang itu mereka menghabiskan waktu dengan bercerita, dan memang benar apa yang dikatakan Mariana bahwa Mama Lala suka meneliti seluruh rumah dan kamar pengantin baru.


Mama memeluk Mariana. Diciumnya ubun-ubun gadis itu. Saat itu mereka duduk berdua di dalam kamar tamu yang Mariana tempati sebelumnya. "Senantiasa bersikap lembut, jangan kasar! Jaga juga tutur bicaramu. Kamu sudah menikah. Sudah punya suami. Jadi perlu hati-hati."


Banyak nasihat yang ia sampaikan untuk anak perempuannya itu. "Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi Mama." Pandangannya lembut menatap sang putri.


"Mama pulang dulu. Ingat pesan Mama!" Mariana mengangguk. Sambil tertatih karena kakinya yang terseleo, ia mengiring kepergian mama dan mama besarnya sampai di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Kaki tu nanti kompres pakai air panas. Tapi jangan pakai terlalu panas. Hangat-hangat saja," pesan Mama Lala.


Mariana dan Andreas sama-sama menjawab, "Iya."


__ADS_2