
Sejak kehadiran Mikel, hampir setiap hari ibu dan ayah selalu bertengkar. Perkara kecil pun akan diperbesar-besarkan. Dia hanya menangis, terkurung dalam kamar setiap kali ayah dan ibu bertengkar. Walaupun sering kali bertengkar, ayah tak pernah mengangkat tangan memukul ibu.
Dia tidak mengerti, mengapa orang tuanya selalu bertengkar. Namun, satu perkara yang dia tahu, ibu kecewa terhadap ayah. Luka yang sedia ada semakin menganga, dengan kehadiran Mikel sebagai bukti, bahwa ayah mengkhianati cinta ibu. Dia tidak menyalahkan Mikel. Dia tulus menerima kehadiran Mikel, adik satu-satunya yang dia miliki.
Sering kali dia melihat ibu menangis, setelah bertengkar dengan ayah. Apabila ditanya, ibu pasti menjawab, 'debu masuk mata.' Jawaban klasik yang sudah basi. Waktu itu dia masih kecil, tak mampu berbuat apa-apa untuk menghibur ibu. Akan tetapi, dia akan berusaha menjadi anak yang baik dan penurut demi menjaga hati ibu.
Namun, dia terkilan atas perbuatan ibu yang meninggalkannya dan ayah. Jikalau ibu tak menyayangi Mikel, apakah dirinya juga tidak disayangi? Mengapa ibu sanggup meninggalkannya? Pertanyaan seperti itu sering kali mengasak pikirannya. Namun, kepada siapa dia hendak bertanya. Ia hanya tersimpan kemas dalam sanubari, menyimpan rapat berbalut luka dan air mata.
Dulu dia selalu menyalahkan ayah atas kepergian ibu, tetapi, sejak dia sendiri mengalami perkara serupa, ditinggalkan oleh Rena, dia mulai mengerti perasaan ayah saat ditinggalkan ibu.
Dia tahu, ayah selalu mengesat air mata bila bersendirian. Mungkin sedang mengenangkan cintanya dan ibu waktu dahulu.
Dilihat dari sikap ayah yang masih menyendiri selama dua puluh lebih tahun, dapat dipastikan bahwa ayah masih menunggu kepulangan ibu. Ah ... waktu terkadang terasa lambat, bagi orang-orang yang setia menunggu, tetapi apakah daya itulah cara 'tuk menanti dia untuk kembali. Seperti mana dia yang masih menanti kepulangan Rena.
Nasib mereka serupa, bercinta, kecewa, kemudian ditinggalkan. Namun, tetap setia menunggu. Sampai kapan dia perlu menunggu? Entahlah ... mungkin sampai pengujung waktu. Sekilas wajah ibu dan Rena menjelma. Hati tertanya-tanya, mengapa wanita yang dia sanyangi meninggalkannya?
Ditatapnya langit malam yang bertaburan bintang-bintang. 'Cantik,' batinnya. Namun seperti kata Mariana, akan lebih cantik apabila berbagi keindahannya dengan seseorang.
"Ha!"
"Mamorelblala," latah Andreas, karena dikejutkan oleh Mariana. Dia sampai terjatuh dari kursi yang didudukinya. Wajah ibu dan Rena seketika hilang dari pelupuk mata.
Mariana terpingkal-pingkal. Tertawa sampai wajahnya memerah karena tak dapat tertawa dengan suara keras. Dia terpaksa menahan gelaknya karena takut membangunkan seisi rumah yang tengah lena dibuai mimpi.
"Kau khayalkan siapa sampai aku panggil pun kau tidak dengar?" tanya Mariana setelah tawanya mereda. Dia duduk di sebelah kursi yang diduduki oleh Andreas tadi.
Andreas tak menjawab. Dia mengambil kursi yang terbalik, meletakkannya kembali pada posisi semula. Dia pun kembali duduk bersebelahan dengan Mariana. Wajahnya masam mencuka. Dia langsung tak menghiraukan gadis itu yang sedang menahan gelakkannya.
__ADS_1
"Kau masih marah?" tanya Mariana.
"Hmm."
"Kata Rasul Paulus dalam kitab suci, 'Padamkan amarahmu sebelum matahari terbenam,' tapi kenapa muka kau masam saja, seperti tersiram cuka?"
"Matahari pun belum terbit, apalagi mau tunggu sampai terbenam. Berapa jam lagi itu?"
