
...🎶Aku mengerti...
...Perjalanan hidup yang kini kau lalui...
...Kuberharap...
...Meski berat kau tak merasa sendiri...
...Kau telah berjuang menaklukkan hari-harimu...
...yang tak mudah...
...Biar ku menemanimu...
...Membasuh lelahmu...
...Izinkan kulukis senja...
...Mengukir namamu di sana...
...Mendengar kamu bercerita...
...Menangis tertawa...
...Biar kulukis malam...
...Bawa kamu bintang-bintang...
...'Tuk temanimu yang terluka...
...Hingga kau bahagia...
...Aku di sini...
...Walau letih, coba lagi, jangan berhenti...
...Ku berharap...
...Meski berat kau tak merasa sendiri...
...Kau telah berjuang...
...Menaklukkan hari-harimu yang tak indah...
...Biar ku menemanimu...
...Membasuh lelahmu...
...Izinkan ku lukis senja...
...Mengukir namamu di sana...
...Mendengar kamu bercerita...
...Menangis tertawa🎶...
Mariana menghentikan kegiatannya menutup toko setelah pintunya dipasang gembok kunci. Segera dia berpaling ke arah dua gadis remaja yang duduk di ujung lorong sambil membelakanginya.
Deria dengarnya masih setia mengikuti rentak lagu yang diputarkan oleh dua remaja tersebut. Tak tahu apa judulnya, liriknya pun sederhana, tetapi menyentuh kalbu.
Masih terngiang di telinganya ucapan Tari tadi, 'Tata tidak perlu rasa bersalah. Bukan Tata yang salah. Kejadian hari tu ada hikmahnya juga. No Agus sudah berubah jadi lebih baik. Dia lebih dewasa sekarang.'
Yang membuat Mariana merasa bersalah itu karena, Tari mengatakan bahwa Agus mencari pekerjaan sampingan sambil menunggu wisudanya pada bulan Agustus nanti.
Sememangnya, sejak hari mereka bertengkar, Mariana tidak lagi mengirimkan uang kepada Agus. Namun, benar apa yang dikatakan Tari. Kalau kejadian itu ada hikmahnya. Agus sudah berpikir lebih dewasa sekarang.
Tak banyak kata yang mereka bualkan dalam telepon tadi, hanya tangisan penyesalan dan permintaan maaf dari Agus. Sebagai seorang kakak dilapangkan hatinya untuk memaafkan adiknya karena mereka adalah keluarganya yang diamanahkan oleh bapa.
__ADS_1
Perlahan dia mengatur langkah meninggalkan tempat itu.
Langit berubah indah saat senja kala tiba. Langkahnya terhenti di simpang jalan menuju rumah papan tua miliknya. Berdiri di bawah pohon mangga, tak henti-hentinya ia mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan.
Pandangannya tak lepas dari sinaran jingga di ufuk barat, 'Tuhan, bersama tenggelamnya matahari senja ini, redakanlah kekecewaan dan kemarahan di hati ini. Sabarkanlah aku.'
...***...
'Seperti senja yang setia menanti matahari menepi, seperti itulah aku menantimu kembali. Happy birthday, Rena!' batin Andreas.
Matanya terpejam saat sinar kuning keemasan itu menyilaukan matanya. Ia masih setia duduk bersandar di atas bale-bale kayu, di bawah pohon mete depan halaman rumah Mariana, menghadap ke arah matahari terbenam.
"Push! Push!" Satu suara menampar gendang telinganya.
"Push! Push! Hei!"
'Kucing mana yang dia panggil, ni?' Sambil matanya yang masih terpejam.
"Hei! Pengecut!"
'Dasar kribo! Tak ada nama lain lagikah? Aku bukan pengecut, tahu!'
"Hei! Pengecut! Kau pekakkah?" Suara Mariana lebih keras dari balik jendela rumahnya yang terbuka lebar.
'Siapa juga yang pekak? Telinga aku, ni sehat lagi.'
Ia membuka mata sebelah kiri, sebelah kanan masih terpejam. Tak ada orang di sekitarnya. Kini berganti sebelah kanan, mata kirinya kembali terpejam. Saat itu ia melihat Mariana melambai-lambaikan tangan dari balik jendela.
'Cis! Tak ada sopan-santun langsung. Push! Push! Dia pikir aku ni kucing. Coba kalau dia panggil, Abang Cogan! Uh! Imutnya,' dia mengajuk dalam hati lalu tersenyum membayangkan Mariana memanggilnya Abang Cogan.
"Hei, Pengecut, adik aku panggil, ni, mau minum petang!" teriaknya lagi.
Andreas kembali memejamkan mata. Langsung tak bergerak. Pura-pura pekak. Mariana geram sendiri, ia berlari ke belakang, kemudian kembali membawa bersama seutas tali nilon sepanjang tiga meter.
