
Di mana ada gula, di situ ada semut. Di mana ada tempat yang mudah mendatangkan faedah, di situlah manusia berkumpul.
Seperti di Pasar Alok, Kabupaten Sikka, Maumere, Provinsi NTT yang menjadi pusat perdagangan terbesar. Pasar tradisional tersebut, sehari pun tak pernah sepi pengunjung. Dentuman musik yang diputar oleh sang sopir angkutan dan hiruk-pikuk manusia yang berpusu-pusu, bukan penghalang untuk mereka mencari rezeki. Banyak orang tua yang sibuk berbelanja keperluan anak sekolah mereka dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan seorang gadis yang sibuk memilih barang keperluan rumah. Pasar Alok menyediakan berbagai jenis bahan pokok dan produk lainnya sehingga apa yang diinginkan bisa dijumpai di sana. Seperti kain tenun dan berbagai jenis obat tradisional dengan harga terjangkau, lebih murah daripada di Larantuka.
Dalam tangannya sudah penuh dengan belanjaan yang disimpan di dalam kantong plastik. Sambil menjinjing barang belanjaan, ponsel Redmi 9T dibekapkan ke telinga.
["Mama dan nenek saja yang akan ke sana,"] katanya, sambil menggigit roti yang ia beli di salah satu toko roti tadi. Berjalan miring di antara kerumunan manusia agar dirinya tidak menabrak orang lain.
["Tata juga datanglah!"] pohon Agus dari seberang.
Kemarin mama telepon, katanya Agus akan wisuda beberapa minggu lagi.
["Nanti Tata tanya abang ipar kamu dulu. Kalau dia kasih izin, Tata ikut mama dan nenek."]
["Aku harap Tata datang. Kalau bisa ajak abang ipar sekali."]
["Iya, kalau dia mau ikut."] Terdengar lirih saja suaranya. Tiba-tiba bergenang air mata, sebak, tetapi tak juga tumpah, bila mengenang adiknya yang seorang itu. Pertengkaran mereka waktu itu telah menyadarkan Agus, mengubahnya menjadi lebih dewasa. Ternyata ada hikmah di balik semuanya.
Saat sedang keasyikan menelepon, Mariana tak menyadari seseorang berjalan tergesa-gesa dari arah depan.
Bugkh! Prak!
Tubuh mereka bertabrakan. Sepapan telur ayam jatuh tepat di bawah kaki Mariana. Gadis itu terkejut, begitu juga dengan orang yang menabraknya.
"Maaf, Tanta!"
Rasa bersalah menjenguk perasaannya saat melihat tak sebutir pun telur yang selamat ketika jatuh tadi. Barang belanjaannya langsung diletakkan dengan kasar di atas lantai aspal. Lantas tangannya pantas memungut semua barang milik wanita yang duduk bercangkung di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf, Tanta!" Suaranya hampir tak terdengar. Kepalanya pun tak berani diangkat, walaupun sekadar untuk melihat wajah wanita di hadapannya. Ia mengutuk diri sendiri karena terlalu cuai. "Ai, bodohnya aku. Keasyikan telepon sampai tak melihat kiri kanan," katanya, sambil memukul kepala.
Wanita itu tersenyum. Sambil mengelus puncak kepala Mariana, ia berkata, "Tak apa, Nak. Lain kali hati-hati!"
Mutiara jernih yang sejak tadi bertakung di pelupuk mata, berderai jua bila mendengar suara lembut sang pemilik telur.
"Maaf, Tanta!" pohonnya berulang-ulang kali. "Ini sudah rusak semua. Saya ganti, ya?"
Wanita itu menggeleng. "Tidak perlu!" Mariana membantunya memasukan semua telur yang rusak ke dalam kantong plastik.
"Walaupun ini sudah tidak bisa dimakan, tapi, masih berguna untuk babi di rumah." Tanta itu tersenyum. Lalu mengajak Mariana duduk di atas batu ceper yang berhampiran dengan mereka. Mariana mendongakkan kepala. Tersentak jantungnya saat mereka berpandangan mata.
Otaknya ligat berpikir. Mencari jawaban di mana ia bertemu wanita itu. Ia yakin benar, bahwa mereka pernah bertemu, tetapi di mana, ia tak tahu. Namun, suara dan tatapan mata wanita itu seolah tak asing di pandangannya.
'Wajahnya mirip seseorang,' batin Mariana.
"Mariana."
"Cantik nama kamu, seperti orangnya." Mariana tersipu malu.
"Tanta juga cantik," puji Mariana. Tulus.
"Tanta sudah tua. Tidak cantik lagi."
Mariana menggeleng. "Itu tidak benar," sangkalnya.
"Eh, Tanta belum perkenalkan diri, ya?" Mariana mengangguk. Mereka tertawa.
"Nama Tanta, Mei." Tanta Mei memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Tanta tinggal di mana?"
"Tidak jauh dari sini. Ayo, pulang!" ajak Tanta Mei.
Mariana menurut. Mariana membantu Tanta Mei membawa sedikit barangnya. Mereka menerobos kerumunan orang di sekitar, menuju jalan raya.
"Naik angkot?" tanya Mariana ketika mereka sampai di jalan raya.
"Kita jalan kaki saja. Rumah Tanta dekat sini."
Sambil berjalan, mereka berbual kosong. Mariana bercerita tentang dirinya yang dulu bekerja di kelab malam, juga tentang dirinya yang baru menikah dua bulan lalu. Tentang keluarga juga tak lupa ia ceritakan. Tanta Mei juga bercerita tentang dirinya yang sudah berpisah dengan suami dan anak berpuluh tahun yang lalu. Mereka langsung akrab, walaupun tak sampai setengah jam mereka berkenalan.
"Ini rumah Tanta." Ternyata langkah kaki mereka sudah sampai di destinasi yang tuju. Sebuah rumah sederhana setengah tembok, setengah papan. Sama seperti rumah Mariana di Larantuka.
Tanta Mei mengambil kunci dari dalam tas yang disandangkan di bahu lalu membuka pintu rumahnya. "Mari masuk!" ajak Tanta Mei.
Walaupun rumah Tanta Mei terlihat sederhana, tetapi, susunan perabot di dalam rumah tertata rapi. Terlihat sangat bersih dan kemas.
"Barang kamu simpan saja di kursi itu."
"Iya, Tanta," jawab Mariana.
"Mau minum apa?"
"Tak perlu susah-susah, Tanta. Air putih pun tidak apa."
Tanta Mei menatap Mariana lamat-lamat, sambil tersenyum. "Mau temankan Tanta makan?"
Melihat kesungguhan wanita paruh baya itu, Marian tersentuh. Ia pun mengangguk setuju. Tanta Meri tersenyum. Gembira sungguh hatinya. Sudah lama ia tak merasakan kebahagiaan seperti ini. Siang itu, di rumah yang terlihat sederhana terdengar gelak-tawa dua wanita yang sudah seperti ibu dan anak. Terpancar kebahagiaan yang menyelimuti hati, yang telah lama dilanda kegersangan.
__ADS_1