
"Kau buat apa di kamar aku?" Andreas berdiri bercekak pinggang. Menatap Mariana dari atas ke bawah, kemudian berpaling wajah. Malu.
"Ambil baju aku. Kau tidak lihat? Tu." Mariana menunjuk pakaian yang diletakkannya di atas ranjang.
"Kau memang tak tahu malu, atau sudah kebiasaan kau merayu dalam rumah hanya berbalut handuk?" tanya Andreas. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Ehh! Ini rumah aku, suka hati aku, to?"
"Tapi di rumah ini bukan kau seorang tinggal."
"Sepanjang hari ni aku rasa, aku seorang yang tinggal di rumah ini." Mariana menyindir. Ia memungut pakaiannya, ingin cepat berlalu dari situ. Malas hendak melihat wajah Andreas.
Andreas terdiam. Ia hanya memperhatikan kegiatan Mariana. Namun, wajahnya berubah merah padam, saat pandangan matanya teralih pada CD-nya yang tergeletak di atas lantai. Tidak! Lebih tepatnya, dipijak Mariana.
Gadis itu yang sedang memungut pakaiannya, tersungkur ke samping karena didorong tiba-tiba oleh Andreas. Lilitan handuk kembali terlepas.
"Adooooee!"
Nahas juga bagi Andreas. Ia turut terjatuh, saat hendak memungut CD-nya. Kakinya tergelincir setelah menolak Mariana.
Ia terjatuh di atas tubuh Mariana. Tangannya berada tepat di dada gadis itu. Mata mereka bertemu. Terkejut.
1, 2, 3 ...
Bughk!
Penumbuk Mariana mendarat di rahang Andreas. Setelah ditinju, tubuhnya di dorong ke samping dengan sekuat tenaga, mengakibatkan kepalanya terbentur kaki ranjang. Lelaki itu merintih kesakitan.
__ADS_1
Mariana menggulingkan tubuhnya ke samping, menjauh dari Andreas. Tangannya lantas menarik kain baju yang tergeletak atas lantai saat ia terjatuh tadi untuk menutupi tubuhnya yang tak berbalut kain.
Malu. Marah. Geram. Itu yang ia rasakan sekarang. Tak berani ia menatap wajah Andreas. Kalau boleh ia ingin bersembunyi di dalam lubang semut.
Andreas bingkas bangun setelah menyadari keadaan tersebut, membawa diri keluar dari kamar. Malu. Marah. Geram. Itu juga yang ia rasakan, tapi pada siapa? Diri sendiri? Atau Mariana? Entahlah.
Kakinya terasa lemas, deru napasnya memburu. Degup jantungnya pun berdetak laju, darah seolah mendidih, keringat mulai bercucuran membasahi dahinya.
Andreas terduduk lemas di atas tanah basah, di depan halaman rumah Mariana. Ia menatap lekat telapak tangannya. Masih terasa kulit halus Mariana membekas di sana. Seketika terngiang di telinganya, kalimat Mariana saat mereka menjalankan misi 'menangkap Hantu.'
"Cis! Dada rata macam papan setrika. Dia mau pamer kasih kau lihat."
'Dada rata?' batinnya bertanya.
Ia kembali menatap telapak tangannya. Seketika suhu tubuhnya meningkat. Keringat kini lebih banyak bercucuran. Pangkal paha terasa berdenyut. Refleks ia merapatkan pahanya.
"Ahh! Kribooo!" jeritnya tertahan.
Mariana celingak-celinguk di balik pintu kamarnya pagi itu. Hmm! Pagi menjelang siang sebenarnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WITA. Sepanjang malam dia hanya bersembunyi di bawah selimut tebalnya. Tak berani keluar, takut bertemu Andreas.
Setelah merasa aman, ia pun membuka lebar pintu kamarnya, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
Namun, langkahnya terhenti karena Andreas juga baru saja keluar dari kamarnya. Mereka berpandangan sejenak, kemudian Mariana berpatah balik masuk ke kamarnya. Begitu pula dengan Andreas, lelaki itu pun lari masuk kembali ke kamarnya.
"Ahh, sial!" Mariana mengumpat. Ia duduk di atas ranjang.
"Kenapa jam begini dia masih di rumah?" tanyanya pada diri sendiri. "Padahal kemarin, awal pagi lagi dia sudah menghilang," lanjutnya.
__ADS_1
Sedangkan Andreas ... lelaki itu asyik mondar-mandir di dalam kamar. Ia menyalahkan diri sendiri. Mengapa bisa lupa jam Mariana bangun tidur.
Sepanjang malam ia tak dapat tidur, setelah berlari mengelilingi rumah hampir dua puluh pusingan untuk menekan hasrat yang tiba-tiba bergelora . Dia baru bisa memejamkan mata saat ayam berkokok ketiga kali karena sudah tidak mampu lagi menahan rasa kantuk.
Akan tetapi, sekarang bagaimana? Ia tidak memiliki wajah bertemu Mariana. Kejadian semalam masih membekas dalam ingatannya.
"Aduh, aku sudah tak tahan ni. Aku mau buang air." Ia merapatkan pahanya. Dahinya sudah berkerut seribu.
Andreas menjengukkan kepalanya dari balik pintu kamar. Celingak-celinguk di sana melihat Mariana.
Tak ada. Bagus. Ia berjalan keluar sambil merapatkan pahanya karena air seni sudah bertakung penuh dalam kandung kemihnya.
Saat kakinya mencapai pintu mengarah ke dapur, ia bertembung Mariana di sana. Tubuh mereka hampir saja bertabrakan.
Andreas segera merapatkan tubuhnya pada dinding rumah, sambil menyembunyikan wajahnya. Ia berdiri melekat seperti cecak.
Mariana salah tingkah, ia berdiri kaku di tempat. Malu memandang wajah Andreas. Ia mengatur langkah meninggalkan Andreas, tetapi baru beberapa langkah, ia mundur kembali berdiri membelakangi lelaki itu.
"Ehem!" Berdehem, coba mencairkan suasana.
"Lupakan apa yang terjadi tadi malam." Suaranya terdengar berbisik, tetapi masih bisa didengar oleh telinga Andreas.
"Anggap saja tidak ada apa yang terjadi. Kau dengar tidak?"
"I - i - iya. A - aku tidak ingat a - apa pun," jawab Andreas terbata-bata.
Mariana tersenyum. Ingin sekali ia menjahili Andreas, tetapi rasa malunya lebih menguasai diri.
__ADS_1
"Ishh! Sial! Aku jaga diri hanya untuk suami masa depan, tapi kau pegang dulu," umpat Mariana kesal. Ia menghentakkan kakinya beberapa kali, kemudian berlalu meninggalkan Andreas.
"Isshh, malunya ...."