My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXXIV


__ADS_3

'Tiada harapan yang dimulai, jika subuh belum usai.' Sepenggal ayat motivasi dari pesan teks singkat yang Mariana terima dari sahabat yang nun jauh di negeri orang, yang ria jadikan sebagai wallpaper ponselnya.


Mariana menatap layar ponsel untuk melihat jam. Pada layar ponsel tersebut, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Gadis itu terduduk lesu di sofa. Tubuhnya terasa lemah. Kaki dan tangannya pun seolah tak bertulang. Lemah tak bermaya.


Sudah beberapa kali ia harus berulang-alik masuk WC (water closet) untuk membuang hajat. Perutnya terasa sangat mulas, akibat kebanyakan makan daging semalam. Walaupun pada akhirnya perlombaan semalam, Mariana yang menuai kemenangan, tetapi, akibat ketamakannya, ia berakhir lesu di sofa.


Mariana bingkas bangun mendekati ranjang. Niat hendak memanggil Andreas, tetapi, diurungkannya apabila melihat suaminya itu sungguh terlena dibuai mimpi. Ia pun beralih mencari balsem gosok cap Lang yang terletak di atas meja kecil di samping ranjang mereka.


Balsem tersebut dicoleknya sedikit, lalu disapukan pada perutnya. Belum selesai ia mengoles perutnya, penghuni kampung tengah sudah berontak. Melempar keluar sisa makanan kotor yang tak dapat dicerna. Segera Mariana berlari kembali memasuki kamar mandi sebelum CD-nya dijadikan kantong sampah.


"Sialan!" umpat Mariana. Kesal.


Setelah selesai membuang hajat, Mariana kembali berbaring di sofa. Tenaganya sudah habis terkuras. Tak lama kemudian, Andreas terjaga dari tidur. Pandangannya tertuju pada batang tubuh sang istri yang terbaring di sofa menghadap ke arahnya. Wajah Mariana pucat pasi. Bibirnya pun kering dan pecah-pecah. Andreas segera mendekatinya.


"Kribo, kenapa dengan kau?" Menggoyang tubuh Mariana, sambil tangan kanannya menyentuh dahi gadis itu, mengukur suhu tubuhnya.


Mariana menggeliat saat merasakan Andreas menyentuhnya. "Perut aku sakit," katanya. Suaranya terdengar lirih. Ia bingkas bangun, lalu bergegas ke kamar mandi lagi.


"Kau mencret?"


"Iya," jawab Mariana sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Itu karena tadi malam kau lepaskan bom atom tanpa membuang sisa toksiknya. Ha-ha-ha!" teriak Andreas, sambil tertawa. Ia yakin Mariana mendengar teriakannya.


Semalam memang Mariana yang memenangi taruhan buang angin. Namun, bagi Andreas, ia yang memenangi pertaruhan tersebut sebab setelah ia melepaskan bom beracun, Andreas langsung membuang ampas bertoksik dari hasil metabolisme ke dalam ******. Itulah sebabnya, ia masih berdiri di situ dalam keadaan yang baik-baik saja.


Andreas menghela napas. Ia bergegas mengambil dompet lalu keluar dari kamar hotel, tanpa sempat mencuci muka atau berkumur.


***


"Jangan terlalu gelojoh! Tidak ada orang rebut bubur ayam kau tu," nasihat Andreas. Nasi campur Bali disuapkan ke mulutnya. Tadi ia keluar membeli bubur ayam dan sarapannya, sekaligus membeli obat sakit perut untuk Mariana.


"Aku kelaparan." Suapan terakhir, lalu kotak makan plastik itu diletakkan begitu saja di atas lantai. Ia duduk bersandar kekenyangan pada kaki ranjang mereka. Mariana dan Andreas memang duduk makan di atas lantai walaupun di situ ada sofa dan meja.


"Terima kasih." Matanya tak lepas memandang sarapan Andreas. Teringin untuk mencicipi sarapan milik Andreas, tetapi diurungkannya saat melihat mata Andreas yang melotot ke arahnya.


"Setelah ini, apa rancangan kau?" Ia coba mengubah topik.


"Orang sakit duduk diam di dalam kamar."


Mariana ingin protes, tetapi Andreas sudah melanjutkan kembali kalimatnya. "Aku juga tidak pergi ke mana-mana. Mungkin besok atau lusa kita jalan-jalan."


Perhatian juga dia, batin Mariana. Taman hatinya mulai berbunga-bunga, membayangkan keromantisan mereka selama berbulan madu.

__ADS_1


Tuk!


Mariana mengelus kepalanya, setelah Andreas mengetuk menggunakan ujung sendok makan.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"


...***...


Wisata Seminyak, Bali terkenal dengan kemewahan, seperti kafe, tempat berbelanja dan kelab malam. Semalam Andreas dan Mariana hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, padahal di hotel tempat mereka menginap menyediakan berbagai hiburan seperti kolam renang yang terletak di atap Hotel Daun Seminyak. Mereka juga bisa menghabiskan waktu melihat pemandangan matahari terbenam. Namun, keduanya hanya memerap di dalam kamar. Untung saja tak sampai berakar.


Pagi ini Mariana mengajak Andreas berkeliling Seminyak. Awalnya Andreas menolak pergi berdua, tetapi, Mariana beralasan bahwa ia takut tersesat sebab ini pertama kali ia melancong ke tempat wisata terkenal di Indonesia. Sebenarnya ia hanya berbohong.


Itulah sebabnya, kini dua buah sepeda lipat membelah jalan raya kota Seminyak, Bali yang tampak lengang menuju Pantai Seminyak, tempat wisata utama Seminyak yang terletak di Desa Seminyak. Menurut para pelancong, kalau tak merasakan sendiri pasir di Pantai Seminyak, maka tak lengkap wisata di Pulau Bali. Eh, mereka bukan sedang berwisata, tetapi, sedang berbulan madu.


Setelah bersiar di Pantai Seminyak, mereka melanjutkan perjalanan ke berbagai tempat wisata lainnya seperti Pantai Petitenget yang terkenal dengan gelombang ombak yang arus lautnya besar dan kuat. Kemudian mereka ke Pantai Echo yang lebih sepi. Sesuai untuk pasangan kekasih. Mariana Renata tak mau lepas peluang untuk berfoto. Selama perjalanan tadi, Andreas enggan diajak foto, sehingga Mariana diam-diam merekam jejak mereka. Begitu juga di Pantai Echo.


Ponsel resmi 9T diarahkan kepadanya, tetapi sebenarnya kamera diarahkan kepada Andreas yang berdiri menghadap ke arah laut menikmati embusan bayu laut.


"Tuan Perjaka!" seru Mariana. Andreas menoleh. Pada saat itu juga, Mariana langsung memfotonya. Begitulah cara Mariana mendapatkan foto Andreas. Setelah itu mereka lanjut lagi perjalanan menuju destinasi wisata lainnya.


Selama tiga hari mereka di Seminyak. Setelah itu melanjutkan perjalanan bulan madu mereka ke Kuta dan destinasi wisata lainnya yang ada di Bali.

__ADS_1


__ADS_2