
Kring! Kring! Kring!
Bunyi gesekan roda dan lantai aspal begitu nyaring membuat Andreas melompat ke tepi, saat sebuah sepeda hampir melanggarnya. Wajahnya masam mencuka saat terpandang si pengayuh yang sedang tersengih seperti kerang busuk.
"Hai, Tuan Perjaka!" Mariana melambaikan tangan setelah kedua kakinya mendarat di lantai aspal.
"Kau seperti katak tadi. 🎶 Lompat si Katak lompat 🎶." Ia bernyanyi riang setelah menyindir Andreas, sambil terkekeh kecil.
Lelaki itu menyepak kakinya. Geram.
"Aduh!" rintih Mariana
Andreas membetulkan tas ransel pada pundaknya, lalu mengatur langkah seribu meninggalkan Mariana.
"Hei, tunggu!" teriak Mariana. Namun, lelaki itu hanya memekakan telinganya. Mariana kemudian mengayuhkan sepedanya menghalangi jalan Andreas. Langkah kaki lelaki itu terus terhenti.
"Kau ni, laju sekali jalan. Padahal baru tadi aku chat suruh tunggu."
"Aku sudah bosan tunggu." Nada suara Andreas terdengar lirih, mengandung makna tersirat.
"Ai ... tidak sampai lima menit pun, sudah buat kau bosan tunggu. Bagaimana aku yang tunggu kau muncul lebih dari dua tahun ni? Sudah berakar pantat aku." Pertanyaan Mariana membuat Andreas membisu seribu kata.
"Naiklah!" perintah Mariana.
"Naik apa?"
"Naik pesawat. Kau ni, tentu sekali naik sepeda, to? Kalau tidak, naik apa lagi?"
"Tidak mau. Aku lebih rela jalan kaki."
"Kenapa?" Mariana kembali mengayuh sepeda, saat menyadari Andreas sudah meninggalkan dia.
"Takut naik sepeda butut kau itu. Khawatir kaki aku tak bisa pakai buat jalan lagi."
"Ih, kau ini ... kalau tidak mau, ya, sudah. Jarak ke gereja masih jauh, tahu? Seratus ribu cm."
"Kau bicara seolah aku tak tahu jalan ke gereja saja." Mariana hanya tersengih.
__ADS_1
Hening. Gadis itu mengayuh sepeda perlahan di samping Andreas. Mereka beriringan. Sambil mengayuh, Mariana asyik menilik cincin yang tersarung pada jari manisnya.
"Cantik, tak?" tanyanya.
"Tentulah. Aku capek, tahu, keliling pasar hanya untuk beli cincin tu."
Mariana tertawa. "Patut pun sangat mengkilap."
Hidung Andreas kembang-kempis bila mendapat pujian.
"Pinjam kacamata hitam kau tu sebentar." Mariana mengulurkan tangan mengambil kacamata yang bertengger di atas hidung mancung Andreas, sebelum lelaki itu sempat mengelak.
"Asyik lihat cincin ni buat mata aku silau," katanya, sambil memakai kacamata yang ia rampas tersebut.
Andreas tak menjawab. Ia sudah kehabisan kata untuk berdebat dengan si Kribo Mariana. Sepanjang perjalanan ke gereja, Mariana terus berceloteh.
"Kapan rumah tu dibina?" tanyanya, sambil menunjuk sebuah rumah yang baru pertama kali ia lihat.
"Oh, di sini sudah dibina got. Bagus tu, kalau tidak di sini becek apabila hujan turun." Mariana seperti rusa yang baru masuk kampung. Tercengang-cengang ketika melihat perubahan desa.
"Eh, kau ni, macam rusa baru masuk ke kampung, o! Sudah berapa lama kau tidak datang ke gereja, e?"
"Tambah, kurang, kali, bagi, sudah hampir empat tahun," jawab Mariana, sambil menongkat sepedanya di depan halaman gereja.
Andreas hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Mariana. Sewaktu hari pertama mereka bertemu, Mariana berniat untuk mengikuti kegiatan bakti sosial OMK, setelah sekian lama tidak ikut kegiatan. Akan tetapi, ia mendapat pesan grup WhatsApp, bahwa kegiatan ditunda minggu depan. Itulah sebabnya, ia pergi merayau-rayau di tepi pantai, dan berakhir disiram air ikan, lalu bertemu dengan Andreas.
"Kau ada bawa surat-surat yang aku kasih tahu kemarin?" tanya Andreas.
Mariana mengangguk. "Ada, Bos," jawabnya.
"Bagus. Ayo, masuk!" ajak Andreas.
