
Hawa pada akhir bulan April mulai terasa bahangnya, walaupun di luar rumah masih gelap. Mutiara jernih pun mulai keluar dari pori-pori kulitnya, terutama leher dan dahi. Selimut yang menutupi tubuh Mariana melorot jatuh ke lantai. Mariana kegerahan. Andreas menggeleng melihat cara tidur sang isteri. Kaki dan tangan kiri diletakan di atas bahu sofa. Kepalanya dimiringkan sedikit mendekati tepi sofa, sehingga rambut panjang Mariana terurai menyentuh lantai.
Andreas mengulum senyum, ketika memperhatikan cara tidur Mariana yang membentuk huruf K. Tak sampai hati melihat cara tidur Mariana, Andreas menurunkan kaki dan membetulkan posisi tidur istrinya itu. Ia lalu memutar tombol kipas ke angka tiga. Seketika kipas angin lebih ligat berputar.
Kalau ikutkan hati, ia ingin menghidupkan penghawa dingin elektronik, tetapi ia ingat Mariana tak tahan sejuk. Andreas menunduk, memungut selimut lalu kembali menyelimuti tubuh Mariana. Setelah siap, ia berjalan mendekati pintu, memutar knop lalu tubuhnya hilang di balik pintu kamar mereka.
Sayup-sayup terdengar ayam jantan berkokok dari rumah tetangga. Mariana menggeliat. Perlahan-lahan mata yang terpejam mulai celik. Apalagi cahaya bulan yang menerobos masuk melalui ventilasi membantunya melihat, walau dalam gelap. Mariana bingkas bangun, duduk bersimpuh di atas sofa, tatkala matanya tak menemukan batang tubuh yang terlelap di atas ranjang. Ranjangnya pun sudah dirapikan.
Ia meraih ponsel yang diletakkan di atas meja, sebelah sofa. "Baru pukul 05.00 WITA," gumamnya. Ia duduk bersandar, menunggu Andreas keluar dari kamar mandi, tetapi hampir lima belas menit pun, tak terdengar air mengalir apalagi sosok yang ia tunggu.
Mariana turun dari sofa, melangkah menuju ke kamar mandi. Tak ada sesiapa di dalam. Setelah membuang hajat, berkumur, dan mencuci muka, Mariana keluar dari sana lalu meninggalkan kamar tidur menyusul Andreas ke bawah.
Namun, ia masih tak menemukan sosok yang dicari. Ruang tamu dan dapur masih terlihat gelap. "Tuan Perjaka!"
Tak ada yang menyahut. Hanya pantulan suaranya yang menggema dalam rumah mereka.
"Tuan Perjaka!" panggilnya lagi, "mana kamu?"
Tangannya menekan saklar lampu. Seketika rumahnya terang-benderang. "Andreas!" Ia mulai mencari ke mana-mana. Dapur, kamar mandi, dan di belakang dapur pun tak ia temukan sosok Andreas.
Mariana berjalan ke halaman depan. Ia masih tak menemukan Andreas. Kawasaki Ninja HR2 pun ikut menghilang. "Pagi-pagi buta, ni, dia pergi ke mana?"
Mariana melabuhkan tubuhnya, duduk bertengger di atas tangga. Lalu bangkit lagi. Mulai merenggangkan tubuh, melemaskan otot-otot yang terasa kaku sebelum mulai melakukan aktivitas hariannya.
***
"Ana! Ana!" Mariana menoleh ketika namanya dipanggil oleh Kak Siti. Saat itu ia sedang menyapu di halaman samping rumah. Terlihat beberapa ibu-ibu sedang berkumpul di bawah pohon mangga depan rumah Kak Siti.
"Mari sini!" Kak Siti menggamit, menyuruhnya ikut berkumpul. Mariana meletakkan penyapu lidi, lalu ikut berkumpul bersama kelompok Kak Siti. Melabuhkan tubuhnya di samping tetangganya itu.
"Eh, kalian dengar tidak, tadi malam ...." Ibu Nani memuncungkan bibirnya ke arah rumah depan seberang jalan. "Ribut," lanjutnya. Rumah seberang jalan itu tetangganya. Pagi-pagi, emak-emak berdaster kelelawar mulai bergosip. Mariana baru perasaan kumpulan ibu-ibu itu, semuanya pakai baju tidur kelelawar kecuali dia sendiri.
