My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XCVIII


__ADS_3

Andreas berulang kali coba menghindarkan diri dari bersentuhan dengan beberapa wanita yang berpapasan dengannya di Pasar Tradisional Alok. Melihat itu, Mariana geram sendiri. Dia menarik tangan Andreas merapat padanya, lalu memeluk lengan lelaki itu.


"Jangan jalan jauh-jauh dari aku!" Andreas tak menjawab. Dia menurut saja. Lagipun lebih nyaman berada di samping si Kribo.


Jika ada wanita yang mendekat, Mariana akan bertindak sebagai perisai baginya. Tak dapat dipungkiri, dia malu bila itu terjadi. Namun, rasa itu ditepisnya jauh-jauh karena hanya Mariana yang dapat dia andalkan.


Mariana membawanya ke gerai tempat jual ikan segar. Ada banyak jenis ikan di sana. Ada ikan tongkol, ikan tuna, ikan cangkalang, ikan teri, ikan kakap, ikan kembung, ikan makarel, ikan baronang, dan masih banyak lagi jenis ikan lainnya.


Mariana memilih ikan kakap, ikan


tuna, dan ikan kembung. Katanya mau buat bakso. Entahlah. Percaya saja. Andreas hanya memperhatikan tingkah Mariana yang sesekali terdengar gelak tawa antara dia dan penjual.


'Cie, mesra sekali dia dengan penjual. Jarang sekali lihat dia mesra begini dengan orang lain,' batin Andreas.


"Cantik, hari ini kamu datang dengan lelaki. Siapa dia?" tanya Markus, si penjual ikan. Berbisik.


Mariana juga balas berbisik. "Rahasia."


"Cie, tak mau kenalkan?" Masih berbisik. Markus mencubit mesra lengan Mariana. Gadis itu terkekeh kecil.


"Ehem!" Terdengar deheman kecil mengusik kemesraan mereka. Wajah Rika, si penjual daging ayam masam mencuka.


"Lihat lelaki ganteng sedikit sudah mulai tunjuk genit," cibirnya.


Mariana tersenyum kecut. Andreas pura-pura tidak dengar. Markus jadi salah tingkah.


"Geser sedikit," katanya dengan kasar.


Mariana bergeser, berdiri merapat pada Andreas.


"Ha, Markus. Bawa ikan tongkol ini ke sana, nanti aku bayar." Markus tak menjawab. Dia segera memasukan ikan tongkol yang dipilih Rika ke dalam kantong plastik.


"Mau genit pun lihat-lihat dulu. Jangan semua jantan kau embat." Selamba saja Rika bicara, sebelum berlalu meninggalkan tempat Markus. Dia melirik sekilas Mariana yang terkebil-kebil dengan ekor matanya.


"Oh, lirikan matanya menikam jantungku," kata Mariana diselingi tawa.


"Markus, hati-hati sedikit kau! Kita perlu jaga jarak, ni. Ha-ha-ha. Buah hati kau tak akan bagi peluang untuk pelakor."


"Kau tahu?" tanya Markus dengan serius.


"Tentu. Sekali pandang ikan di kali, sudah tahu jantan betinanya."


Giliran Markus yang terkebil-kebil. Percintaannya dengan Rika belum ada yang tahu, tetapi Mariana orang pertama yang mengetahuinya.


"Markus, perkenalkan …." Mariana menarik Andreas ke sisinya. Suaranya sengaja dikeraskan. "Andreas, sugar daddy merangkap suami aku."


Mariana beralih menatap Andreas. "Sayang, ini Markus, penjual ikan langganan aku."

__ADS_1


Markus hendak bersalaman dengan Andreas, tetapi dia malu karena tangannya berbau amis ikan. Melihat itu, Andreas yang terlebih dahulu mengulurkan tangannya bersalaman dengan Markus. Mereka bersalaman dengan mesra dan hangat.


"Tak sangka kau sudah menikah, Cantik."


Mariana hanya tertawa menanggapi ucapan Markus. Setelah membayar harga ikan, gadis itu mengajak Andreas meninggalkan tempat tersebut.


Mereka beriringan menuju tempat menjual daging ayam. Mariana sengaja memilih gerai milik Rika. Dia memeluk erat lengan Andreas, sengaja mempertontonkan kemesraan mereka pada gadis itu. Lelaki itu malu dengan tingkah sang istri, tetapi diabaikannya saja.


"Kak, aku mau beli seekor. Berapa harganya?" Gadis itu tak menjawab. Dia menjeling Mariana tajam.


"Aku jual harga sekilo. Mau pilih yang mana? Dada, kepala, kaki, usus atau paha semuanya ada. Masing-masing itu harganya tersendiri," jelas Rika panjang lebar walaupun masih tak bersahabat nada bicaranya.


"Aku mau beli seekor, nanti mau potong sendiri."


"Sudah habis. Tinggal ini saja."


"Mau yang mana, Sayang?" tanya Mariana pada Andreas.


Mendengar panggilan 'sayang', Rika mencebik dalam hati. Cemburu amat dia. Ha-ha-ha.


'Tak guna ni perempuan, asyik buat aku cemburu.'


"Pilih mana-mana saja. Paha pun bagus juga," jawab Andreas lembut.


Mariana mengulum senyum, mesra teramat sangat—merasa Andreas memihak kepadanya. Akhirnya Mariana memilih paha ayam. Dia hanya membeli setengah kilogram. Setelah membayar, mereka meninggalkan tempat Kak Rika.


