
Romo Wens yang sedang berkotbah di atas mimbar, sesekali melirikan matanya pada batang tubuh yang duduk di bagian tengah barisan. Suaranya lantang menggema dalam ruangan tersebut.
Katanya: "Karena Yesus tidak disambut oleh orang-orang di Nasareth, maka Ia pergi berjalan-jalan di tepi danau Galilea, dan disitulah Ia manggil murid-muridNya. Simon dan saudaranya Andreas yang sedang menebarkan jala. Simon dan Andreas sebelumnya sudah berkenalan dengan Yesus sebagai Mesias. Mungkin juga Yohanes bin Zebedeus termasuk di antara mereka yang disebut dalam Injil Yohanes 1:35-39 (lihat sendiri dalam Alkitab) dan lihat juga Injil Yohanes 1:40-42.
Rupanya mereka pernah menjadi murid Yohanes Pembaptis. Injil Yohanes 1:35-40
Ketika Yesus melihat mereka, segera mereka dipanggil untuk mengikuti Dia. Tanpa bertanya mereka terus mengikuti Yesus. Meninggalkan pekerjaan, keluarga, rumah tangga mereka dan sebagainya. Tuhan Yesus tidak menjanjikan apa-apa seperti upah ataupun bentuk lainnya.
Betapa heran kita melihat iman murid-murid itu. Tampaknya mereka sungguh-sungguh yakin, bahwa Yesus adalah Mesias. Begitu juga dengan Yohanes dan saudaranya Yakobus anak-anak Zebedeus. Ternyata ayah mereka Zebedeus orang berada karena memiliki beberapa orang upahan atau pekerja.
Akan tetapi,mereka juga meninggalkan Zebedeus dan pergi mengikuti Yesus. Di sini kita ketahui bahwa mengikuti Yesus bukan perkara yang mudah, menyenangkan ataupun nyaman, karena dikatakan bahwa mereka senantiasa berjalan di setiap tempat, tidak berkendaraan atau mempunyai tempat tinggal.
Namun, ditinjau dari kerohanian, saat mereka mengikuti Yesus selama tiga tahun besar sekali. Kita juga menjumpai bahwa Yesus tidak memanggil orang pandai atau bermartabat lebih tinggi, supaya kelak Injil Nya menjadi masyur dan terkenal, tetapi orang-orang sederhana. Apa sebabnya? Seperti yang ditulis oleh rasul Paulus: Tidak banyak diantara mereka yang dipanggil yang bijak menurut ukurannya. Lihat 1 Korintus 1:26-28.
Kita ketahui bahwa Simon bersama teman-temannya berprofesi sebagai penjala ikan atau kita sebut sebagai nelayan. Karena pekerjaan itu, mereka sudah dilatih ketahanan dan kesabaran yang diperlukan untuk memanggil orang-orang untuk datang kepada Yesus.
Dan jika mereka bersedia mengikuti Yesus, Ia akan memberitahukan suatu misi: Kamu akan Ku jadikan penjala manusia.
Kisah ini menunjukkan bahwa, jika Kristus memanggil seseorang bukan berdasarkan apa yang ada pada orang itu, melainkan apa yang dapat Kristus lakukan dalam mereka, jika mereka bersedia mentaatiNya.
Dalam kisah ini juga, kita dapat menyoroti kesederhanaan Yesus dalam memanggil orang-orang pilihanNya. Ia hanya berkata: "Ikutlah Aku!"
Ia tidak berkata: "Ikutlah agam Musa" atau "Ikutlah agama Abraham" atau bahkan "Ikutlah agama Ku."
Yesus tidak memanggil seorang untuk mengikuti sebuah agama, atau sekumpulan kaidah, ibadah atau upacara keagamaan yang jelas bukan merupakan sumber dan penyelamat.
.
undanganNya yang sederhana itu, Ia pun juga mengundang Anda dan saya untuk datang langsung kepada diriNya, berelasi dengan pribadiNya yang merupakan sumber daya dan pelaku penyelamatan dan kepastian.
__ADS_1
...Amen....
Setelah selesai berkotbah, Romo Wens kembali ke altar melanjutkan ritual perayaan.
Kembali pada Andreas. Pria itu masih duduk termenung menatap kosong ke hadapan, mengingat kembali masa-masa sewaktu di seminari.
Seminari menengah San Dominggo Hokeng adalah lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi para calon imam yang sederajat dengan SMA. Sanalah Andreas menempuh kehidupan baru. Mendalami iman kekristenannya, dan belajar banyak perkara.
Walaupun banyak tantangan, tetapi Andreas mampu menghadapinya. Romo Wens menjadi sahabat dan senior yang baik untuknya. Selalu memberi sokongan, jika dia menghadapi kesulitan.
Setelah belajar di seminari menengah San Dominggo empat tahun, ia melanjutkan ke pendidikan rohani selama setahun, lalu ke Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, yang bertempat di Ritapiret, Maumere, kab. Sikka, NTT dalam wilayah keuskupan Maumere selama enam tahun.
