My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab III


__ADS_3

Andreas membungkuk sambil bertumpu pada lutut dan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya diulurkan meraba-raba mencari letak ponselnya. Sakit hatinya masih lagi tersisa bila terkenang akan nasib malang yang menimpanya hari ini.


Tiba-tiba bagian belakangnya ditendang oleh seseorang. Untung saja dia segera menyeimbangkan tubuhnya, kalau tidak dia pastinya turut bermandikan air parit.


Andreas mendongak lalu berdiri mencari orang yang menendangnya, tetapi tidak terlihat siapapun disekitarnya. Manusia yang berkerumun tadi telah pun beredar melakukan aktivitas masing-masing, seolah-olah tidak terjadi apapun.


Walaupun begitu masih ada orang yang menjeling padanya. Mungkin merasa kurang senang atau tidak puas hati, ada juga yang berbisik-bisik bertanya kepada sesama sendiri.


Ponsel ditangan dipandang, liar matanya memandang sekeliling. Kini dia sadar, dia merasa bukan seperti dirinya sendiri. Dia bukan orang yang tidak berpendidikan. Dia juga bukan orang yang tidak mengenal arti sabar.


Yang tak tahu menghormati dan menghargai orang lain. Tetapi dimanakah sikap toleransi yang dipegang teguh dalam dirinya?


Rasa marah dan kecewa yang dipendam bertahun lamanya sejak ditinggal ibu, dan masa lalunya yang kelam, bahkan ditinggal kekasih, kini meluap, meletus bagaikan gunung berapi.


Andreas mengurut dada, mencoba untuk bertenang. Menarik kemudian menghembuskan napas secara perlahan-lahan. Dia melakukannya berulang kali sambil memohon pengampunan dari Tuhan dalam hati atas rasa penyesalannya.


Tetapi tidak dapat dinafikan bahwa hatinya merasa lega, seolah batu besar yang dipikul telah terangkat dari pundaknya.


Aduh! Kasihan Mariana, jadi tempat pelampiasan kemarahan Andreas.


...****...


"Ahh! Lelahnya." Tari memperhatikan setiap sudut ruangan. "Hmm, bersih," gumamnya. Hari ini ada orang yang akan datang dari kamar depan, itu yang dipesan kakaknya sebelum keluar rumah. Entah mimpi apa kakaknya semalam. Buang tabiat, mungkin.


Tiba-tiba, kakaknya ingin pergi ke gereja. Padahal sebelum ini, sudah berbuih mulut Tari membuka kakaknya itu. Nama OMK ( Orang Muda Katolik ), tapi sudah lebih dua tahun, kakaknya itu melibatkan diri dalam kegiatan organisasi OMK. Jangankan di gereja, kegiatan dalam desa saja, kakaknya hanya tahu membayar denda.


Bukan tanpa sebab, kakaknya itu berkelakuan demikian. Kasih sayang yang terjalin sejak dia berumur sembilan belas tahun, terlerai karena tak direstu, menggores luka, dan jiwanya pun merana.


Hinaan, cacian masyarakat, kawan dan sanak saudara, membuat luka semakin bernanah, hingga meninggalkan parut, meninggalkan bekas yang tak dapat dipulihkan.


Tapi Tari tahu, kecekalan dan ketabahan hati, kakaknya mampu melewati segala dugaan yang datang bertimpa-timpa. Dan hari ini, terjadi perubahan pada diri kakaknya. Perubahan pada kebaikan.


"Hmm, ada malaikat bujang lalu kah, atau dia bermimpi menikah dengan pendeta tampan?" Apapun, Tari berharap perubahan itu berkekalan. Tari tersenyum. Segala rasa syukur dia panjatkan kehadirat Tuhan. Tangisan anak keduanya mengusir kenangan lalu yang datang menyapa.


...***...

__ADS_1


"Kenapa hari ini aku asyik ketemu kamu?" Andreas bersuara. Mereka bertemu lagi di simpang jalan raya. Sepertinya mereka akan mengarah ke destinasi yang sama.


"Hei, kau pikir saya suka dengan pertemuan ini? Saya pun benci ketemu kamu. Lelaki yang suka makan ekor ayam, mulut becok macam burung murai tercabut ekor." Mariana sungguh berang. Dia menatap Andreas dari atas ke bawah. Andreas sudah menukar pakaian. Tadi lelaki itu memakai baju kemeja putih. Celana? Tidak diperhatikannya tadi.


Sekarang Andreas memakai baju santai berkolar, lengan pendek berjalur hitam-putih-merah, menampilkan lengannya yang berotot. Celana jeans pendek selutut, tampak sangat menawan dan bergaya, mengundang hati wanitanya berdesir riang. 'Patutpun dia bilang aku pengotor,' desis hati Mariana.


"Apa kamu bilang?" tanya Andreas.


