My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XIX


__ADS_3

"Blokir! Blok itu orang!"


Cek cek cek!


Bunyi suara cecak yang merayap di dinding, seperti menyahut menyetujui perintah Andreas.


"Orang seperti itu tidak baik dijadikan teman." Suara Andreas bergetar. Tari membuka ponsel ingin mengetahui punca Andreas tiba-tiba berubah.


Pandangan matanya seperti tak percaya. Ada tiga foto dan satu video. Baginya itu hanya perkara biasa, tidak ada yang menakutkan. Namun, perubahan Andreas itu menjadi tanda tanya dalam hatinya.


"Nanti kalau dia marah bagaimana? Dia tidak suka orang lain buka FB-nya apalagi sampai blokir teman-teman dia."


"Biar dia marah. Bilang saja aku yang blokir!"


Tari mengangguk. Jari telunjuknya mengklik kata 'blokir.'


"Sudah," ucapnya. Andreas merampas ponsel di tangan Tari tanpa permisi. Wajahnya masih mencuka.


"Maaf," katanya setelah menyadari kesalahannya. Lalu mengatur langkah meninggalkan Tari yang masih termangu memikirkan perubahan sikapnya.


Andreas menutup pintu kamarnya, lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Bayangan kisah kelam yang ingin ia hapus dari ingatannya, terus menghantui pikiran dan perasaannya. Ia semakin gelisah. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahinya.


Ia bangun, kemudian menghidupkan kipas angin berkaki yang diletakkan di samping ranjangnya. Nomor tiga sepertinya tidak cukup laju, dia menekan nomor lima.


Seketika kelajuan kipas seirama dengan detak jantungnya. Dalam keadaan seperti ini, Andreas coba mendekatkan diri pada Tuhan. Dia duduk memejamkan mata berdoa dalam hati berharap ketenangan yang ia dapatkan.


Setelah berdoa ia kembali membaringkan tubuhnya. Perlahan rasa kantuk datang menyerang, dalam lelapnya ia memanggil, "Ibu! Ibu!"


...***...


"Di gereja tua, waktu itu hujan rintik-rintik kita berteduh di bawah atapnya.


Kita berdiri begitu rapat, hingga suasana begitu hangat." Mulutnya komat-kamit mengikuti lirik lagu Gereja Tua, Panbers yang diputar dari laptop-nya.


Namun, terhenti tatkala seseorang menolak daun pintu kaca kedainya.


"Selamat datang," ucapnya sambil menoleh.


Tari tersengih di sana. Ia menunjuk rantang makanan tiga tingkat yang dibawa.


"Waktu makan siang."


"Terima kasih adikku tersayang. Kau memang yang terbaik." Tangannya masih lincah memahat patung hero dalam permainan Mobile Legends.


"Tata, ini!" tunjuk Tari saat berdiri di samping Mariana.


Mariana tersenyum. "Hadiah untuk Natan, ulang tahunnya nanti."


"Dia pasti gembira." Mariana mengangguk. Ada beberapa patung hero yang sudah selesai dipahat. Tinggal dipercantikan lagi, menunggu sentuhan yang terakhir.


Mariana teringat saat adiknya Agus pulang liburan semester hari itu. Agus mengajar Natan bermain Mobile Legends yang sedang populer. Natan jadi ketagihan. Setelah Agus kembali ke Makassar, setiap hari Natan menangis meminta ponsel untuk bermain game.


Sedangkan Tari tak mengizinkan anak-anaknya bermain ponsel karena takut akan merusakkan mata Natan. Zaman sekarang banyak anak-anak yang masih kecil sudah memakai kacamata.


Jadi, Mariana berinisiatif untuk membuat patung dengan watak dalam permainan Mobile Legends.


"Aku pakai baterai nanti," ucapnya. Tari mengangguk.


"Kak, aku rasa pak Ande itu makin aneh," katanya sambil mengangkat sebuah kursi lalu diletakkan di hadapan Mariana dengan dibatasi oleh meja kerja.


"Aneh bagaimana?"

__ADS_1


"Tadi malam ...." Tari mengulum senyum. "Dia main Hp kamu. Awalnya itu, dia asyik merungut kalau Hp kamu loading macam siput. Lalu aku bilang kalau Hp itu dari zaman nenek moyang." Mariana memukul lengan Tari.


"Ha-ha-ha!" Tari tertawa.


"Tapi tiba-tiba, dia buang Hp, tu." Tari melanjutkan ceritanya.


"Blok! Blokir itu orang. Orang seperti itu tidak baik dijadikan teman." Tari mengajuk cara Andreas berbicara, sambil menunjuk patung yang dipegang Mariana. Gadis itu tersenyum.


"Aku lihat muka dia merah, seperti udang kena panggang. Aku bingung jadinya. Saat aku cek Hp tu, rupanya ada orang antar gambar dan video."


"Gambar apa?" Mariana bertanya.


"Apalagi, Senjata Para Tuan. Pen ❤️ Is dan video dewasa. Por ❤️ No."


"Ha-ha-ha!" Mariana tertawa terbahak-bahak.


"Mungkin dia tidak pernah lihat gambar seperti itu," ucap Tari.