__ADS_1
"Alah, mereka itu setiap hari memang ribut. Kasihan istri dia dapat suami begitu." Kak Siti menimpali, sambil membetulkan daster kelelawarnya yang tersangkut di ranting pohon mangga tempat ia duduk bersandar.
"Saudara kamu, to. Kamu bilang sama dia, si Herman, jangan asyik pukul istri dia. Kasihan si Mia!"
"Orang mabuk begitu, mana dia paham. Dapat istri cantik dan baik, tapi tidak tahu hargai." Kak Siti terlihat geram. Ia semakin geram saat baju tidurnya robek karena ditarik secara paksa.
"Untung bukan suami saya. Kalau tidak, saya sudah kebiri dia itu." Mariana tertawa kecil mendengar ucapan Kak Marta, tetangga belakang rumahnya. Wanita itu menggamit seorang anak kecil yang sedang berteriak menjual ikan segar.
"Jangan ketawa, Ana! Ha-ha-ha!" Kak Marta pun ikut tertawa.
"Ati, ke sini!" panggilnya.
Si Ati datang mendekati mereka. Perbualan mereka terhenti sementara waktu.
"Satu ikat ini berapa, Ade?" tanya Mariana. Ia juga turut memilih ikan. Ada beberapa ekor ikan dijadikan satu ikat.
"Sepuluh ribu, Kaka," jawab Ati. Gadis kecil itu terlihat manis ketika tersenyum.
"Iya, Tanta."
"Kaka punya ambil satu," kata Mariana. Si Ati mengangguk.
"Siti, kau tidak beli?" tanya Kak Marta.
"Tidak. Di rumah masih ada ikan, kemarin baru beli."
"Saya juga tidak beli," kata Ibu Yani, "suami sudah ke kota, nanti dia pulang pasti dia beli ikan juga." Wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu duduk goyang kaki di atas batu, sambil memperhatikan yang lain menawar ikan.
"Ati pergi jual ikan yang lain dulu, nanti datang ambil uang, e!" perintah Ibu Nani.
"Iya, Tanta," jawab Ati sopan.
__ADS_1
Setelah si Ati pergi, Kak Marta bersuara. "Kau tahu, adiknya si Herman, Petrus itu baik sekali sama Mia. Kalau Herma tidak berubah, e, nanti si Petrus bawa Mia lari. Baru dia tahu rasa."
"Macam dalam novel-novel. Novel kamu juga seperti itu, e, Marta, e?" tanya Tanta Yani, tetangga sebelah rumah Kak Siti yang sejak tadi tak bersuara.
"Eh, kisah mereka, saya bisa jadikan novel, oo!" Kak Marta terlihat bersemangat. "Ide bagus Kak Yani. Ha-ha-ha!"
"Kak Marta penulis?" Mariana begitu kagum dengan pekerjaan Kak Marta. Ia tidak menyangka wanita beranak tiga itu seorang penulis.
"Alah, penulis recehan. Tulis di platform online." Kak Marta merendah diri.
"Bagus itu, Kaka. Bukan semua orang bisa jadi penulis," kata Mariana memberikan semangat.
"Setuju, Ana. Kami semua ini pembaca setianya. Kami masih tunggu cerita terbarunya, o." Ibu Nani menimpali.
"Kalau kisah si Herman dan Mia mau kasih judul apa, e?" tanya Ibu Yani.
"Istri Tak Dihargai," jawab Kak Siti cepat.
"Mantap," kata yang lain serentak. Mereka langsung tertawa bersama.
Tak lama si Ati datang. Ikannya sudah habis terjual. Para emak-emak berdaster kelelawar mulai membubarkan diri.
"Saya pulang ambil uang dulu," pamit Ibu Nani.
"Ati ikut Kaka!" ajak Mariana.
"Ati, habis dari rumah Kak Ana, datang ke rumah Tanta, e," pesan Kak Marta.
"Iya," jawab Ati.
Tinggallah Kak Siti dan Ibu Yani. Tak lam kemudian, Ibu Yani pamit pulang. Sedangkan Kak Siti kembali melanjutkan pekerjaannya menyiram tanaman bunga.
__ADS_1