My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXIX


__ADS_3

"Kenapa terlambat?" tanya Andreas sambil mendekatkan kepalanya, berbisik di tepi telinga Mariana.


"Aku bangun kesiangan. Itu tidak apa." Mariana juga berbisik. "Tapi kau tahu apa yang terjadi?"


Andreas menggeleng. "Apa?"


"Mereka mau antar aku ke pekuburan." Andreas tersedak ludahnya sendiri.


"Sepupu aku, si Tia, di pakaikan aku bedak setebal sepuluh senti, alis mata dia kasih warna hitam pekat-pekat. Lipstik dia oles tebal-tebal sampai bibir aku tak bisa katup, asyik tergantung seperti ini." Mariana memuncungkan bibirnya.


Andreas menahan tawa takut suaranya terkeluar hingga matanya berair.


"Aku terkejut lihat muka aku tadi di cermin. Untung aku tak pakai gaun pengantin warna putih. Kalau tidak, kau nikahlah dengan hantu Mariana."


Andreas tak dapat menahan tawanya lagi. Ia terbatuk-batuk. Wajahnya memerah. Tersiksa sungguh. Mama dan Om Alo yang duduk di belakang bangku mereka terkejut melihat Andreas terbatuk-batuk. Ben serta-merta menyodorkan sebotol minuman Aqua yang di bawanya dari rumah mama.


Mariana menepuk belakang Andreas, lalu mengurut tengkuk lelaki itu. Andreas merasa lebih lega setelah air putih mengalir membasahi tekaknya.


"Kau tidak apa-apa?" Andreas mengangguk. "Maaf," bisik Mariana.

__ADS_1


"Apa yang kalian berdua buat?" tanya mama.


Mariana memusingkan sedikit kepalanya ke belakang lalu berkata, "Kami sedang merancang proses pembuatan cucu untuk Mama."


"Aduh!" rintihannya tertahan saat mama mencubit lengannya dari belakang. Om Alo menahan tawa melihat keusilan Mariana. Dia bersyukur mendapat menantu seperti yang diinginkannya. Hatinya pun yakin bahwa Marianalah yang menjadi penawar untuk Andreas.


Mariana kembali memandang ke depan saat namanya dan Andreas disebut dalam doa yang diucapkan oleh Romo Wens. Setelah itu, mereka maju bersama, berlutut dengan hormat di depan altar, lalu menuju ke mimbar. Andreas membawakan bacaan pertama dan kedua. Bacaan pertama dari Kitab Perjanjian Lama dan baca kedua dari Kitab Perjanjian Baru, sedangkan Mariana menyanyikan lagu mazmur tanggapan dan aleluya.


Setelah Andreas membacakan kitab perjanjian lama, Mariana maju ke depan menyanyikan lagu mazmur tanggapan. Rasa berdebar saat memandang jemaat dari atas mimbar. Dalam hatinya dia berdoa memohon ketenangan hati karena menyanyikan lagu di gereja berbeda saat dia menyanyikan lagu dangdut di kelab malam. Perlahan suara merdunya mulai mengema dalam geraja. Kemudian diikuti oleh jemaat.


🎶Tuhan memberkati umatNya, dengan damai sejahtera.🎶


Tibalah saatnya kedua mempelai berikrar di hadapan Tuhan, imam, orang tua dan saksi.


Mereka berdiri berhadapan, sambil berpegangan tangan.


"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, saya Andreas Suban Krowe, dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu, Maria Mariana Koten menjadi isteri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya."


Begitu pun sebaliknya, Mariana mengikrarkan janji. Pada saat itu si Pelontos Tomas dan Us tak mau ketinggalan mengabadikan momen yang paling sakral tersebut.

__ADS_1


Kemudian Romo Wens berkata, "Atas nama gereja Allah, di hadapan para saksi dan umat Allah yang hadir di sini, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan Katolik yang sah. Semoga bagi kalian berdua sakramen ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan. Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia!"


Semua umat menjawab, "Amen."


Setelah itu pemberkatan cincin. Masing-masing menyarungkan cincin pada jari pasangannya.


Romo Wens berkata lagi, "Semoga ikatan cinta kasih kalian berdua yang diresmikan dalam perayaan ini menjadi sumber kebahagiaan sejati!"


Inilah saat yang paling dinantikan oleh Mariana. Dia tersenyum sumbing menatap suaminya. Perasaan Andreas jadi tak tenang. Dia mencium bau tak sedap, saat melihat muka mesum Mariana yang tersenyum sumbing. Kakinya mundur selangkah ketika gadis itu mendekatinya. Romo Wens dan kedua orang saksi mengulum senyum melihat tingkah mereka.


Muka Andreas berkerut. Menaik-turunkan alis untuk mengancam Mariana mendekat, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan mengharapkan keajaiban berlaku. Mulut Mariana komat-kamit seolah sedang membaca mantra, tetapi sebenarnya dia menyuruh Andreas untuk jangan lagi mundur tanpa suara.


Namun, lelaki itu tidak peka. Saat dia mundur selangkah lagi, hampir saja menabrak tubuh saksinya. Mariana sontak menarik lengan Andreas. Tubuh lelaki itu terhuyung ke depan. Mariana dengan gesit menangkap tubuh tersebut, memiringkannya ke samping kanan. Lengan dan lutut kanan menyanggah kepala Andreas agar mereka tidak terjatuh ke lantai. Sekelip mata bibir mereka bertemu.


Mata Andreas membulat. Wajahnya merah padam menahan malu. Seketika, suara gemuruh jemaat bergema dalam gereja. Ada yang bersiul, ada yang berteriak-teriak menyanyikan yel-yel meneriaki nama Mariana. Ada pula yang tertawa, mengusik pasangan pengantin tersebut. Momen itu tak luput dari rekaman kamera si Pelontos Tomas dan Us. Namun, apa yang mereka tidak tahu, Mariana menyelipkan tiga jari di antara bibirnya dan Andreas.


Pada saat Mariana diselimuti kebahagiaan, di antara bangku-bangku jemaat, sepasang mata menatapnya dengan sendu. Perasaan tak rela masih menguasai hatinya. Gerhana luka kini bermukim dalam jiwa. Bunga-bunga cinta yang bermekaran kini layu di pusara, meninggalkan memori indah dalam kesepian.


'Selamat berbahagia, Ana! Kini, usai sudah cerita kita. Namun, izinkan namamu tetap terukir di hati ini karena sampai bila pun takkan ada yang bisa menggantikanmu. Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Selamat tinggal, Ana! Selamat tinggal kekasihku!'

__ADS_1


Puncak tertinggi ketika mencintai seseorang ialah merelakannya bahagia.


__ADS_2