
Suara riuh-rendah di rumah Om Alo tidak berhenti-henti sejak pagi tadi. Mariana terlihat kelelahan bermain dengan anak-anak Tanta Vero, setelah membantu tanta Andreas itu berkemas-kemas rumah dan menyiapkan makan siang. Si bungsu Titin yang masih berumur tiga tahun asyik bergelayut, tak mau turun dari gendongan Mariana.
"Titin, sini sama Mama!" Tanta Vero coba meraih tubuh Titin, tetapi gadis kecil itu menggelengkan kepala. Dia semakin erat memeluk leher Mariana.
"Tidak apa-apa, Tanta." Mariana tersenyum.
"Hari ini Titin sangat manja dengan kamu," ucap Tanta Vero.
Mereka duduk di halaman rumah di bawah pohon mangga yang sedang berbuah ranum. Menurut cerita Tanta Vero, dia memiliki lima orang anak. Namun, yang sulung sudah pergi terlebih dahulu mengadap Sang Penguasa saat dia masih berumur enam tahun.
Anak ke dua baru saja menamatkan masa putih-abu. Nomor tiga SMP kelas IX, sedangkan nomor empat SMP kelas VII. Si bungsu Titin tidak ada dalam perancangan, tetapi Tuhan berkehendak lain mengizinkan si bungsu datang ke dunia menikmati keindahan dunia yang fana ini tiga tahun lalu.
Tanta Vero menikah awal, saat masih berumur dua puluh tahun dengan Om Dorus yang berusia tiga puluh dua tahun, yang merupakan sahabat baik Om Alo. Walaupun perbedaan usia mereka yang cukup jauh, hal itu tidak menghambat pertumbuhan benih cinta dalam hati mereka.
Begitulah informasi yang diberitahukan oleh Tanta Vero. Dia juga bercerita sedikit tentang ibu Andreas. Katanya ibu Andreas meninggalkan rumah saat Andreas berusia tujuh tahun. Kehancuran rumah tangga Om Alo berdampak pada Andreas, membuat lelaki itu trauma untuk mempercayai lawan jenisnya.
Namun, dua tahun lalu, Andreas berkenalan dengan seorang gadis bernama Rena. Mereka juga sudah merancang pernikahan, tetapi gadis itu mengingkari janjinya. Dia meninggalkan Andreas sebulan sebelum pernikahan itu berlangsung.
Mariana mengangguk-angguk mengerti. Ada sesuatu yang mulai menjenguk relung hatinya.
Tanta Vero meraih tangan Mariana. Tatapannya sendu dan penuh harap. "Tolong jaga Ande," katanya. Mariana mengangguk perlahan, tersenyum memandang Tanta Ima.
"Titin sudah tidur tu, biar tanta bawa dia masuk."
"Eh ... iya Tanta. Tak sadar dia sudah tertidur."
Tubuh Titin pun berpindah tangan. Tanta Vero membawa Titin masuk ke dalam rumah. Tinggallah Mariana seorang diri di situ. Ingatannya kembali pada ucapan Andreas semalam. Apa yang harus dia lakukan?
Kepercayaan yang diberikan oleh Tanta Vero dan Om Alo membuat dia harus mengambil keputusan yang tepat.
...***...
"Push! Push!" Mariana memanggil Andreas, tetapi suaranya tidak terdengar oleh mereka yang duduk di ruang tamu, termasuk Andreas.
Dia berdiri bersembunyi di balik tembok, mengintai sambil melambai-lambaikan tangannya pada Andreas yang duduk menghadap ke arah pintu keluar, tempat dia berdiri saat ini. Namun, pandangannya mengarah ke Om Sina, sepupu Om Alo yang sedang berbicara memberikan pendapat tentang ini dan itu.
Ingin menghampiri mereka, tetapi sepertinya tidak sopan karena di sana berkumpul beberapa saudara sepupu Om Alo bersama Nenek Esi. Ada Mikel juga di sana. Mereka sedang membahas pernikahan dia dan Andreas.
"Push! Push!" panggilnya lagi, sambil melambaikan tangan. Andreas masih tak mendengar.
"Push! Push!" Dia menjadi letih sendiri.
Mikel yang duduk di sebelah Andreas merasa terganggu dengan panggilan tersebut.
__ADS_1
'Siapa yang bermain dengan kucing?' batinnya bertanya.
Tidak ada yang memelihara kucing di rumah karena Nenek Esi alergi terhadap bulu kucing. Mikel mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, kemudian melihat keluar. Dia tersenyum-senyum saat terpandang Mariana yang melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka, sambil memanggil 'push! Push!'