"Kalau begitu dengar kata aku, padamkan amarahmu sebelum satu jam. Ini sudah beberapa jam, jadi cepat padamkan. Jangan sampai rumah tetangga terbakar akan api kemarahan kau yang sedang bernyala-nyala."
Andreas memalingkan muka, coba menyembunyikan senyumannya.
"Aku minta maaf tentang tadi." Wajah Mariana terlihat serius. Andreas terdiam.
"Kau marah karena aku bilang mau perkosa kau?" Dia memukul lengan Andreas, sambil tertawa. Sedangkan lelaki itu hanya membisu.
"Aku yang rugi, kalau sampai perkosa kau. Mana ada dalam dunia ini perempuan yang perkosa lelaki? Aku hanya bercanda tadi."
"Candaan kau berlebihan."
"Berlebihan yang bagaimana? Kau itu yang terlalu serius, sampai tak tahu bedakan antara candaan dan serius. Lagipun orang seperti kau yang selalu serius tu, mulai sekarang perlu biasakan diri dengan bahasa yang agak kasar. Anggap saja itu sebagai bentuk terapi.
Biasanya perkataan kasar seperti ini, merupakan bentuk dari psikologi seseorang. Maksudnya, begini ... eh! Bagaimana mau jelaskan ya." Dia garuk-garuk kepala. Andreas mengulum senyum.
"Aku ni bukan ahli psikologi, jadi, tak tahu bagaimana mau jelaskan. Kalau kau tanya tentang kehidupan wanita malam, seribu pertanyaan pun aku bisa jawab." Dia membetulkan posisi duduknya. Pantatnya terasa panas, bila duduk terlalu lama.
"Pertumbuhan manusia, kan mulai dari bayi sampai dewasa. Pertumbuhan selalu berkaitan dengan perkembangan. Walaupun selalu dijadikan satu istilah, tapi pertumbuhan diartikan sebagai ukuran dan bentuk tubuh anggota manusia. Kita bisa lihat dari penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan kita. Sedangkan perkembangan merupakan perubahan mental yang berlangsung secara bertahap.
__ADS_1
Contohnya begini, saat kau kecil dulu, kan pasti diajar nama-nama anggota tubuh manusia. Senjata kau pun kecil lagi. Bila kau bertumbuh besar, ia pun makin besar." Mariana terkekeh. Andreas memalingkan muka.
"Anak remaja perempuan, biasanya orang tua akan suruh mereka, jangan keluar malam-malam. Takut nanti diperkosa, ataupun orang tua sering kali menasihati anaknya, mengatakan hal-hal yang berbau porno. Kata yang kau anggap bahasa kasar.
Itu bukan karena orang tuanya mesum, tapi itu pelajaran untuk mengajar anaknya mengetahui perkara yang harus diketahui. Supaya saat mereka hidup di luar, mereka sudah tahu membedakan baik dan buruknya suatu perkara dan tidak terlibat dalam pergaulan bebas."
Andreas masih diam menyimak. Diam-diam ia mengagumi sosok Mariana. Gadis pemberani yang suka membela kaum lemah. Dia akan berdiri paling depan, jika ada yang menyakiti orang-orang yang ia sayangi. Walaupun dirinya dipandang hina oleh masyarakat.
Mariana masih bercerita. Memberikan penjelasan dari pertumbuhan manusia dari balita sampai dewasa. Ia bahkan menceritakan tentang psikologi seseorang, yang terlihat dalam hubungan yang tidak sehat, seperti gay dan lesbian.
"Selebihnya nanti kau tanya saja pada Abang Google. Takkan kau tidak tahu semua tu, sedangkan sahabat kau tu semuanya bukan orang polos. Lagipun orang seperti kau itu yang takut dengan perempuan– itu yang dikatakan Mikel, walaupun aku masih tak percaya. Perlu biasakan diri mulai sekarang. Persiapan untuk malper kita nanti." Dia menatap Andreas dengan pandangan menggoda.
"Malper itu apa?" tanya Andreas.
"Malam pertama, malam pengantin." Andreas tersedak ludahnya sendiri. Mariana merapatkan kursi mereka. Namun, saat dia mencoba merangkul lengan Andreas ....
Tuk!
"Adoe!" rintih Mariana sambil mengusap kepalanya.
"Jangan mendekat."
🌷🌷🌷🌷
NB:
__ADS_1