
Dentingan jam dinding di ruang tamu, mengejutkan Andreas dari lamunan panjangnya. Ia bangun dari pembaringan lalu duduk di tepi ranjang memandang dalam kehampaan. Ia berdiri meraih handuk yang tergantung di belakang pintu, berjalan keluar menuju kamar mandi.
Namun, baru saja dia melangkah keluar dari kamar, langkahnya terus terhenti. Pandangan matanya terpaku pada batang tubuh yang terlentang di atas sofa.
Kaki kiri diletakkan di atas sandaran sofa, kaki kanan pula diletakkan di atas bahu sofa. Tangan kanan jatuh menyentuh lantai. Kepalanya tergantung seperti orang mau bunuh diri dengan cara gantung terbalik.
Mulut terbuka lebar membuat air liur menetes hingga ke telinga. Menjijikkan. Yang paling mengejutkan suara dengkurannya mengalahkan bunyi letupan gunung berapi.
Suara dengkurannya kadang terdengar seperti mesin rusak yang sudah sepuluh tahun tak dipakai. Tersendat-sendat. Hurrrgk heg hurrrgk heg.
Sungguh pemandangan yang dapat merusakkan kornea mata. Memalukan. Seorang wanita muda yang bahkan belum menikah, berbaring di atas sofa dengan posisi yang tidak beradab.
Apalagi di dalam rumah itu, ada dua orang pria dewasa, yang pastinya memiliki sesuatu yang orang sebut nafsu atau birahi.
Tidak takutkah dia, tiba-tiba dia diterkam, bagaikan singa kelaparan yang melihat makanan lezat di hadapan mata? Eh, Andreas merinding sendiri membayangkannya.
Ingin sekali dia menegur, tetapi, merasa tidak sopan karena dia hanya penumpang di rumah itu. Tiba-tiba Tari datang lalu menyapanya, sehingga mengejutkan dia.
"Selamat pagi, Pa Ande," sapa Tari, sambil tersenyum tayang gigi. Andreas hanya tersengih seperti kerang busuk, tak membalas sapaan Tari lalu beredar begitu saja menuju ke kamar mandi.
Tadi sewaktu pulang joging, dia tidak menyadari seseorang di ruang tamu. Mungkin karena keadaan di luar rumah masih gelap, walaupun jam sudah menunjukkan pukul 6.00 WITA, saat itu jendela rumah juga belum dibuka, sehingga ruang tamu menjadi temaram.
Tari menepuk dahinya, ia menggelengkan kepala melihat cara tidur kakaknya. Ini bukan pertama kali Mariana tidur di sofa sepulang kerja, melainkan hampir setiap hari, seolah-olah dia tidak mempunyai kamar.
Itulah sebabnya, sewaktu Andreas mengutarakan keinginannya menukar kamar dengan Mariana, dia setuju saja. Kalau mereka sendiri yang tinggal di rumah itu, dia tidak peduli, tapi sekarang ada orang lain tinggal bersama dengan mereka.
"Tata Ana, bangun!" Tari berdiri di samping sofa, membungkuk sambil menepuk dahi Mariana. Mariana hanya menggeliat, membetulkan letak kepalanya. Ia meringis merasa sakit, mungkin terseleo karena tidur dengan posisi kepala tergantung terlalu lama.
Tari menurunkan kaki Mariana dari sandaran sofa, menghempaskannya dengan kasar.
"Ma-ri-a-na, ba-ng-un ! Per-gi ti-dur di kamaaaar!," teriak Tari tepat di tepi telinganya. Namun, Mariana seolah tuli, dia hanya mengubah posisi tidurnya miring ke kiri. Tari jadi kesal sendiri. Ditariknya tangan kanan Mariana, tetapi, perempuan itu bergeming. Digoncangkannya tubuh Mariana dengan kuat, tetapi, tetap saja Mariana seperti batang kayu kering, langsung tak bergerak, walaupun dia berusaha dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Tari menunduk ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba tangan Mariana bergerak seperti sedang mengusir lalat, menghantam tepat di kepalanya.
"Ouh!" Dia menjerit. Mariana kembali mengubah posisi tidur terlentang. Tari merengus. "Kak Dan datang." Suaranya menggema memenuhi ruang tamu. Serta-merta Mariana bingkas bangun lalu duduk bersimpuh. Ia menguap lebar beberapa kali dengan mata terpejam. Tari tersenyum penuh kemenangan. Kakaknya ini, kalau tidur, liat sekali apabila disuruh bangun.
Tari menarik tangannya. Seperti kerbau dicucuk hidung, dia menurut saja. Berjalan sempoyongan dia menuju kamar, tetapi, sekali lagi Tari menarik tangannya.
"Bukan di situ, kamar sebelah!" perintah Tari. Mariana merengus, sambil berlalu ke kamar sebelah.
Tari menggelengkan kepala. 'Tampaknya rencana aku gagal, total,' bisik hatinya.
Belum apa-apa Mariana sudah mempertontonkan tabiat buruknya. Kalau begini terus, selamanya dia akan jadi andartu (anak dara tua). Mariana oiii, tunggu kau nikah dulu, jangan kau perlihatkannya sekarang. Sabar! Kalau sudah terikat, tak dapat diundur kembali. Bukankah begitu? Ha-ha-ha.
...****...
Hari ini Andreas memakai baju santai berlengan panjang berwarna abu-abu, yang digulung hingga ke siku, celana jeans coklat dan sepatu sport putih.
