My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXV


__ADS_3

Pagi-pagi buta pukul 03.00 WITA, terdengar keributan di dapur, ditambah suara kokokan ayam jantan pertama kali. Terlihat Tari sedang membuat adonan tepung, nenek sibuk menangkap ayam yang sedang tertidur di atas pohon asam di belakang dapur, dibantu oleh mama dan Mariana yang sedang memegang senter.


"Nenek mau sembeli berapa ekor?" tanya Mariana.


"Tiga ekor," jawab nenek.


"Tidak terlalu banyakkah, Mak?" tanya mama.


"Ayam kampung biasanya tak ada isi. Bulu saja yang tebal." Mariana terkekeh mendengar jawaban nenek.


Nenek mengikat sabut kelapa pada ujung tombak, kemudian disirami dengan arak. Kata nenek, biar ayam cepat mabuk, lalu pingsan. Jadi, tidak membuat keributan, sehingga membangunkan ayam-ayam yang lain.


"Kenapa tidak sembeli si Jago, Nenek? Katanya mau sembelih si Jago untuk si Lee Min Ho."


Mariana cepat-cepat mengikat seekor ayam jantan yang baru saja jatuh dari atas dahan pohon asam karena pingsan.


"Nenek tak sampai hati. Si Jago itu kesayangan Nenek. Hari itu nenekmu sembelih yang betina." Mama yang menjawab.


"Berarti si Lee Min Ho itu tidak terlalu istimewa di mata Nenek tu."


Nenek tertawa. "Si Jago itu untuk calon cucu-menantu aku nanti."


Hati Mariana berbunga-bunga mendengar ucapan neneknya. Semalam dia berkenalan dengan lelaki yang dikatakan mirip dengan Lee Min Ho. Namanya Obi. Dia memegang tampan, tinggi, hidung mancung, kulit kuning langsat atau putih kekuningan. Secara umum dia memang tampan. Dia berasal dari kabupaten Manggarai.


Berdasarkan penelitian Marybeth Er di Warloka orang Manggarai berasal dari Vietnam dan Thailand. Ada juga yang mengatakan, orang Manggarai bahwa orang Manggarai itu keturunan Sumba, keturunan


Turki, keturunan dari Bima di Sumbawa, Bugis di Sulawesi, dan Melayu Malaka di Minangkabau.


'Ganteng sih ganteng, tapi masih kalah dengan si Tuan Perjaka aku,' batinnya memuji Andreas. Senyumannya melebar hingga ke telinga mengundang tanda tanya dalam hati mama dan nenek yang melihatnya tersenyum.


"Orang lagi kasmaran." Nenek mencuit lengan mama, kemudian mereka sama-sama tertawa.


Setelah menangkap tiga ekor ayam tersebut, mereka kemudian berbagi tugas. Mariana dan Fendi mengurus ayam, mama membantu Tari menggoreng donat, sedangkan nenek menyiapkan bumbu dan membersihkan sayuran.

__ADS_1


Pagi itu, semua orang sangat sibuk siap sedia menyambut tetamu nanti. Kata Om Alo, mereka akan bertolak dari Maumere sebelum pukul 10.00 WITA. Jadi, kurang lebih pukul 12.00 WITA, mereka pasti sudah sampai di rumah mama Mariana.


Mata mama melilau ke sana ke mari, mencari batang tubuh anak sulungnya. Namun, jangankan rupanya, sehelai rambut pun tak kelihatan. Ternyata, gadis manis itu sudah menghilangkan diri sejak pukul 8.00 WITA tadi.


Sejam kemudian, gadis itu pulang bersama dengan Abang Budi. Saat dia turun dari motor Abang Budi, mereka bertembung dengan Om Mias yang juga baru sampai di rumah, membawa serta sebilah kelewang di pundak. Mungkin baru pulang dari kebun.


"Selamat pagi, Om," sapa Mariana. Dia tersenyum lebar, lalu berjalan menghampiri pria tua tersebut bersalaman dan mencium punggung tangannya.


Om Mias merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Mama anak paling bungsu. Mama dan Om Mias menikah dengan orang dari kampung Heras. Jadi, Om Miaslah yang menjadi tempat mereka meminta bantuan, jika mereka dalam kesusahan.


Om Mias tersenyum. "Kamu tak pergi ke gereja?"


"Cuti, Om," jawab Mariana.


"Setiap hari Minggu dia memang cuti, Om." Tari muncul dari dalam rumah, membawa sedulang berisi kopi dan sepiring donat.


"Om dari mana? Bawa dengan kelewang mau sembelih apa? Tak pergi gereja ya, Om?" Pertanyaan beruntun Tari membuat Om Mias hanya menggelengkan kepala.


Tak lama kemudian Fendi menyusul dari belakang Tari, membawa sebuah meja dan beberapa buah kursi plastik. Disusunnya meja dan kursi tersebut di bawah pohon mangga. Tak lama kemudian, muncul mama dan nenek bergabung bersama mereka.


Mariana menarik tangan Abang Budi, berdiri di hadapan semua orang. "Nenek, Om, Mama, Ali, Adik Ipar. Perkenalkan, ini Abang Budi, abang angkat saya." Semua orang terdiam.