Rika tersedak ludahnya sendiri. Ingin membalas ucapan Mariana, tetapi suaranya tersangkut di tekaknya.


...***...


Andreas tersentak saat Mariana menarik tangannya, membuat dia hampir saja terjungkal ke belakang. Dia terhuyung-huyung mengikuti langkah kaki gadis itu yang semakin laju.


"Ada apa, Kribo?" Dia menyentap tangannya dengan kasar. Gadis itu celingak-celinguk seperti mencari seseorang.


Mariana tak menjawab. Dia kembali menarik tangan Andreas, menerobos kerumunan para pengunjung pasar. Lelaki itu gelisah ketika beberapa kali menabrak para wanita yang berpapasan dengannya.


"Kribo, lepaskan!" Namun, permintaannya tak diendahkan.


"Kribo!" teriak Andreas.


Mariana akhirnya menghentikan langkahnya tepat di simpang jalan.


"Kau ni kenapa?" tanya Andreas kasar.


Mariana tersengih seperti kerang busuk. "Aku mau kenalkan kamu dengan sifu aku. Tapi dia sudah tak kelihatan lagi," jawabnya sambil mencari batang tubuh Tanta Mei. Namun, bayangan Tanta Mei pun langsung tak kelihatan.


"Tu, kan? Gara-gara kau lambat jalan."

__ADS_1


Andreas tak terima dipersalahkan. Mereka berdebat sebentar di simpang jalan raya tersebut. Jalan akhir, Andreas mengalah. Dia mengajak Mariana menaiki angkutan kota yang hendak melintas di hadapan mereka.


Dari jauh, sepasang mata asyik merenung dua batang tubuh yang hilang dalam perut angkutan. Dia masih berdiri di sana sampai angkutan tersebut hilang di balik tikungan jalan.


...***...


"Apa kau buat?" Mariana yang sedang bercangkung, langsung terduduk di lantai karena terkejut disergah tiba-tiba.


"Tuan Perjaka, tidak bisakah kau kasih salam dulu? Kau buat aku jantungan, tahu?"


"Alah, kau juga selalu buat aku jantungan! He-he-he."


Andreas berlalu, kemudian duduk di atas ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Lelaki itu baru habis mandi.


"Apa kau buat tadi?" tanyanya lagi.


"Lihat album foto kamu," jawab Mariana sambil melabuhkan tubuhnya di samping kanan Andreas.


Album foto diletakkan di atas ribanya, lalu tangannya pantas membuka lembar demi lembar album foto tersebut. Sesekali dia bertanya atau memberikan komentar mengenai teman-teman Andreas yang berfoto dengan lelaki itu.


"Kau segak sekali dalam jubah putih ni," puji Mariana tulus.


Andreas mengulum senyum. Hidungnya kembang kempis. Namun, ketika Mariana menoleh ke arahnya, dia cepat-cepat memalingkan muka.


"Ai, Tuan Perjaka. Kalau mau senyum, senyum sajalah. Tak perlu tahan. Muka kau macam udang goreng."


Mariana terbahak-bahak hingga matanya berair membuat sang suami cemberut, lalu menampar pundaknya dengan kuat.


"Dasar si Kribo!" Mariana hanya tertawa. Dia kembali menilik foto dalam album milik Andreas. Lelaki itu juga turut serta sang istri melihat albumnya. Gadis itu terjumpa selembar foto seorang wanita yang terselip di bawah foto sang suami. Dia mengeluarkan foto tersebut dari dalam album, menilik wajah wanita dalam foto tersebut inci demi inci.


"Siapa wanita ini?" tanyanya.


"Ibu," jawab Andreas


Mariana memalingkan tubuh menghadap Andreas. Mata bertentang mata. Andreas mengendurkan tubuhnya apabila melihat tatapan mesum sang istri. Mariana meletakkan album foto lelaki tersebut di sebelah kanannya, lengan kiri diletakkan di atas bahu sang suami. Mariana mencondongkan sedikit kepalanya, lalu meletakan dagu di atas bahu Andreas berbantalkan lengannya sendiri. Haruman bau sabun menyapu indera penciumannya. Entah apa jenama sabun tersebut, dia pun tak tahu, lupa sebenarnya.


"Kalau ditilik lagi, muka ibu seperti seseorang yang aku kenal," kata Mariana perlahan—berbisik tepat di tepi telinga sang jejaka itu.


"Si-apa?" tanya Andreas ingin tahu. Dia jadi gugup apabila melihat wajah Mariana begitu rapat dengannya.


Embusan napas panas si Kribo mengenai telinga dan sekitarnya membuat liang roma Andreas berdiri. Jari telunjuk kanan Mariana mulai menyusuri permukaan kulit wajah sang suami. Jantung Andreas terasa berhenti berdetak. Dia jadi lupa bernapas dan gugup.


"Kamu-lah," jawab Mariana santai, tetapi masih tetap berbisik.


Dia memejamkan mata, sambil memuncungkan bibir mengharapkan sesuatu dari Andreas. Namun, gadis itu tersungkur menyembah kasur apabila lelaki itu berdiri tiba-tiba.


Andreas terbatuk-batuk. Dia tersedak ludahnya sendiri. Sambil menahan tawa dia berkata, "Tentulah! Aku, 'kan anaknya."

__ADS_1


Mariana tak berani mengangkat muka. Perasaan malu menampar egonya.


__ADS_2