My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XXXII


__ADS_3

Malam pun tiba. Andreas memasuki kamarnya setelah makan malam bersama keluarga Tari. Tari memasak khusus untuknya bubur ayam. Sedap.


Tari memang perhatian. Berbeda dengan yang seorang itu. Seboleh mungkin, dia tidak ingin bertemu dengan Mariana.


Setelah menelan obat yang dia beli di apotik tadi, Andreas duduk bersandar di kepala ranjang. Dengan sebuah buku di tangan, berjudul 'Quiet Strength by Tony Dungy'


Tony Dungy adalah seorang Afro Amerika pertama yang melatih tim pemenang Super Bowl ketika ia memimpin Indianapolis Colts menuju kemenangan di tahun 2007.


Ia juga dikenal sebagai salah satu pelatih paling dihormati dan juga populer di liga NFL. Rekan-rekan dan teman-temannya mengenal ia sebagai pria yang mencintai keluarganya dan juga memiliki iman karakter Kristian yang luar biasa.


Quiet Strength memberikan pandangan akan pengalaman-pengalaman personal Dungy, kisah tragedy dan kemenangannya, yang sebenarnya telah bekerjasama untuk menolong ia mencapai kesuksesan dalam hidupnya.


Kunci akan gaya kepemimpinannya, prioritas-prioritasnya, prinsip-prinsip dan hal-hal praktis semuanya dituangkan dalam buku memoir akan pria yang memiliki iman yang tak tergoyahkan ini.


Baru beberapa halaman dibaca, rasa kantuk datang menyerang, akibat efek samping obat yang dia telan.


Namun, saat tengah malam ia tersadar. Lehernya terasa terseleo. Tekaknya pun terasa kering. Tangan diulurkan meraih gelas yang diletakan di atas meja. Kosong.


Dengan perlahan, dia berinsut turun dari ranjang. Kaki panjangnya melangkah ke ruang makan.


Saat berada di dekat ruangan tersebut, terdengar kasak-kusuk dari arah ruang makan. Andreas mengintip, terlihat seseorang sedang membuka kulkas.


Ruangan tersebut remang-remang saja, hanya sedikit cahaya lampu neon yang berasal dari luar, menerobos masuk melalui ventilasi rumah.

__ADS_1


Punggung ditegak, berjalan masuk dengan mata terpejam. Seperti orang tidur sambil berjalan.


Mariana berdiri menghadap kulkas sambil mengunyah sosis, terkejut melihat bayangan seseorang.


Segera ia membalikkan badannya. Ingin berteriak, tetapi diurungkan niatnya saat melihat Andreas yang masuk ke ruangan tersebut.


'Dia tidur sambil berjalan?' Seketika senyuman jahatnya terbit di bibir. 'Peluang baik selalu datang padaku. Ha-ha-ha!' Ia tertawa tanpa suara.


Andreas meraih kursi, lalu duduk di sana. Tudung saji dibuka, dua keping roti yang di atas meja, diambilnya. Tangannya bergerak-gerak seolah sedang menyapu mentega.


Mariana yang sedang memperhatikannya tersenyum jahil. Matanya liar mencari sesuatu. Saus cili manjadi pilihan. Tangannya pantas menyambar botol tersebut. Segera penutup dibuka lalu dituangkannya pada permukaan roti tersebut.


Andreas mengambil roti menyatukan keduanya, lalu membuka mulutnya. Saat hendak menyentuh bibir, roti itu diletakkan kembali. Mariana menggeleng kecewa. Gagal.


Mariana kembali melakukan aksinya. Kali ini saus kecap menjadi pilihan. Dituangkannya kecap tersebut ke dalam gelas Andreas.


Lelaki itu meminumnya. Mariana tertawa suka dengan suara perlahan, takut membangunkan orang lain.


"Ha-ha-ha!"


Tiba-tiba ....


Byur!

__ADS_1


Air tersembur dari mulut Andreas mengenai muka Mariana.


Matanya terasa pedih. Mariana naik berang. Tangannya meraih sendok penggorengan. Pada saat itu, kilat menyambar dari langit bertanda hujan akan turun.


Sedangkan Andreas berlalu keluar setelah menyembur air ke muka Mariana. Gadis itu mengekor dari belakang, dengan wajah masam mencuka.


Dengan sekuat tenaga Mariana mengayunkan tangan hendak memukul kepala Andreas.


Andreas memutar tubuh 180⁰ sambil bertanya dengan suara keras, "Kribooo, apa kau buat?"


Suara keras Andreas bersamaan dengan petir menyambar mengejutkan Mariana.


"Aa!" Gadis itu terjungkal ke belakang, hingga pantatnya menampar lantai dengan keras.


"Adoee!" rintihnya kesakitan.


"Ha-ha-ha!" Giliran Andreas yang terbahak.


**


NB :


ungkapan Naik berang artinya sangat marah, murka.

__ADS_1


__ADS_2