
Daniel terduduk. Menangis pilu. Jiwa lelakinya runtuh. Bukan sehari dua mereka bersama. Bertahun mereka merajut kasih, bersama menghadapi segala rintangan yang datang menghadang. Namun, karena kesalahannya, cintanya berujung pada perpisahan.
Tangisan sendu di hati, menahan kepedihan. Ia menatap lekat testpack penuh kebencian.
"Aaaarrrggghh!" Tangan kekarnya berayun sekuat tenaga melemparkan benda pipih berbentuk stick tersebut, berharap segala rasa sesal hanyut terbawa bersama ombak putih yang datang bergulung-gulung.
"Tidaak! Jangan tinggalkan aku, Ana!" Ia melompat dari satu batu ke batu yang lain mengejar Mariana, memohon agar diberikan kesempatan ke dua. Ia tak sanggup kehilangan gadis itu. Akan tetapi, sudah tak kelihatan lagi sosok Mariana di jalan raya.
Kakinya terasa lesu. Lemas menggoncang lara, ia berlutut di tepi jalan raya. Isakannya tak tertahankan lagi. Ia menangis tersedu-sedu.
"Hiks-hiks-hiks, Ana!" Kini, ia sungguh-sungguh kehilangan pujaan hatinya. Tak mungkin meraihnya kembali walaupun cintanya tak akan pernah pudar.
Memori bersama Mariana bermain dalam mindanya. Senyum dan tawa, marah rajuk gadis itu tak akan terpadam selamanya. Akan senantiasa terkenang selagi hayat masih dikandung badan. Rasa cinta seorang lelaki hanya untuk seorang gadis bernama Mariana.
"Mariana, aku mencintaimu. Selamanya mencintaimu. Hanya engkau yang kucintai, tak akan ada yang lain selain dirimu, Ana."
...***...
Bisingan kendaraan yang lalu-lalang, tak dihiraukannya. Panas mentari yang menyengat kulit tak lagi ia rasakan. Air mata asyik mengalir, walaupun tangannya sudah lenguh mengesat mutiara itu.
'Wahai, hati ... tabahlah! Walau diri sudah tak kuat menanggung derita. Bertahanlah! Walaupun ombak menghempas pantai. Senyumlah! Walau menangis dalam kesendirian. Kau harus tahu bahwa Dia lebih mencintaimu.'
TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.
Tanpa melihat ke kiri dan ke kanan, ia melangkahkan kaki melintasi jalan raya.
*Pip, piiiiipppppp, piiiiipppp!
Bunyi klakson dari kendaraan roda dua, sontak mengejutkan Mariana*.
Kakinya terasa kaku. Ia berdiri di tempat, langsung tak mampu bergerak. Ia memejamkan mata, berharap keajaiban berlaku.
Tiba-tiba ...
*Bruuk, bruuk!"
Dentuman kuat memaksa Mariana membukakan matanya. Dilihatnya seorang lelaki separuh baya terjatuh dalam parit, sambil merintih kesakitan*.
Demi menghindar dari kecelakaan menabrak Mariana, penunggang motor tersebut mengarahkan kendaraannya ke samping kiri. Namun, ia terlambat menekan engine brake.
Alhasil kendaraan bersama penunggangnya menabrak trotoar. Maka dapat dipastikan apa yang terjadi. Motor matic bermerek Yamaha terhempas melemparkan penunggangnya ke dalam parit.
Rintihan kesakitan menyiksa hati Mariana. Sakit akan perpisahan yang tak direlakannya, kini berdampak pada orang lain. Dengan tangan gemetar dan dengan deraian air mata, ia membantu pria tersebut keluar dari dalam parit.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya lelaki tersebut khawatir, sambil menahan sakit setelah duduk di atas trotoar.
Mariana mengangguk. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Melihat orang tua yang sebaya bapaknya mengingatkan dia pada lelaki tersebut.
Bapa (Ayah) meninggal dunia saat dia di bangku sekolah SMP kelas IX. Ia bahkan tak dapat melihat wajah bapa untuk yang terakhir kali, karena ia harus mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) saat itu.
Semakin bertambah rasa penyesalannya merambat dalam jiwa. Tangisan pilu, menyentuh hati pria baya tersebut.
Lelaki itu mengelus lembut kepala Mariana. "Tidak apa-apa, Nak. Jangan bersedih! Om baik-baik saja."
Sentuhan lembut di kepalanya menyadarkan Mariana.
"Om, aku minta maaf!" Mariana menangis tersedu-sedu.
