My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXVII


__ADS_3

Pukul 18.00 WITA rombongan Opu, Blake, saudara sepupu kumpo kao dari keluarga Mariana sudah berkumpul di rumah Om Mias, siap sedia untuk ke rumah pesta.


"Sudah siap, belum?" tanya Om Mias pada rombongannya.


"Sudah," jawab mereka.


"Sudah, No (panggilan untuk lelaki). Mari, kita berangkat sekarang!"


Wajah berseri-seri disertai senyuman yang tak lekang dari bibir, rombongan itu mulai bergerak. Para wanita menjunjung dulang yang berisi beras, bungkusan kopi, gula dan sebagainya.


Para lelaki memikul karung beras, gula, kopi. Beberapa pemuda bersama-sama memikul seekor babi. Kambing juga dituntut bersama. Arak, tuak, rokok, sirih dan pinang juga tidak dilupakan. Barang-barang seperti ini merupakan sumbangan dari ahli keluarga untuk tuan pesta. Ini sudah menjadi tradisi Lamaholot.


Nenek, mama, anggota keluarga lain, dan tetangga sudah siap menunggu kedatangan mereka. Minuman berupa kopi dan teh sudah siap dibancuh. Kue-kue juga sudah siap disusun dalam piring. Supaya saat para keluarga kumpo kao ini datang, tidak kelam-kabut menyediakan hidangan.


"Sudah siap, belum?" Tanta Tin saudara jauh Mariana sekaligus tetangga mereka bertanya. Dia memang ditugaskan untuk mengurus keperluan dapur. Salah satu orang yang dipercayakan mama untuk mempersiapkan pesta pernikahan Mariana.


Anak-anak gadis yang bertugas menjadi pelayan serentak menjawab, "Sudah, Tanta."


"Lim menit lagi rombongan sampai. Jangan lupa sirih pinang juga harus sediakan sekarang! Pinang sudah potong kecil, belum?" tanyanya pada Nenek Letek yang bertugas menyediakan sirih pinang.


"Sudah."


Seperti yang dikatakan Tanta Tin, rombongan opu, blake keluarga kumpo kao sudah sampai di tenda. Terdengar musik mulai diputarkan oleh DJ. Lagu-lagu daerah Lamaholot menjadi pilihan.


Para rombongan diarahkan memasuki rumah, duduk di ruang tamu. Kursi meja sudah disusun atur mengikuti jumlah anggota. Barang sumbangan tadi sudah diserahkan kepada tuan pesta. Abang Budi dan Fendi yang bertugas menyimpan barangan tersebut. Tak lama kemudian, beberapa gadis kampung menghidangkan beberapa piring kecil yang berisikan sirih, pinang, dan kapur. Para orang tua lelaki maupun perempuan yang biasa mengunyah sirih bergilir menikmati sirih pinang sambil berbual ringan.


Setelah itu, minuman kopi, teh, kue-kue mulai dihidangkan. Nenek Barek dan mama duduk bergabung bersama mereka. Mariana juga turut hadir. Dalam balutan sarung kewatek dan kaus biasa, duduk manis di sana.

__ADS_1


Pukul 19.30 WITA keluarga besar Mariana siap sedia menyambut kedatangan pihak pengantin lelaki. Acara ini disebut Sirih Pinang yaitu pihak lelaki mengantarkan belis perkawinan yang sudah disepakati bersama. Inilah puncak acara dalam tradisi perkawinan Lamaholot.


Telepon Om Mias berdering. Setelah menjawab panggilan, dia mendapat tahu kalau rombongan pengantin lelaki sudah bertolak dari Larantuka. Rombongan keluarga Mariana sudah pun menunggu di bawah tenda, menyambut kedatangan pihak lelaki.


Om Alo dan rombongannya turun dari angkutan kota yang mereka sewa berjarak sepuluh meter dari rumah pesta. Para wanita bersama beberapa orang pemuda dari keluarga Mariana bergerak mendekati rombongan Andreas. Ketukan gendang dan petikan gitar mulai terdengar berirama mendendangkan lagu daerah 'Lui E' dan lagu daerah lainnya. Pada saat itu para wanita dari keluarga Mariana mulai menari mengiringi mereka menuju ke rumah pesta.


Rombongan Andreas membawa serta binatang yang akan disembelih yang sudah disepakati bersama. Babi dan kambing, pakaian pengantin wanita, kopi, beras, gula, kayu bakar, rokok, arak, tuak, perkakas dapur untuk memasak, dan yang paling utama adalah gading yang menjadi belis utama. Om Alo yang memikul gading tersebut.


Sebelum rombongan Andreas diajak memasuki rumah, Om Mias sudah menunggu kedatangan mereka di bawah tenda. Lelaki paruh baya tersebut mewakili keluarga perempuan menyambut Om Sipri yang menjadi wakil keluarga Andreas.


Om Sipri menuangkan segelas arak lalu memberikannya kepada Om Mias. Setelah meneguk arak tersebut, pihak lelaki menyerahkan belis yang sudah disepakati. Barang antaran berpindah tangan. Beberapa pemuda mulai mengangkat antaran tersebut. Binatang, perkakas dapur dan kayu api dibawa ke belakang dapur, karena di situlah tempat memasak.