Namun ,Andreas tidak melanjutkan pendidikan, karena suatu kejadian yang tidak terduga, dan karena pemikirannya yang keliru tentang hubungan antara lelaki dan perempuan. Dia berpikir bahwa menjadi imam tidak akan berdekatan dengan kaum perempuan, tetapi dia salah. Seorang Imam/Romo/Pastor/Gembala selalu bersosialisasi dan bergaul mesra dengan semua orang, tak kira orang tua, muda-mudi dan anak-anak.
*S*uatu hari kejadian yang tak terduga itu, pada saat Andreas mendapat pelatihan atau orientasi pastoral atau kerasulan, setelah menempuh studi filsafat selama empat tahun. Dia mendapat pelatihan di sebuah stasi terpencil masih dalam keuskupan Maumere, kab. Sikka.
Pada saat itu ada acara kerohanian di kampung tersebut. Andreas bersama seorang pastor senior memimpin liturgi pada acara tersebut. Saat itu Andreas dipanggil dengan nama Frater Ande. (Frater : calon Romo/Pastor). Setelah acara selesai ada seorang gadis remaja yang baru saja kehilangan saudaranya, datang mengantar hidangan bagi para tetamu, saat ia melihat Andreas, ia merasa seperti melihat saudaranya, sehingga ia berusaha untuk memeluk Andreas.
Andreas dipanggil menghadap, dan diadili. Menjadi seorang pastor, seseorang harus memiliki tiga konsep dasar yakni: Santitas, Siensia, Sanitas (3S).
Satitas adalah kesucian yang berhubungan dengan hidup religius dan hidup rohani.
Siensia merupakan intelektual atau ilmu pengetahuan.
Sanitas merupakan kesehatan jasmani baik jiwa maupun raga.
Andreas menyerahkan hasil laporan tentang kesehatannya di hadapan para pemimpin, dan didapati bahwa ia mengalami masalah kejiwaan, sehingga ia gagal dalam konsep dasar yang ketiga. Berat hati Andreas dikeluarkan dari seminari tinggi.
Walaupun pada awalnya ayah menentang keputusan Andreas masuk seminari, tetapi saat mengetahui bahwa Andreas dikeluarkan dari seminari, ayah merasa bersalah, karena dialah yang menyebabkan rumah tangganya runtuh dan meruntuhkan juga jiwa Andreas.
__ADS_1
Ayah memintanya mendaftar di Universitas Terbuka Madawat, sambil bekerja di perusahaan properti milik ayah, sehinggalah ia bertemu Rena yang menjadi wanita pertama dalam hatinya.
"Um! Um!" suara cadel milik Noel mengejutkan Andreas dari lamunan panjangnya. Noel sedang merangkak di bawah kaki jemaat yang duduk di sebelahnya. Tangan kecil Noel berusaha menggapai tubuh Andreas.
Andreas segera meraih tubuh Noel, lalu mendudukan di atas pangkuannya. Tari datang dengan tergopoh-gopoh ingin mengambil kembali Noel, tetapi Andreas menolak.
"Tidak apa, biarkan dia bersama saya," ucapnya sambil tersenyum. Tari mengangguk, lalu kembali ke tempat duduknya. Noel tidak rewel, dia duduk tenang di pangkuan Andreas.
Terlalu lama mengelamun, Andreas tidak sadar sudah hampir sampai ke penghujung acara.
Terlihat Romo Wens sedang memegang hosti (roti tak beragi) lalu berkata, "Terimalah dan makanlah, ini tubuhKu yang dikurbankan bagimu." Kemudian Romo Wens mengangkat hosti itu, semua umat memandang hosti itu dengan penuh cinta dan kasih termasuk Andreas, sambil berdoa dalam hati, 'Ya Tuhanku dan Allahku'.
Setelah itu Romo Wens memegang piala berisi anggur lalu berkata, "Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukan ini untuk mengenangkan Daku." Kemudian Romo Wens mengangkat piala itu, dan semua umat memandang piala itu dan berdoa dalam hati, 'Ya Tuhanku dan Allahku'.
Setelah itu Romo Wens mengambil hosti yang disediakan untuk umat, lalu berjalan dan berdiri di depan, tengah jalan menuju ke altar.
Satu per satu umat berdiri dan berbaris untuk mendapatkan hosti (umat Kristen menganggapnya sebagai Tubuh Kristus).
Sampailah giliran Andreas. Dia membawa serta Noel dalam gendongannya. Tepat di hadapan Romo Wens, Andreas mengulurkan tangannya, telapak tangan kanan diletakkan di atas telapak tangan kiri dengan posisi terbuka.
Romo Wens tersenyum memandang Andreas, sambil melirik sejenak ke arah Noel, membandingkan kemiripan wajah mereka. Kemudian Romo Wens mengambil sekeping hosti, meletakkannya di atas telapak tangan Andreas sambil berkata pelan, "Tubuh Kristus."
Andreas menjawab, "Amen." Lalu memasukkan hosti itu ke dalam mulutnya.
Pada Noel, Romo Wens membuat tanda salib di dahi Noel menggunakan ibu jari sambil berkata, "Tuhan Yesus memberkati."
Kemudian Andreas membawa Noel kembali ke tempat duduk mereka.
***
__ADS_1
maaf ya pada part ini saya masih membahas tentang masa lalu Andreas, karena kedepannya saya tidak bahas lagi tentang masa lalu Andreas.