"Tidak mungkin." Mariana membantah. "Anak-anak SD sekarang saja sudah tidak polos lagi, apalagi yang sudah tua ni. Ha-ha-ha!" lanjutnya dengan masih tergelak.


"Atau jangan-jangan, dia terkejut lihat orang tu punya lebih besar dari dia? Ha-ha-ha!" Mariana tertawa lagi. "Besarkah orang tu punya?" tanyanya.


"He e! Besar! Sangat besar. Ha-ha-ha!"


"Kalau mau tahu, kakak nikah dengan dia. Habis itu kakak bisa bandingkan mana yang lebih besar."


"Ha-ha-ha!" Mereka sama-sama tertawa.


"Tapi aku rasa, dia memang masih polos. Masa lihat orang berzina dia tutup mata."


"Ha aaa!" Tari ternganga. Kemudian Mariana bercerita tentang kejadian pada malam mereka menjalankan misi menangkap hantu.


Kali ini giliran Tari yang tertawa terbahak-bahak. "Dia bukan saja polos tapi juga penakut," ucapnya dengan suara gelak yang masih tersisa.


"Selamat pagi, Om! Selamat siang, Tanta!" Giliran Mariana yang mengajuk cara Andreas menyapa orang-orang yang ia temui.


"Mungkin saja di balik badannya yang kekar itu, dia sejenis dengan kita." Mariana berandai-andai. "Ha-ha-ha!" Kemudian dia tertawa.


"Jangan samakan pak Ande dengan sahabat kakak si Hendra tu." Tari tidak setuju. "Aku yakin, Pak Ande itu lelaki sejati."


"Ehh! Hendra juga lelaki sejati. Buktinya, istrinya sudah mengandung lima bulan sekarang. Tak lama lagi, aku dapat lagi satu ponakan."


Suara gelak tawa yang memenuhi ruangan toko, di usik dengan lagu Seroja, Lis Dahlia dari nada dering ponsel nokia elut milik Mariana mengalun merdu penuh syahdu.


Depan layar ponsel tertera nama 'Darling Hendra memanggil.'


"Hmm, panjang umur dia," kata Mariana. Pada saat itu juga, bunyi lonceng yang digantung pada pintu kaca menggema, karena daun pintu ditolak dari luar.


"Selamat datang," ucap Tari. Muncul beberapa orang gadis remaja berkunjung membeli barang yang diperlukan. Tari melayani mereka.


"Halo!" Sapa Mariana.


["Halo! Ana!"] Terdengar suara lemah-lembut lelaki di seberang sana menjawab.


Di tempat lain.


Andreas yang sedang bertandang ke rumah saudara sepupu, keluarga dari sebelah Nenek Esi, nenek Andreas. Awalnya mereka meminta Andreas tinggal di rumah mereka, tetapi, Andreas menolak.Tak mau menyusahkan orang lain.


Andreas duduk di sebuah kursi sambil menggosok-gosok telinganya.


"Kenapa?" tanya Om Yanto, sepupu Ayah.

__ADS_1


"Telinga saya asyik berdengung," jawabnya.


"Itu artinya ada orang sedang bercerita tentang kamu."


"Maksudnya, apa?"


"Orang bergosip tentang kamu."


"Ooo! Cerita yang baik atau buruk?"


"Mungkin baik, mungkin juga buruk."


Andreas mengangguk. "Harap yang baik saja."


Kembali pada Mariana.


"Kenapa dengan kau? Loyo saja, seperti ayam kena penyakit." tanya Mariana. Tangannya kembali sibuk memahat.


["Letih."]


"Baru habis tempur?" tanyanya lagi.


["He-he-he!"] Orang diseberang terkekeh. ["Kau ada pelihara jin? Tahu-tahu saja!"]


"Cis! Berapa ronde?"


["Lima."]


"Wah! Kau benar-benar jantan perkasa."


["Ha-ha-ha!"]


"Mana Ita?"


["Tidur."]


"Aku ingatkan kau, baik kau hati-hati. Kalau terjadi sesuatu pada ponakan aku, aku kebiri kau."


["Ha-ha-ha!"]


"Ada apa kau telpon?"


["Hari ini ultah Gina. Dia ada telpon kau, Daling?"]


Riak wajah Mariana berubah murung. "Tidak!" jawabnya. Hening. Sudah dua tahun Gina menghilang tanpa kabar. Tak tahu dimana rimbanya.


"Lain kali kalau kau baru habis tempur, jangan telpon aku." Mariana ubah topik.


["Kenapa?"] tanya Hendra.


"Kau buat jomblo akut ni gigit jari."


["Ha-ha-ha! Makanya cepat cari pasangan sana."]


"Kau pikir itu mudah?"


["Aku bantu!"]


"Terima kasih sajalah. Nanti kau cari yang sama jenis dengan engkau."


["Wahai! Dindaku sayang. Janganlah dinda menghina, nanti seperti Ita klepek-klepek tak berdaya."]

__ADS_1


"Weeeeaakk! He-he-he!" Mariana terkekeh.


["Tidak percaya? Mau bukti!"] tantang Hendra.


__ADS_2