Keluarga pihak wanita juga membalas dengan memberikan beberapa helai sarung adat Lamaholot berupa kewatek dan nowing yang sudah disepakati bersama oleh pihak perempuan sebagai cenderamata. Kemudian, rombongan Andreas diajak memasuki rumah. Minuman dan sirih pinang pun dihidangkan. Setelah itu pukul 20.15 WITA acara dilanjutkan dengan santapan makan malam.


Selama proses serah terima belis, sesekali Andreas melirik Mariana. Entah mengapa, jantungnya berdebar tak menentu.


Saat santapan makan malam, Andreas menarik tangan Mariana duduk bersamanya di bawah tenda. Mereka makan di sana. Lagu-lagu yang diputarkan oleh DJ dari delapan buah audio speaker milik Abang Budi menggetarkan tanah yang mereka pijak. Pesta belum mulai, tetapi para ibu-ibu sudah mulai menari lagu 'Dolo-dolo'.


"Ada apa, Tuan Perjaka?" Seketul daging ayam disumbatkan ke mulut. "Kau muram saja. Ada yang mengganggu pikiran kau?" tanya Mariana.


Andreas diam. Dia tak tahu hendak berkata apa. Nasi di piring hanya dikais. Sesendok pun belum disuapkan ke mulutnya. Mindanya asyik berkelana, banyak perkara yang dia renungkan. Semua kejadian hari ini direkam dalam mindanya. Dia dilema. Jalan mana yang harus dia pilih. Kesepakatan mereka tentang pernikahan olok-olok perlu dipertimbangkan kembali.


Hendak mengatakan pada Mariana, dia kurang percaya pada gadis itu. Mariana panjang akal, tetapi kadang licik. Bisa memutarbalikkan fakta, sehingga menyudutkannya. Itu yang dia kenal sosok seorang Mariana selama mereka tinggal sebumbung.


Pernikahannya dengan Mariana menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga. Apalagi melibatkan banyak orang. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana ayah berusaha mencari gading untuk belis Mariana. Belum lagi binatang yang harganya juga berjuta, beras, kopi, gula dan keperluan lainnya. Semua itu bukan sedikit usaha yang mereka keluarkan. Uang bukan masalah utama. Namun, keterlibatan ramai orang membuatnya dilema. Dia takut keputusannya menyakiti hati banyak orang.


Sewaktu dia dan Rena dulu, tidak banyak yang dia keluarkan. Gadis itu hidup sebatang kara. Ibunya sudah meninggal, sedangkan sosok ayah dia tak mengenalinya. Kata Rena, dia memiliki sahabat yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Namun, belum sempat dia berkenalan dengan sahabatnya, gadis itu menghilangkan diri sebulan sebelum pernikahan mereka.

__ADS_1


Rena lebih tertutup. Tak banyak yang dia tahu tentang gadis itu. Waktu rencana pernikahan mereka pun, Rena hanya menginginkan pernikahan sederhana, cukup mengundang ahli keluarga dan sahabat kenalan terdekat. Itulah sebabnya, rencana pernikahannya dengan Rena tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga.


Dia melirik sekilas Mariana yang duduk di sebelahnya. Gadis itu makan begitu lahap. Makanan di piring hampir licin, menyisakan tulang-tulang daging ayam. Besok mereka akan diresmikan di gereja di hadapan Tuhan dan jemaat, mereka dipersatukan dalam sakramen perkawinan.


Jantungnya berdebar lebih laju bila memikirkan kalau dia akan resmi menjadi seorang suami. Pernikahan adalah sakral. Bukan hanya Kristen, semua agama mengajarkan demikian. Lalu, apakah dia akan meneruskan rencana pernikahan olok-olok itu? Pada saat dia sedang bergelut dengan pikirannya, Mikael datang membuyarkan lamunannya.


"Kakak Ipar!" Mikel berdiri di hadapan mereka, sambil memegang sebuah kursi dan sepiring nasi serta lauknya.


Sama-sama mereka mendongakkan kepala. "Hai, Adik Ipar!"


Mikel meletakkan kursi tersebut di sebelah Mariana. "Kakak Ipar berdiri dulu."


Mariana menurut. Mikel langsung melabuhkan tubuhnya di sebelah Andreas. Mariana berdiri melongo. Mikel pula tersengih seperti kerang busuk.


"Aku hanya menggantikan tugas setan sebagai orang ketiga," katanya.


Mariana dan Andreas hanya menggelengkan kepala. "Memangnya apa yang sedang kami buat?" tanya Andreas. Mikel tak menjawab. Dia hanya mengedikan bahu.


Mariana menoleh menatap Andreas. "Kenapa tidak makan?"


"Aku tidak lapar," jawab Andreas.


"Kalau begitu kau ambil punyaku," katanya sambil menaik-turunkan alis mata. "Beberapa hari ni aku tak ada selera, tapi bila lihat muka kau perut aku tak tahu rasanya kenyang," lanjutnya.


Makanan dalam mulut Mikel tersembur mengenai Mariana. Dia kemudian tertawa dengan mulut penuh nasi, membuatnya hampir tersedak makanan.


"Ai, tak senonoh sekali kau ini." Andreas berdiri menukarkannya dengan piring Mariana, kemudian berlalu dari situ.

__ADS_1


__ADS_2