Mikel kemudian berbisik di telinga Andreas. Lelaki itu menoleh ke arah pintu. Kemudian perlahan berdiri, dengan sopan dia keluar dari ruangan tersebut, lalu menghampiri Mariana.
"Ada apa?" tanya Andreas.
Mariana tidak menjawab. Dia menarik tangan Andreas, membawanya beredar dari situ.
"Kribo, ada apa?" tanyanya lagi.
"Aku akan menjawab pertanyaan kamu tadi malam. Jadi, kita perlu bincang sekarang."
"Pertanyaan yang mana?" Dia menarik tangannya dari genggaman Mariana.
"Cara untuk membatalkan pernikahan kita."
"Apa caranya?"
"Aku tidak mau bahas di sini. Kita cari tempat yang aman."
"Kita ke rumah sebelah."
...***...
"Rumahku."
"Oo, rumah inikah yang kau maksud?"
Andreas mengangguk. "Hmm."
Mariana mengitari pandangannya. Rumah dua tingkat, bercat putih. Rumah itu terlihat besar dan modern, tetapi tidak terurus. Banyak debu dan sarang laba-laba yang bergantung di atas langit-langit rumah.
Ruangan tamu yang mereka berdiri saat ini pun hanya terdapat dua buah sofa usang dan meja kayu. Tidak ada barang lain selain dua benda tersebut.
Andreas duduk di sofa pada salah satu sofa. Dia mengajak Mariana duduk di hadapannya. Mariana menurut.
"Kita terus saja ke intinya. Cara apa yang kau maksudkan?"
Mariana menarik dan menghela napas panjang. "Kita teruskan saja perjodohan ni."
"Hmm, berarti tidak ada cara. Kau tipu aku, buang-buang waktu saja."
__ADS_1
"Dengar dulu, Pengecut!" Mariana terlihat geram
"Oke, lanjutkan." Andreas menyandarkan tubuhnya pada sofa, sambil duduk memeluk tubuh. Lagaknya seperti bos besar.
"Karena ini pernikahan yang dijodohkan, maka mari kita buat perjanjian. Dengan begitu kita tidak mengecewakan ayah kau dan melukai diri kita sendiri."
"Perjanjian apa?"
"Perjanjian kontrak. Maksud aku, kita nikah kontrak. Berapa lama kita menikah, setahun atau dua tahun. Kita buat perjanjian. Selama waktu yang ditetapkan, masing-masing kita mencari pasangannya di luar ...."
"Untuk apa?" Andreas menyampuk penjelasan Mariana.
"Pernikahan ni kan melibatkan banyak orang, terutama keluarga kau dan keluarga aku. Bagaimana kalau mereka tanya alasan kita cerai? Jadi, kita perlukan alasan yang kuat, agar mereka tak salahkan kita nantinya. Apalagi sekarang ni, kita kan jomblo."
Andreas mengangguk-angguk mengerti. "Oke, tunggu sebentar." Andreas berdiri, ingin berlalu dari situ.
"Mau ke mana?"
"Ambil kertas dan pulpen. Kita buat perjanjian tertulis."
"Eh ... tunggu!"
Langkah Andreas terhenti. "Kenapa?" tanyanya.
"Duduk dulu!" perintah Mariana. Andreas menurut.
"Kita tidak perlu buat perjanjian tertulis. Bagaimana kalau kertas perjanjian itu jatuh ke tangan seseorang, kemudian heboh dalam keluarga kita? Saat itu nanti, kita tak dapat pertahankan diri. Lagi pula perjanjian ini hanya antara kita berdua, jadi cukup buat perjanjian lisan. Jangan khawatir, ingatan aku boleh diandalkan. Aku takkan lupa hal-hal penting begini."
"Masuk akal juga. Oke, sekarang kita sudah sepakat. Pernikahan kita hanya kontrak," katanya menggebu-gebu. Matanya bercahaya. Gembira teramat sangat.
Mariana mengangguk. Mereka menautkan jari kelingking masing-masing. "Sepakat," ucap mereka serentak. Kemudian tersenyum.
"Tapi aku punya syarat."
"Syarat apa?" tanya Andreas.
"Aku mau gaji."
"Maksudnya?"
"Saat jadi istri kau nanti kan, aku perlu uang untuk belanja kebutuhan rumah tangga olok-olok kita ni. Kau sebagai suami perlu kasih makan istri."
"Oke, aku paham. Aku kasih percobaan tiga bulan, kalau pekerjaan kau sebagai istri memuaskan, aku akan naikkan gaji kamu."
__ADS_1
Senyuman di bibir Mariana mengembang hingga ke telinga. "Tapi kau rencana berapa lama pernikahan olok-olok kita ni?"
"Cukup dua tahun," jawab Andreas dengan suara lantang.