"Tidak apa-apa. Tolong bawa Om ke klinik atau ke rumah sakit." Mariana mengangguk.
"Kau tahu bawa motor?" tanya Om.
" Iya, Om." Segera Mariana menegakan motor yang bermerek Yamaha tersebut. Meneliti sejenak sekadar mengetahui bagian mana yang rusak.
Lalu dibantu oleh beberapa orang yang sengaja berkerumun di sekitar mereka karena penasaran untuk mengetahui kejadian sebenar, maka Mariana dapat membawa pria baya tersebut ke Rumah Sakit Umum Daerah Larantuka untuk segera mendapatkan rawatan.
...***...
Dokter Lin yang menangani penyakit yang diderita oleh Om Alo, menyarankan agar Om Alo dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.
Seperti biasa, pada hari itu Mariana kembali berkunjung ke rumah sakit. Didapatinya Om Alo sedang bercengkrama dengan seorang pasien yang sebilik dengannya.
"Selamat pagi, Om!" sapa Mariana.
"Pagi," jawab mereka serentak.
Mariana masuk, lalu meletakkan rantang makanan berisi bubur ayam yang dimasak oleh Tari di atas meja walaupun saat itu Tari sedang sarat mengandung Noel.
"Siapa dia?" tanya teman baru Om Alo.
"Menantu saya," jawab Om Alo. Dia tersenyum memandang Mariana.
Mariana balas tersenyum. Canggung.
"Belum jadi menantu, tapi calon menantu." Om Alo membetulkan pernyataannya tadi.
"Oo, iya. Cantik calon menantu kamu." Mariana mengambil sebuah kursi lalu duduk di dekat Om Alo. Ia hanya tersenyum mendengar pujian Om tersebut.
__ADS_1
Mereka pun ngobrol bersama. Tak berapa lama kemudian, kawan Om Alo dibawa dokter untuk melakukan pemeriksaan di ruangan lain.
"Ana!"
"Iya, Om?"
"Ana sudah punya pacar?"
Mariana tunduk. Menggeleng kemudiannya. "Kami baru putus."
Om Alo menggenggam tangan Mariana. "Semangat! Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Walaupun harus memisahkan dua insan yang saling mencintai. Jika kamu kehilangan seseorang, itu berarti kamu ditakdirkan untuk memiliki seseorang yang lebih baik. Percayalah! Lepaskan! Berilah ruang pada diri sendiri, dan pada dia yang akan datang nanti!"
Mariana tersenyum mendengar nasihat Om Alo. Dia mengangguk.
"Ana, mau tak Om lamar Ana?"
"Haa?" Mulutnya terbuka lebar.
Om Alo tertawa. Lalu menyeluk saku celananya. Dia memperlihatkan sesuatu yang diambil dari dalam saku celana tersebut.
Sebentuk cincin emas putih tampak sederhana tanpa permata. Cincin tersebut lalu disarungkannya pada jari manis Mariana.
Pas. Tak longgar, tak ketat. Sesuai dengan lingkaran jari Mariana. Tak sempat menolak, gadis itu hanya terpana, dengan mulut masih terbuka lebar.
"Om mau kamu jadi menantu," kata Om Alo.
Mariana hendak mengatakan sesuatu, tetapi seorang perawat perempuan datang, lalu membawa Om Alo untuk melakukan X-ray pada lututnya.
"Ana, tunggu Om datang pinang Ana sekalian bawa anak Om. Mulai sekarang kamu tunangan anak Om," katanya sebelum menghilang di balik pintu kamar rumah sakit.
Mariana termenung sejenak, tak tahu hendak menyikapi perkara tersebut.
Keesokan harinya ia datang lagi. Untuk meminta maaf pada Om Alo. Dia ingin menolak pertunangan tersebut. Hatinya belum bersedia menerima cinta yang lain. Namun, Om Alo sudah keluar dari rumah sakit kemarin sore.
Begitulah kisah Mariana, menjadi tunangan orang. Dua tahun telah berlalu, tetapi hingga kini, janji Om Alo belum juga tertunaikan karena orang tua itu tak pernah datang meminangnya secara resmi.
Menjadi tunangan orang, menjadikan ia lebih merana. Merasa diri digantung pada tali yang tak bersimpul. Tak tahu kapan tali itu akan terlepas. Walaupun begitu, terkadang cincin itu ia perlihatkan pada orang lain yang mempertanyakan status dirinya.
"Aku tunangan orang."
✨✨✨
Keluarga besar MMY ingin mengucapkan
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏🙏🙏