Hari ini dia akan bertemu dengan pihak penjual tanah, Pak Yos namanya, untuk mengurus surat pemindahan nama kepemilikan bersama suster Marta, kepala penjaga panti asuhan St.Theresia, dan Pak Piter sebagai advokad.
Rumah terlihat begitu sepi, tiada suara bising anak-anak Tari. Natan dan Fendi suami Tari sudah pergi ke sekolah. Iyalah, sudah jam 10.00 WITA. Tari pasti sibuk di belakang rumah. Mariana? Jangan ditanya. Dia pasti masih berdengkur di balik selimut.
Malam-malam keluar merayap, pulang hari sudah pagi. Orang lain bangun beraktivitas, dia masih bergulung di atas ranjang.
Kata Fendi, Mariana ada perniagaan sendiri. Toko aksesoris. Bukan aksesoris yang bermerek dan mahal seperti emas ataupun berlian, tetapi, aksesoris hasil kerajinan tangan, seperti pahatan patung dari kayu atau tanah liat, gelang tangan yang terbuat dari kulit siput, dan bermacam-macam jenis perhiasan lain.
Andreas tahu itu, karena di dalam kamar Mariana ada beberapa kotak berisi kulit siput dan helaian kain yang belum diubah bentuknya. Andreas duduk di teras rumah, di tangga kedua, menyarung kaus kaki sambil melepas pandangannya mengitari halaman rumah Mariana. Beraneka jenis bunga tumbuh dengan subur dan terlihat segar, karena baru habis di siram.
Ada yang sedang mekar, seperti bunga kertas dan bunga matahari. Haruman semerbak bunga anggrek menyapu ujung hidungnya. Pohon mangga yang ditanam di sisi kiri dan kanan rumah menjadi payung bila matahari terik pada siang hari. Ada juga pohon mete yang sedang berbunga.
Pandangan mata Andreas tertuju pada bag tinju buatan sendiri yang tergantung di sebelah kirinya dua meter dari tempat dia duduk. Andreas berdiri, berjalan mendekati bag tinju, meninjaunya perlahan.
'Hmm, padat. Pasti berisi pasir,' batinnya.
__ADS_1
Dia meninju lagi, lagi dan lagi sehingga bag tinju bergoyang. Kini dua tangan mengepal, lagaknya seperti petinju profesional mengalahkan petinju HEBI MARAPU.
"Pa Ande!" panggil Tari yang muncul dari belakang berhasil mengejutkan Andreas, sambil memegang sekeping papan . Tari ini seperti jelangkung saja, asyik muncul tiba-tiba.
"Iya," jawab Andreas, tanpa menoleh karena masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat akibat terkejut. Tari mengulum senyum, dia tahu Andreas terkejut karena suara gagaknya tadi.
"Begini, Pa, saya mau bilang ...." Dia berhenti sejenak setelah Andreas menatapnya.
"Kalau Pa pulang, rumah tidak ada orang, Pa Ande ambil kunci di sini." Dia menunjuk pot bunga Bougenville . "Bawa pot," lanjutnya lagi. Andreas mengangguk.
"Kalau di rumah ada orang, Pa Ande tidak usah ketuk pintu. Pa Ande hanya perlu tarik tali ini," dia menunjuk seutas tali tepat di atas kepala Andreas sebelah bag tinju. Tali yang ujungnya diikat patung gajah yang terbuat dari kayu jati. Saat Tari menarik tali tersebut, dentingan lonceng bergema di dalam rumah. Andreas tersenyum. Unik.
"Tapi kalau Pa Ande tarik tali yang ini ...." Dia menunjuk seutas tali yang ujungnya diikat lempengan batu bertuliskan 'BAHAYA' dengan huruf yang sangat kecil.
"Kami akan anggap Pa Ande pencuri." Tari tersenyum, menyuruh Andreas berdiri di atas tangga. Ia lalu menarik tali tersebut. Tepat di bawah kaki pijakan Tari, tiba-tiba dari dalam tanah muncul dua besi bulat seperti borgol mencengkram kaki Tari.
Pada saat itu bag tinju bergerak sendiri menghantam sesiapa yang berada di dekatnya. Lalu muncul pula anak panah yang tak bermata alias tumpul dari celah dinding rumah menghujani tubuh Tari. Untung saja Tari sudah bersedia. Dia menunduk setelah menarik tali tadi, dan menggunakan papan menjadi tameng. Andreas tersenyum kecut.
PERANGKAP, batinnya
"Rumah kami pernah dimasuk pencuri, jadi kak Ana pasang perangkap. Bukan cuma satu, tapi sekeliling rumah." Tari berdiri setelah hujanan anak panah berhenti, sambil menghindari bag tinju yang masih bergoyang. Lalu menarik tali tersebut mematikan perangkap yang dia aktifkan.
"Kalau lihat perangkap ini, saya jadi teringin makan daging babi hutan." Tari mulai bercerita.
"Dulu kecil, kami selalu makan daging babi panggang hasil tangkapan kak Ana. Rame-rame mo orang kampung." Andreas hanya mengangguk, tidak berniat membalas ucapan Tari. Perasaannya juga semakin tidak tentram, terlalu lama berhadapan dengan Tari.
"Ah, tidak perlu bahas," ucap Tari setelah melihat tiada respon dari Andreas.
"Pa Ande mau keluar kan? Ingat! Kunci saya simpan di sini," pesan Tari sebelum beredar dari situ meninggalkan Andreas keseorangan.
'Aneh-aneh ni keluarga,' batin Andreas.
__ADS_1