My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLI


__ADS_3

"Tata, bangun minum teh halia ni dulu. Sementara masih hangat, tak enak kalau sudah dingin." Tari menggoyang tubuh Mariana yang terbaring di sofa.


Mariana menggeliat, bangun lalu duduk bersimpuh. Gelas yang berisi teh halia berpindah tangan. Meneguknya perlahan, menyesap rasa pedas manis, karena Tari mencampurkan dengan madu lebah hutan.


Ia menyerahkan kembali gelas kosong pada Tari, lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa.


"Masih mual, dan pusing-pusing?" tanya Tari.


Mariana mengangguk. Penyakit sama yang ia derita setiap bulan, apabila tamu bulanan yang tak diundang datang berkunjung.


Perut kembung, pusing dan mual, dan satu-satunya obat yang paling mujarab adalah teh halia campur madu lebah untuk penambah rasa manis.


"Pergi tidur di kamar, Tata!"


"Sudah tak kuat untuk jalan, ingin digendong."


"Sebentar, aku panggil pa Ande minta tolong. Dia ada di kamarnya." Tari beranjak meninggalkan Mariana.


Mariana terpekik kaget, "Ali, jangan sembarangan." Dia menarik ujung baju Tari.


Langkah Tari terus terhenti. "He-he-he!" Ia terkekeh geli melihat tingkah kakaknya.


"Sepuluh menit, setelah merasa lebih baik aku pindah ke kamar." Tatapan matanya sayu memandang Tari.


"Natan!" panggil Tari.

__ADS_1


Natan yang sedang asyik bermain patung Mobile Legends bersama Noel menghentikan kegiatannya


"Iya," jawabnya.


"Urut kepala Mama Besar!" perintahnya, kemudian berlalu ke dapur.


Natan menurut. Dia memanjat sofa lalu duduk di atas lengan sofa. Tangan kecilnya mengurut perlahan kepala Mariana.


Mariana merasa keenakan, apabila pelipisnya dipijit lembut oleh tangan kecil Natan.


"Mama Besar sakit ya?" tanya Natan.


"Hmmm," Mariana menjawab dengan gumaman


"Natan anak baik, nanti Mama Besar buat mainan yang baru ya?" Natan mengangguk. Suka, dengan semangat 4, 5 ia mengurut kepala Mariana.


Tangan panjang Mariana menggendong tubuh Noel, lalu mendudukan ia di atas perutnya. Tangisan Noel terhenti, ia tertawa riang.


Tak berapa lama, Mariana pun tertidur pulas. Noel masih lagi duduk bermain di atas perut Mariana, bermain-main dengan kalung yang tergantung di leher Mariana.


Setelah Mariana tertidur, Natan berhenti dari pijatannya. Ia kembali bermain patung Mobile Legends miliknya.


Tari datang ke ruang tamu, setelah membereskan pekerjaannya di dapur. Dilihatnya Noel yang duduk di atas perut Mariana, ia menggendong Noel turun dari perut Mariana tetapi anak kecil itu kembali menangis.


Ekor mata Tari melihat cincin yang yang digantung bersama liontin hadiah dari Daniel. Ia mengamati cincin itu sejenak.

__ADS_1


'Sampai kapan kau terus menunggu, Tata?' batinnya bertanya. Sayu hatinya melihat sang kakak.


'Terlalu banyak penderitaan yang kau tanggung, Tata. Bila bahagia itu tiba nanti, genggamlah sekuat mungkin! Jangan sekali-kali kau lepaskan dia!' Tari mengusap lembut kepala Mariana.


Ia membawa Noel bermain bersama Natan, kemudian berlalu ke kamar. Tak berselang lama, ia datang lagi membawa sehelai selimut dan sebotol obat urut Balsem.


Dicoleknya sedikit obat balsem tersebut, lalu dioleskan pada permukaan perut Mariana. Sambil mengoles dia mengurut perut Mariana. Setelah siap ia menyelimuti tubuh kakaknya.


"Natan, jaga Noel," pesannya. Kemudian ia kembali ke belakang, hendak mencuci pakaian yang sudah direndam dengan air dan sabun pencuci.


"Iya," jawab Natan singkat.


Si kecil Noel kembali merangkak mendekati Mariana. Disingkapnya selimut Mariana, dia masih belum puas bermain-main dengan cincin milik Mama Besarnya itu.


Sesekali ia memasukkan cincin tersebut di celah-celah jari kecilnya. Ia terkekeh sambil melonjak-lonjak kegirangan. Noel sedang berusaha memanjat sofa, untuk kembali duduk di atas perut Mariana, saat Andreas baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Pria itu melihat Noel yang kesusahan memanjat, sambil melihatnya dengan wajah polosnya yang hampir menangis.


Melihat itu, Andreas mendekati Noel lalu mengangkatnya duduk di atas perut Mariana. Sedangkan Mariana, gadis itu terlelap tanpa menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.


Setelah mendudukkan Noel, mata Andreas terpaku pada sebentuk cincin yang digantung pada rantai leher Mariana.


Ia kenal betul cincin tersebut. Diraih lalu ditelisik bagian dalam cincin tersebut ingin memastikan kebenarannya. Sah. Cincin yang sama serupa dengan miliknya.


Cincin emas putih polos, bagian dalamnya tertulis huruf berinisial A M. Tangan Andreas bergetar, mimik wajahnya berubah drastis. Napasnya memburu, dadanya berombak ganas.

__ADS_1


Perasaan Andreas berkecamuk, 'Kribo ... jadi kau orangnya?'


__ADS_2