Berdiri di tangga terakhir rumahnya, dia mengayunkan tangan, sambil berteriak, "Ulaaaarrr!"
"Aaahhhhh! Mamoreblalaal!" teriaknya sambil melata. Ia terus berdiri dan melompat-lompat, tetapi ia terpaku pada tali yang diinjaknya.
"Ha-ha-ha!" Mariana tertawa terbahak-bahak.
"Kriiibbooo!"
...***...
Ia berdiri memandang cermin melihat penampilannya. Tak ada yang menarik. Penampilannya biasa saja. Baju kaus putih lengan panjang berbahan lembut dan celana jeans hitam.
Rambutnya dikepang berpintal yang sekarang orang sebut dengan nama Shoelace Braids yang mirip dengan mengikat tali sepatu.
'Hmm! Cantik.' Tersenyum melihat penampilannya.
Ia meraih tas selempang yang diletakan di atas ranjang, lalu keluar kamar. Ia menghampiri Andreas yang ada di ruang tamu sambil bermain ponsel.
"Pengecut!" panggilnya sambil menepuk pundak Andreas.
"Hmm!"
Mariana mengulurkan tangan. Andreas berkerut dahi.
"Apa?" tanyanya.
"Ponsel aku mana?"
"Kenapa kau tak buang saja ponsel buruk, tu?"
"Kenapa mesti buang? Aku masih bisa pakai."
"Karena Hp kamu tu sudah kedaluwarsa."
__ADS_1
"Memang kau makan Hp, tu? Cepatlah! Aku mau pergi kerja ni."
"Sudah aku buang."
"Gila! Hap!" Mariana merampas ponsel Andreas dari tangannya. Lalu menjauhkan dirinya ke belakang sofa.
"Hei!" Andreas terkejut. Maka terjadilah kejar-mengejar merebut ponsel.
"Wah! Ada banyak cewek cantik," kata Mariana, walaupun tak ada foto satu pun. 'Ini seperti punya Agus,' lanjutnya dalam hati.
"Kembalikan!" Andreas melotot melihat Mariana.
"Ini sebagai gantinya, karena kau buang ponsel aku."
"Aku belum buang."
"Kalau begitu kau ambil punya aku saja." Mariana mengelakkan diri saat Andreas hampir mencapai tubuhnya.
'Sial! Dia cepat sekali. Gerakannya juga lincah.' batin Andreas kesal.
"Tidak mau, ponsel buruk kau siapa juga yang mau."
Andreas melompat menerkam Mariana saat gadis itu sibuk membuka folder dalam ponsel Andreas. Mariana yang tidak menyadari pergerakan Andreas, terkejut bukan kepalang.
Tubuh mereka terjatuh atas lantai. Mariana mencoba balik menyerang Andreas, tetapi, ia terkejut karena Andreas berhasil mengunci tubuhnya, sehingga ia tak dapat bergerak.
"Kembalikan!" perintah Andreas.
"Tidak!" Mariana menjauhkan tangannya dari jangkauan Andreas.
"Augh! Kau bunuh aku?" Napasnya hampir terputus, karena lengan Andreas menjepit lehernya.
"Makanya, pulangkan."
"Nah! Ambil!"
Tuuk!
"Augh!" Andreas merintih. Kepalanya diketuk Mariana menggunakan ponselnya.
Cepat kilat ia merampas ponsel tersebut lalu melepaskan Mariana, kemudian mereka sama-sama berdiri.
Tuuk!
Dia turut mengetuk kepala Mariana. Balas dendam.
Mariana menggosok kepalanya yang terasa sakit. "Kau sudah ambil punya kau, kembalikan aku punya. Aku mau pergi kerja ni."
Andreas berlalu ke kamar.
"Eh! Tunggu!" panggil Mariana.
"Apa?" tanya Andreas kasar.
"Money. Lima puluh ribu," jawab Mariana, sambil menggesek-gesekkan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Untuk?"
"Kau lupa perjanjian kita hari tu? Batas waktu untuk kau pinjam ponsel aku hanya seminggu. Kalau lebih bayar denda. Sekarang sudah satu bulan, tahu?"
"Kau, ni, mata duitan. Suka peras aku. Kalah ma lintah darat."
"Woi! Yang suka peras tu siapa? Kau tu bukan lagi peras, tapi kau isap darah aku. Kau lihat ni darah aku hampir kering." Mariana menunjuk lengannya.
"Dasar kribo! Kribo! Keriting Bodoh!" Andreas menjeling Mariana.
"Eh! Aku bukan bodoh, tahu? Lagipun rambut aku ni, ramai yang ingin memiliki rambut seperti punyaku. Mereka bahkan habiskan duit di salon hanya untuk keritingkan rambut. Aku ...?" Dia mengibaskan rambutnya.
__ADS_1
"Tak perlu lagi," lanjutnya.