Namun, langkah Mariana terhenti di depan pintu masuk. Tiba-tiba, wajah Ibu Dita menjelma. Masih terngiang kata-kata wanita itu yang mempertanyakan kelayakannya memasuki gereja.
Ibu Dita tersenyum mengejek, berjalan mendekati Mariana yang masih berdiri di samping sepedanya.
"Cis, wanita sok suci. Coba kau bercermin, layakah kau masuk gereja?" Setelah menyindir Mariana, ia berlalu membawa serta senyum kemenangan.
__ADS_1
Lidah Mariana terasa kelu. Tak dapat menjawab pertanyaan dari ibu kekasihnya itu. Ia masih terpaku di tempat. Lututnya pun seolah tak bertulang lagi. Lemah dan tak bertenaga. Perlahan ia kembali mengayuh sepeda bututnya meninggalkan halaman gereja, saat lonceng gereja menggema tiga kali.
"Kau masuk saja, aku tunggu di sini. Kalau ada apa-apa, panggil atau chat saja."
Andreas menatap manik hitam itu, mencoba mencari maksud dari perkataannya. Tampak kedukaan yang coba diselindung di balik senyuman yang terukir di bibir. Andreas menghela napas. Ia kemudian menjentik dahi Mariana membuat gadis itu merintih kesakitan.
"Kalau aku masuk sendiri, dengan siapa aku daftar nikah?"
"Kau bawa surat ...." Ucapan Mariana terpotong ketika lengannya tertahan, saat ia mencoba mengambil surat-surat yang tersimpan di dalam tas selempangnya.
"Kribo!" Mariana mendongakkan kepala.
"Tak ada manusia yang suci dalam dunia ini. Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, kita sudah tak ada tempat dan tak layak pun berdiri di hadapan Tuhan. Namun, Tuhan itu maha pengampun. Ia senantiasa menerima siapa yang datang kepada-Nya." Mariana terdiam.
"Seorang ayah membuat pesta, menyembelih peliharaan terbaik, bahkan mengundang semua orang untuk hadir dan bersuka ria bersamanya, saat anak bungsu yang lama hilang kembali ke rumah, setelah si anak itu hidup di luar, berfoya-foya hingga kekayaannya habis dan jatuh miskin.
Kau tahu apa maksudnya? Rasa sukacita sang ayah lebih besar daripada kedukaan yang dipendamnya selama si anak itu hilang. Itu tercatat dalam Alkitab, Perumpamaan Tentang Anak yang Hilang.
Ada lagi, seorang penggembala memiliki seratus ekor domba. Saat ia menggembalakan dombanya kembali ke kandang, ia mendapati dombanya hanya sembilan puluh sembilan ekor. Satu tersesat di hutan. Sang penggembala sangat sedih'atas kehilangan yang seekor itu. Ia kemudian keluar mencari domba yang hilang itu di setiap sudut hutan.
Setelah ditemukannya domba itu, ia kembali membuat pesta, agar semua orang turut bersukacita bersamanya, karena ia telah menemukan dombanya yang hilang."
Andreas menarik napas panjang. Paru-parunya sudah kekurangan oksigen karena terlalu banyak berbicara.
"Jadi, jangan kau anggap diri sendiri tidak layak! Akan tetapi, datanglah kepada-Nya karena ketidaklayakanmu itu!"
Andreas membuat tanda salib di dahi Mariana, menggenggam tangannya lalu menarik ia masuk. Mariana mengesat air mata, sebelum mengikuti langkah kaki Andreas.
Ada dua orang petugas gereja yang sudah menunggu, tersenyum menyambut kedatangan mereka. Setelah berbasa-basi sebentar dengan kedua petugas tersebut, mereka disuruh mengisi formulir pendaftaran pernikahan.
Petugas itu mengatakan bahwa, persiapan pernikahan itu kurang lebih enam bulan. Ini baru langkah pertama, selanjutnya nanti akan diberi tahu apa yang harus dilakukan. Begitu juga dengan biaya pendaftaran pernikahan mereka.
Berdasarkan kebijakan gereja, pernikahan tak boleh dilangsungkan pada masa Adven (masa sebelum Natal) dan masa Pra Paskah.
Andreas menghitung menggunakan jari-jarinya sebelum mengisi formulir. Masih terngiang di telinga pesan Om Sina kemarin, bahwa pernikahan harus dilangsungkan segera. Ia melirik Mariana, sambil menunjukan kalender pada layar ponselnya.
"Hari ini tanggal 1 Juni, jadi, kita pilih tanggal ini," kata Mariana, sambil menunjukan tanggal pada kalender ponsel Andreas. Lelaki itu mengangguk setuju.
__ADS_1