Tari pernah sekali bertemu dengan Abang Budi, tetapi yang lain belum pernah bertemu dengannya walaupun mereka tahu Mariana bekerja di kelab malam miliknya.


Mama berdiri memeluk Abang Budi. "Selamat datang, Anakku," kata mama.


Hati Abang Budi tersentuh, haru dan bahagia. Air mata lelakinya tumpah jua saat mendapat kasih sayang yang telah lama tak dia rasakan. Abang Budi balas memeluk mama.


"Walaupun kamu tidak lahir dari rahim mama, tak ada ikatan darah dengan kami, tetapi, kita memiliki ikatan perasaan, ikatan hati. Terima kasih telah menjaga, merawat, dan melindungi Ana selama ini. Terima kasih sudah menjadi abang yang baik untuk Ana."


Mama meleraikan pelukannya, kemudian menangkup wajah Abang Budi. Lelaki itu menundukkan kepalanya, lalu membiarkan mama mencium puncak kepalanya penuh kasih, seperti yang sering mama lakukan pada Mariana, Agus dan Tari.


Setelah itu nenek dan Tari bergantian memeluk Abang Budi, sedangkan Om Mias dan Fendi hanya bersalaman dengannya. Om Mias mengajak Abang Budi duduk, lalu mulai memberi wejangan percuma berisi nasihat dan petua lainya.

__ADS_1


Pagi itu, di bawah pohon mangga, Mariana mendapat satu lagi kebahagiaannya. Senyuman menawan tak lekang dari bibirnya, dihiasi gelak tawa dan candaan yang membuat dirinya sering kali menjadi bahan usikan. Ingatan Abang Budi kembali saat Mariana datang bertandang ke rumahnya tadi.


Gadis itu datang ke rumahnya yang terletak di Kelurahan Pohon Sirih. Saat itu, dia masih terlelap bergulung dalam selimut. Laungan salam dari luar rumah membuat dia terjaga dari lenanya. Setelah turun dari pembaringannya, dia keluar dari kamar, membukakan pintu, lalu mempersilakan gadis kesayangannya itu masuk.


Tanpa sempat menyediakan hidangan dan mengajaknya duduk, gadis itu sudah melontarkan pertanyaan kepadanya.


"Abang! Siapa saya dalam hidup Abang?"


*Di*a menatap Mariana dengan penuh kasih. Diusapnya puncak kepala Mariana. "Kamu orang kesayangan abang. Adik kesayangan yang paling abang kasihi. Rasa sayang abang, sama seperti abang menyayangi Laila, almarhum adik abang," jawabnya mantap.


Mariana kemudian memeluknya. "Ana juga sayang Abang. Rasa sayang ini hadir sejak pertama kali kita bertemu. Ana sayang Abang, sama seperti Ana sayangkan Agus dan Tari. " Dia membalas memeluk Mariana.


"Kalau begitu, Abang mesti ikut saya pulang ke rumah," lanjut Mariana.


*Di*a kemudian meleraikan pelukan mereka.


"Abang perlu bertemu mama dan keluarga Abang yang lain. Abang juga perlu menjalankan kewajiban sebagai seorang abang menggantikan posisi almarhum bapa."


Dahinya berkerut seribu mendengar ucapan Mariana. Gadis kesayangannya itu kemudian memperlihatkan jari manisnya.


"Ana sudah bertemu pemilik cincin ini. Siang nanti keluarganya datang maso minta. Jadi, Abang juga harus hadir di sana," jelas Mariana.


Maso minta adalah langkah pertama dalam tata cara perkawinan Lamaholot. Keluarga mempelai laki-laki datang bertemu keluarga perempuan sebagai silaturahmi.


Dia sangat senang mendengar kabar gembira tersebut. Serta-merta dia mempersiapkan diri, lalu mengikuti Mariana pulang ke rumah mama. Sebelum itu, Mariana sudah memperingatkan dia agar tidak terkejut saat melihat wajah mama. Dia hanya mengangguk. Namun, pada kenyataannya dia masih tetap terkejut saat melihatnya dengan mata kepala sendiri.


Dia menoleh melihat wanita yang duduk di sebelahnya. Wajah mama sebagian mendapat luka bakar, berkeriput dan terlihat sangat jelek. Kulit kaki dan tangannya pun melepuh. Kata Mariana, itu terjadi karena kesalahannya, sehingga rasa bersalah itu masih lagi menghantui perasaannya.


Merasa diperhatikan, mama menoleh menatapnya. "Kamu takut lihat wajah mama?"


Dia menggelengkan kepalanya. "Kecantikan lahiriah akan pudar keindahannya seiring berjalannya waktu, karena dimamah usia. Namun, ketulusan dan kebaikan hati seseorang, itulah yang mencerminkan kecantikan yang sejati."


Perlahan dia menggapai tangan mama, lalu diciumnya punggung tangan yang melepuh itu. "Mama tetap cantik. Selamanya terlihat cantik. Terima kasih sudah menerima saya, memberikan kasih sayang yang telah lama tidak saya rasakan."

__ADS_1


__ADS_2