"Kenapa kamu mesti ikut jalan sini?"


"Suka hati saya mau ikut jalan mana, lagipula jalan ini bukan nenekmu buat."


"Bukan nenek, tapi moyang saya."


"Moyang saya juga buat jalan ini," Andreas tidak mau kalah.


"Saya tidak pernah lihat moyang kamu disini!" Mariana bercekak pinggang menantang Andreas.


"Saya juga tidak pernah lihat moyang kamu disini!"


"Itu karena kamu baru lahir kemarin," Andreas mengetap bibir menahan geram, mendengar perkataan Mariana.


"Tentu, dan aku akan hidup seribu tahun lagi."


"S G M." Andreas tidak mau lagi melayani wanita yang dianggapnya kurang waras. Dia menarik kopernya meninggalkan Mariana yang masih termangu.


Dia tersenyum sendiri melihat penampilan Mariana tadi. Baju lebar kebesaran yang berwarna coklat, celana panjang hitam lebar, sepatu boot kulit, dan topi bambu berbentuk kerucut. Jangan lupa parfum alami itu, yang membuat Andreas beberapa kali harus menahan napas.


Butuh waktu beberapa menit untuk Mariana mencerna ucapan Andreas. 'S G M , apa itu?' Namun tiba-tiba mata Mariana terbelalak.


"Hei!" teriak Mariana, "kau tu yang S G M ( sinting gila miring)."


Andreas yang mendengar teriakkan Mariana, berusaha mempercepat langkahnya. Mariana mengejarnya, namun tetap tertinggal di belakang.


...***...

__ADS_1


Jam di dinding yang pukul 3.15 sore. Pintu diketuk beberapa kali lalu terdengar suara lelaki menyusul memberi salam.


"Halo! Salom!"


"Salom! Salom!" teriaknya lagi.


Beberapa menit kemudian, pintu terkuak dan muncullah wajah Tari disana. Hanya wajahnya saja yang terlihat.


Tari meneliti sosok dihadapannya. Kaki panjang, perut rata,' agaknya berapa kotak, ya?' Dada bidang tampak kekar dalam balutan baju berjalur,' hmm, lebih bidang daripada punya suami aku.' Tari menggigit bibir. Matanya masih liar meneliti sosok tersebut.


Lengannya berotot, semakin keatas dilihatnya dagu yang licin tanpa sehelai rambut pun yang tumbuh alias cukur, rahangnya tampak tegas, bibir bawahnya sedikit tebal membuat ia semakin seksi.


Kepala Tari pula sekejap miring ke kiri, sekejap miring ke kanan. Kali ini dia menjulurkan ujung lidah untuk membasahi bibirnya. Semakin keatas dilihatnya ujung hidung sosok tersebut. Kemudian ke pangkal hidung, ternyata sosok tersebut memiliki hidung yang mancung.


Bulu mata yang lentik, tetapi matanya kecil sedikit sepet seperti mata orang Cina. Alis mata tebal, dengan kening yang licin, rambut hitam lurus, tambah sempurna dengan kulit yang putih bersih.


Kali ini Tari menggigit ujung jari telunjuknya. Tampaknya dia sungguh terpesona pada batang tubuh di hadapannya. Sekarang mindanya pula liar membayangkan lelaki tersebut berdiri di depan altar dalam balutan stelan hitam-putih, dilengkapi jas hitam dan dasi kupu-kupu, dihiasi dengan senyuman yang tak pernah lekang dari bibirnya.


Sambil menunggu pasangannya yang sedang berjalan di atas karpet merah, dalam balutan gaun putih panjang menyapu lantai, membuat dia semakin cantik dan berseri bagaikan bidadari.


Tangan kanan gadis tersebut memegang sejambang bunga, sedangkan tangan kirinya memaut lengan si jejaka tampan, dan di belakang sang gadis, digiring oleh dua peri yang tak kalah cantik.


Senyum yang tak pernah lekang, menyapa para jemaat yang hadir, dan alunan melodi Beautiful In White dari piano yang dimainkan oleh sahabat dari gadis tersebut, mengiring langkah kaki menuju pasangan yang sedang menunggu.


Sesampainya di hadapan mempelai pria, jejaka tersebut menyerahkan gadisnya sambil berkata, " sekarang kakak kesayangan saya, menjadi tanggung jawab abang ipar. Semoga bahagia hingga ke anak cucu."


Sambil tersenyum tangan bersambut. " Terima kasih atas kepercayaannya," balas sang mempelai pria.


Janji sehidup semati, sumpah setia telah pun terikrar dan disaksikan jemaat di hadapan Tuhan. Cincin pernikahan pun telah disarungkan pada jari manis masing-masing, tetapi pada saat ciuman tiba-tiba...


"Stoooopppp,"


####


sekadar untuk berbagi informasi.

__ADS_1


NB : becok



__ADS_2