
Banyak yang mereka bualkan. Pembicaraan antara wanita dari hati ke hati. Nenek Esi menjelaskan duduk perkara sebenarnya yang Tanta Mery tidak tahu, tentang kesalahpahaman antara anak dan sang menantu, tentang Andreas yang mengalami trauma akibat perpisahan kedua orang tuanya dan masih banyak lagi.
Nenek Esi juga mengajak Tanta Mery pulang ke rumah, bersatu kembali dengan keluarga yang dia tinggalkan karena secara hukum maupun agama, wanita itu masih menantunya. Namun, Tanta Mery menolak untuk pulang. Dia belum bersedia bertemu dengan suaminya, Om Alo. Rasa bersalah pada Andreas juga membuat dia takut bertemu dengan anak itu.
Setelah hampir dua jam berbual, melepas rindu bersama sang menantu, Nenek Esi pamit pulang. Tanta Mery mengantarnya sampai ke pintu. Sebelum beredar, mereka berpelukan, saling cipika-cipiki sebentar di depan pintu.
"Jangan pikir terlalu lama! Kami semua sudah lama tunggu kamu pulang." Nenek Esi memegang erat tangan sang menantu.
"Ande dan Mikel perlukan perhatian dan kasih sayang dari kamu. Mereka sudah terlalu lama kehilangan rasa itu."
Tanta Mery mengangguk. Terbayang di tubir matanya wajah kedua anak itu. Dia tak bencikan Mikel, hanya saja apabila melihat wajahnya, rasa sakit akan dikhianati oleh suami kembali bernanah. Namun, semua itu ternyata hanya kesalahpahaman. Dia tak mendengarkan penjelasan dari suaminya dahulu karena telanjur sakit hati.
Kini dia merasa bersalah kepada mereka. Karena kesalahan orang dewasa, perasaan anak-anak turut terluka. Dia juga sudah mulai menerima kehadiran Mikel sebagai anaknya.
"Kalau hati kamu sudah siap, cepatlah kembali! Pintu rumah ibu selalu terbuka untukmu," pesan Nenek Esi sambil tersenyum.
"Ibu pulang dulu."
Tanta Mery menganggukkan kepala. "Hati-hati di jalan, Ibu!"
Nenek Esi kemudian berlalu meninggalkan halaman rumah Tanta Mery menuju jalan raya. Dia menunggu Om Dorus di sebuah warung makan dekat jalan raya utama karena tak ingin sang menantu lelaki mengetahui kembalinya Tanta Mery, sang menantu perempuan.
***
Embusan bayu sesekali menerbangkan helaian rambut panjang Mariana yang menjuntai menutupi wajahnya, ketika gadis itu tunduk memungut cangkang siput yang bertebaran di pesisir pantai.
Dia duduk beristirahat sejenak di atas pasir setelah lelah berjalan. Cangkang siput yang sudah penuh dalam kantong plastik, diletakkan di sebelahnya. Kedua belah tangan diletakkan di belakang sebagai penyangga, guna menopang berat badannya. Sambil duduk selonjor, sesekali ujung jari kaki kanannya menguis-nguis pasir apabila ditekuk.
"Agaknya Nenek bisa bawa ibu balik atau tidak?" gumamnya pada diri sendiri.
Kerinduan yang bermukim dalam anak mata Andreas, senantiasa menjelma dalam pikirannya. Dia kasihankan lelaki itu. Tak sangka kehidupan suaminya, terutama masa kecil lelaki itu tak sebahagia dirinya. Dia beruntung memiliki orang tua dan adik yang sangat menyayangi dirinya walaupun sang ayah tidak lagi memijak bumi Tuhan ini. Namun, rasa syukur senantiasa dia panjatkan kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Di tengah lamunannya tentang Andreas, terdengar bunyi petikan gitar dari kejauhan mengalun merdu menampar gendang telinganya. Lagu "Mungkinkah" mengalun di udara. Entah siapa yang menyanyikannya, suara orang itu begitu merdu didengar. Mariana memejamkan mata, menghayati kata demi kata.
__ADS_1
Tetes air mata basahi pipiku
Di saat kita kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku
Takkan kulupakan dirimu
"Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang." Bibir Mariana turut bergerak. Spontan saja dia bernyanyi.
"Mungkinkan kita kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Tuk melepaskan semua kerinduanku oh."
Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Kenangan tentang Daniel menjelma tanpa dipinta. Hatinya kian sayu. Walaupun sedaya upaya dia coba melupakan pria itu, tetapi kenangan tentangnya tak dapat terhapus oleh waktu. Ia tetap tersimpan kemas dalam sanubarinya. Petikan gitar masih terdengar mendendangkan lagu yang selalu Daniel nyanyikan untuk Mariana ketika mereka berkencan di tepi pantai. Gadis itu kembali bernyanyi.
"Lambaian tanganmu iringi langkahku
Terbersit tanya di hatiku
Akankah dirimu kan tetap milikku
Saat kembali di pelukanku
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
__ADS_1
Aku akan datang
Mungkinkan (mungkinkah)
Kita kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan (biarkan)
Kupeluk erat bayangmu
Tuk melepaskan semua kerinduanku
Kau kusayang
Selalu kujaga
Takkan kulepas selamanya
Hilangkanlah
Keraguanmu pada diriku
Di saat kujauh darimu."
Mariana mengesat air mata yang masih mengalir walaupun sudah berkali-kali dia coba mengeringkan bulir bening itu. Dia tidak ingin menangisi kenangan lalu, tetapi setiap kali terkenangkan Daniel, hatinya dipagut rasa pilu. Terlalu banyak kenangan pahit dan manis tentang mereka berdua. Terlalu banyak pengorbanan mereka untuk bisa bersama, tetapi jodoh mereka tak pernah sampai. Daniel bukan untuknya. Selamanya bukan untuknya.
Sekarang dia sudah memiliki seseorang yang dipercayakan kepadanya untuk dimiliki. Dia akan mempertahankannya walaupun perlu menentang badai dan gelombang yang datang menghadang. Mempertahankan bahtera yang telah dia bina walaupun mungkin itu akan menyakiti hati insan lain.
Mariana berdiri, membersihkan sisa pasir yang melekat pada pakaiannya, lalu mengambil barang-barang. Langkah kaki kembali berayun menyusuri pantai menuju jalan raya. Sesekali memungut cangkang siput yang bertebaran di atas pasir. Setelah merasa cukup, dia kemudian meninggalkan tempat itu. Meninggalkan kenangan tentang Daniel, membawa bersama keteguhan hati untuk tetap mempertahankan si Tuan Perjaka di sisinya.
__ADS_1